Renang Boleh, Yang Nggak Boleh Kumpul-Kumpulnya

Di masa pandemi Covid-19 ini, banyak orang yang takut berenang. air kolam renang dikhawatirkan menjadi media penularan virus Corona.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dr Reisa Brotoasmoro menyatakan, olahraga renang boleh saja dilakukan. Asal, kolam renangnya sudah disesuaikan dengan standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dalam panduan itu diatur berapa tingkat asam atau basa, yang biasa disebut PH, pada airnya. Juga, kadar klorinnya. “Kalau ngikutin panduan, di dalam kolamnya baik-baik aja. Itu kumannya, bakteri, virusnya nggak hidup di situ. Dia akan mati,” ujar Reisa dalam talk show RMCo.id dengan tema “Hindari klaster keluarga, Disiplin 3 M, Yuk!”.

Meski air kolam aman, tapi tetap ada potensi penularan di lingkungan sekitar kolam. Misalnya, ruang ganti, ruang bilas dan terutama, pinggir kolam renang. Di sana, orang-orang kerap berkumpul sambil berbincang-bincang.

Kalau seseorang bisa memastikan tidak ada interaksi selama berenang dan langsung pulang setelah selesai, Reisa menilai, kondisi akan amanaman saja. “Yang jadi tingkat risiko bukan di dalam kolamnya. kolamnya nggak ada masalah, tapi lingkungan sekitarnya dan kegiatan orang-orang ini loh,” tuturnya.

 

Kalau pun terpaksa berinteraksi, dokter lulusan Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) ini menyarankan menggunakan masker. Sebab, penularan Covid-19 terjadi melalui droplet. Sebelum jatuh karena tertarik gravitasi, droplet ini berada di udara. Bisa saja terhisap orang lain.

“Yang penting, ketika interaksi, setiap orang harus membatasi dan melindungi dirinya,” tegas Reisa.

Begitu pun dengan bersepeda. Reisa bilang, tak masalah kegiatan itu dilakukan jika tetap memakai masker. Masalahnya, sesudah gowes, orang-orang kerap kumpul-kumpul, makan bareng. “Kalau makan nggak mungkin pakai masker ya. Terus ngobrol. Olahraganya sih sudah terproteksi, tapi pas makan dan kumpulnya, lepas proteksinya,” sesal ibu dua anak itu.

Reisa mengungkapkan, pada masa pandemi, olahraga memang disarankan agar imunitas tubuh naik. Meski begitu, World Health organization (WHO) menyarankan olahraga dilakukan dengan intensitas ringan sampai sedang. Sebab, jika dilakukan dengan intensitas berat, tubuh perlu waktu yang lebih lama untuk kembali fit seperti semula.

WHO juga menyarankan, olahraga lebih baik dilakukan di rumah saja. Cukup lakukan selama 15 sampai 20 menit. Tanpa alat pun, bisa. Misalnya, mengikuti panduan gerakan-gerakan yang ada di YouTube, atau dari media sosial lain.

Reisa memaklumi, banyak orang yang bosan berolahraga di rumah. Mereka ingin mencari udara segar di tempat terbuka. Misalnya, taman. Yang jadi masalah, ini dalam situasi pandemi. Angka penularan Corona pun tengah tinggi.

Reisa kembali mengingatkan, jika ingin berolahraga di luar, pastikan tetap menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, di kota-kota yang termasuk zona merah, seperti Jakarta. [JAR]

]]> Di masa pandemi Covid-19 ini, banyak orang yang takut berenang. air kolam renang dikhawatirkan menjadi media penularan virus Corona.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dr Reisa Brotoasmoro menyatakan, olahraga renang boleh saja dilakukan. Asal, kolam renangnya sudah disesuaikan dengan standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dalam panduan itu diatur berapa tingkat asam atau basa, yang biasa disebut PH, pada airnya. Juga, kadar klorinnya. “Kalau ngikutin panduan, di dalam kolamnya baik-baik aja. Itu kumannya, bakteri, virusnya nggak hidup di situ. Dia akan mati,” ujar Reisa dalam talk show RMCo.id dengan tema “Hindari klaster keluarga, Disiplin 3 M, Yuk!”.

Meski air kolam aman, tapi tetap ada potensi penularan di lingkungan sekitar kolam. Misalnya, ruang ganti, ruang bilas dan terutama, pinggir kolam renang. Di sana, orang-orang kerap berkumpul sambil berbincang-bincang.

Kalau seseorang bisa memastikan tidak ada interaksi selama berenang dan langsung pulang setelah selesai, Reisa menilai, kondisi akan amanaman saja. “Yang jadi tingkat risiko bukan di dalam kolamnya. kolamnya nggak ada masalah, tapi lingkungan sekitarnya dan kegiatan orang-orang ini loh,” tuturnya.

 

Kalau pun terpaksa berinteraksi, dokter lulusan Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) ini menyarankan menggunakan masker. Sebab, penularan Covid-19 terjadi melalui droplet. Sebelum jatuh karena tertarik gravitasi, droplet ini berada di udara. Bisa saja terhisap orang lain.

“Yang penting, ketika interaksi, setiap orang harus membatasi dan melindungi dirinya,” tegas Reisa.

Begitu pun dengan bersepeda. Reisa bilang, tak masalah kegiatan itu dilakukan jika tetap memakai masker. Masalahnya, sesudah gowes, orang-orang kerap kumpul-kumpul, makan bareng. “Kalau makan nggak mungkin pakai masker ya. Terus ngobrol. Olahraganya sih sudah terproteksi, tapi pas makan dan kumpulnya, lepas proteksinya,” sesal ibu dua anak itu.

Reisa mengungkapkan, pada masa pandemi, olahraga memang disarankan agar imunitas tubuh naik. Meski begitu, World Health organization (WHO) menyarankan olahraga dilakukan dengan intensitas ringan sampai sedang. Sebab, jika dilakukan dengan intensitas berat, tubuh perlu waktu yang lebih lama untuk kembali fit seperti semula.

WHO juga menyarankan, olahraga lebih baik dilakukan di rumah saja. Cukup lakukan selama 15 sampai 20 menit. Tanpa alat pun, bisa. Misalnya, mengikuti panduan gerakan-gerakan yang ada di YouTube, atau dari media sosial lain.

Reisa memaklumi, banyak orang yang bosan berolahraga di rumah. Mereka ingin mencari udara segar di tempat terbuka. Misalnya, taman. Yang jadi masalah, ini dalam situasi pandemi. Angka penularan Corona pun tengah tinggi.

Reisa kembali mengingatkan, jika ingin berolahraga di luar, pastikan tetap menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, di kota-kota yang termasuk zona merah, seperti Jakarta. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RMCO.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories

Generated by Feedzy