Rendahnya Akhlak Politik

Dalam konteks pragmatisme politik, apalagi menggunakan kacamata kaum Machiavelis, merebut kekuasaan itu apapun caranya sah-sah saja. Namun, dari sisi moral serta etika politik, cara merebut atau memperebutkan kekuasaan itu menjadi tolok ukur peradaban. Maksudnya?

Semakin mengabaikan cara-cara yang bersih dan santun maka tanda rendahnya kualitas peradaban sebuah tatanan masyarakat. Perbiadaban serta kebiadaban menjadi warna yang menghiasi kehidupan di setiap peralihan kekuasaan. Nggak ada akhlak, begitu ungkapan anak-anak zaman now.

Sebaliknya, semakin menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah mufakat, dialog, sinergi dan kolaborasi dalam tradisi kepemimpinan dan menentukan siapa pemimpin maka ciri luhurnya level peradaban. Akhlak menjadi basis moral kekuasaan. Inilah yang sejatinya menjadi landasan etika politik bangsa ini.

Kita tidak mau menyaksikan kesemena-menaan dalam praktek perebutan maupun dalam manajemen kepemimpinan. Dalam ungkapan yang masyhur, Presiden Soeharto sering menyampaikan prinsip etika politiknya, mikul duwur mendem jero. Ini sungguh dalam sekali.

Relasi orang tua anak dalam berpolitik mesti selalu jadi konsideran. Jangan sampai terjadi relasi malin kundang dalam tata kelola politik. Karena akan dendam turun temurun karena karma politik.

Kita baru saja menyaksikan potret rendahnya akhlak politik elit republik ini. Dalam konteks perebutan partai sejatinya menganut prinsip moral kesantunan. Namun karena besarnya syahwat politik maka banyak hal yang diabaikan.

Kita sedang menunggu akhir kisah perang antara letkol sama jenderal. Semoga ujung yang indah. Kedua kubu bertemu di jalur indah persaudaran dalam ikatan kebangsaan.

]]> Dalam konteks pragmatisme politik, apalagi menggunakan kacamata kaum Machiavelis, merebut kekuasaan itu apapun caranya sah-sah saja. Namun, dari sisi moral serta etika politik, cara merebut atau memperebutkan kekuasaan itu menjadi tolok ukur peradaban. Maksudnya?

Semakin mengabaikan cara-cara yang bersih dan santun maka tanda rendahnya kualitas peradaban sebuah tatanan masyarakat. Perbiadaban serta kebiadaban menjadi warna yang menghiasi kehidupan di setiap peralihan kekuasaan. Nggak ada akhlak, begitu ungkapan anak-anak zaman now.

Sebaliknya, semakin menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah mufakat, dialog, sinergi dan kolaborasi dalam tradisi kepemimpinan dan menentukan siapa pemimpin maka ciri luhurnya level peradaban. Akhlak menjadi basis moral kekuasaan. Inilah yang sejatinya menjadi landasan etika politik bangsa ini.

Kita tidak mau menyaksikan kesemena-menaan dalam praktek perebutan maupun dalam manajemen kepemimpinan. Dalam ungkapan yang masyhur, Presiden Soeharto sering menyampaikan prinsip etika politiknya, mikul duwur mendem jero. Ini sungguh dalam sekali.

Relasi orang tua anak dalam berpolitik mesti selalu jadi konsideran. Jangan sampai terjadi relasi malin kundang dalam tata kelola politik. Karena akan dendam turun temurun karena karma politik.

Kita baru saja menyaksikan potret rendahnya akhlak politik elit republik ini. Dalam konteks perebutan partai sejatinya menganut prinsip moral kesantunan. Namun karena besarnya syahwat politik maka banyak hal yang diabaikan.

Kita sedang menunggu akhir kisah perang antara letkol sama jenderal. Semoga ujung yang indah. Kedua kubu bertemu di jalur indah persaudaran dalam ikatan kebangsaan.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories