Rektor IIQ Wafat, Wapres: Prof Huzaemah Ulama Perempuan Kharismatik

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin turut berduka cita atas wafatnya Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Prof Huzaemah Tahido Yanggo. Kiai Ma’ruf kemudian mengenang kiprah Prof Huzaemah. 

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya turut berduka cita atas wafatnya seorang ulama perempuan yang kharismatik, Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo,” tulis Wapres di akun Twitter @Kiyai_MarufAmin, Jumat (23/7).

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini lalu memuji sosok Prof Huzaemah. “Bagi saya, almarhumah adalah orang baik. Beliau sosok ulama perempuan yang juga pakar fiqih perbandingan mazhab yang andal,” imbuhnya.

Di cuitan berikutnya, Kiai Ma’ruf mendoakan Prof Huzaemah. “Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diterima amal ibadahnya, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan,” tutupnya.

Prof Huzaemah meninggal dunia di RSUD Serang, Banten, Jumat (23/7) sekitar pukul 06.10 WIB. Ketua Bidang Fatwa MUI periode 2015-2020 itu meninggal setelah terpapar Covid-19. 

“Di hari Jumat yang penuh barokah ini, Allah SWT memanggil kembali kehadirat-Nya, guru kami tercinta almarhumah Ibunda Prof Dr Huzaimah Tahido Yanggo, MA. Beliau wafat di RSUD Banten, Jumat pagi, setelah terkena Covid-19. Indonesia berduka,” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam, dalam keterangan tertulis, Jumat (23/7).

Huzaemah meninggal dunia pada usia 74 tahun setelah sebelumnya berjuang melawan Covid-19. Sejak Jumat pekan lalu, sudah banyak pesan berisi ajakan untuk mendoakan Prof Huzaemah yang tengah terbaring sakit.

Almarhumah merupakan perempuan pertama di Indonesia yang berhasil lulus program doktor (S3) Universitas Al-Azhar, Mesir, dengan predikat cumlaude. Prof Huzaemah membuktikan diri sebagai sosok perempuan hebat. Bukan sekadar karena keterwakilannya sebagai perempuan, namun karena kualitas, usaha, giat, dan kecerdasannya.

“Beliau adalah sosok ilmuwan wanita yang langka. Guru besar di bidang fiqih perbandingan. Aktif mengajar dan mendedikasikan ilmunya di berbagai tempat perkhidmatan. Pernah menjadi pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta dan posisi hingga sekarang sebagai Rektor IIQ Jakarta,” jelas Asrorun Niam. [USU]

]]> Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin turut berduka cita atas wafatnya Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Prof Huzaemah Tahido Yanggo. Kiai Ma’ruf kemudian mengenang kiprah Prof Huzaemah. 

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya turut berduka cita atas wafatnya seorang ulama perempuan yang kharismatik, Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo,” tulis Wapres di akun Twitter @Kiyai_MarufAmin, Jumat (23/7).

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini lalu memuji sosok Prof Huzaemah. “Bagi saya, almarhumah adalah orang baik. Beliau sosok ulama perempuan yang juga pakar fiqih perbandingan mazhab yang andal,” imbuhnya.

Di cuitan berikutnya, Kiai Ma’ruf mendoakan Prof Huzaemah. “Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diterima amal ibadahnya, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan,” tutupnya.

Prof Huzaemah meninggal dunia di RSUD Serang, Banten, Jumat (23/7) sekitar pukul 06.10 WIB. Ketua Bidang Fatwa MUI periode 2015-2020 itu meninggal setelah terpapar Covid-19. 

“Di hari Jumat yang penuh barokah ini, Allah SWT memanggil kembali kehadirat-Nya, guru kami tercinta almarhumah Ibunda Prof Dr Huzaimah Tahido Yanggo, MA. Beliau wafat di RSUD Banten, Jumat pagi, setelah terkena Covid-19. Indonesia berduka,” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam, dalam keterangan tertulis, Jumat (23/7).

Huzaemah meninggal dunia pada usia 74 tahun setelah sebelumnya berjuang melawan Covid-19. Sejak Jumat pekan lalu, sudah banyak pesan berisi ajakan untuk mendoakan Prof Huzaemah yang tengah terbaring sakit.

Almarhumah merupakan perempuan pertama di Indonesia yang berhasil lulus program doktor (S3) Universitas Al-Azhar, Mesir, dengan predikat cumlaude. Prof Huzaemah membuktikan diri sebagai sosok perempuan hebat. Bukan sekadar karena keterwakilannya sebagai perempuan, namun karena kualitas, usaha, giat, dan kecerdasannya.

“Beliau adalah sosok ilmuwan wanita yang langka. Guru besar di bidang fiqih perbandingan. Aktif mengajar dan mendedikasikan ilmunya di berbagai tempat perkhidmatan. Pernah menjadi pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta dan posisi hingga sekarang sebagai Rektor IIQ Jakarta,” jelas Asrorun Niam. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories