Rektor Esa Unggul: Kampus Dituntut Hasilkan Lulusan Berjiwa Entrepreneurship

Perguruan tinggi harus berperan dalam meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia. Output dari perguruan tinggi jangan hanya diisi lulusan yang mencari pekerjaan, tapi juga sarjana-sarjana yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Esa Unggul, Arief Kusuma Among Praja, dalam acara Seminar Nasional & Call for Papers, Rabu (17/3). Acara bertema “Pemanfaatan Teknologi Informasi pada Era ‘New Normal’ dalam Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi Untuk Mendukung Enterpreneurship Berbasis Evidence di Lingkungan Perguruan Tinggi” ini digelar secara virtual Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Esa Unggul.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 600 orang dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini, Arief menjelaskan, jumlah wirusahawan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Saat ini, jumlah wirausahawan di Indonesia hanya sekitar 3,5 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah tersebut masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, seperti Malaysia yang mencapai 5 persen, Thailand 5,1 persen, Singapura 7,2 persen, China 10 persen, Jepang 11 persen, dan Amerika 12 persen.

“Dari data tersebut dapat kita lihat, bahwa negara-negara yang memiliki jumlah wirausahawan tinggi itu memang negara-negara maju. Jadi, memang ada korelasi antara jumlah wirausahawan dengan kemajuan suatu negara. Untuk itu, kita perlu segera menyusul mereka,” urainya.

Menurut Arief, masih tertinggalnya jumlah wirausahawan di Indonesia juga dapat dilihat pada data Global Entrepreneurship Index 2018. Dari 137 negara di dunia, Indonesia berada pada peringkat 94, di bawah Singapura yang berada pada posisi 27, Vietnam 87, Malaysia 58. “Padahal wirausahawan itu penting dalam menyokong perekonomian nasional. Mulai dari menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa, sampai mengurangi kesenjangan ekonomi. Bahkan, tercipta masyarakat adil dan makmur. Mudah-mudahan dengan semakin banyak wirausahawan di Indonesia, maka kita akan semakin mengarah ke kondisi tersebut,” harapnya.

Arief berharap, melalui acara ini, para ilmuwan yang berkompeten di bidangnya dapat memberikan masukan dalam rangka meningkatkan jumlah wirausahawan, atau orang-orang kreatif yang ada di Indonesia. “Terutama dari kalangan pemuda dan mahasiswa yang memang dibutuhkan oleh Indonesia untuk menjadi negara yang lebih maju,” tandasnya.

Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Budaya (Kemdikbud), Nizam, yang memberi sambutan acara, menegaskan, perguruan tinggi telah beradaptasi dengan cepat terhadap kondisi pandemi Covid-19. Perguruan tinggi juga telah memobilisasi mahasiswanya untuk membantu mengatasi Covid-19.

Kemdikbud juga telah memobilisasi dan mempromosikan kampus-kampus di Indonesia agar melakukan riset-riset terapan untuk mengatasi pandemi Covid 19. “Kita telah membentuk konsorsium perguruan tinggi untuk melakukan riset Covid-19,” imbuhnya.

Ketua Pelaksana Seminar Nasional & Call for Papers, Rian Adi Pamungkas, mengungkapkan, pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kemampuan dosen dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Acara ini juga ditujukan untuk mendukung entrepreneurship berbasis evidence di lingkungan perguruan tinggi. Selain itu tujuan dari kegiatan ini untuk mendukung tercapainya visi dan misi menjadikan lulusan Universitas Esa Unggul yang terfokus pada Entrepreneurship,” tegasnya. [WUR]

]]> Perguruan tinggi harus berperan dalam meningkatkan jumlah wirausahawan di Indonesia. Output dari perguruan tinggi jangan hanya diisi lulusan yang mencari pekerjaan, tapi juga sarjana-sarjana yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Esa Unggul, Arief Kusuma Among Praja, dalam acara Seminar Nasional & Call for Papers, Rabu (17/3). Acara bertema “Pemanfaatan Teknologi Informasi pada Era ‘New Normal’ dalam Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi Untuk Mendukung Enterpreneurship Berbasis Evidence di Lingkungan Perguruan Tinggi” ini digelar secara virtual Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Esa Unggul.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 600 orang dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ini, Arief menjelaskan, jumlah wirusahawan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Saat ini, jumlah wirausahawan di Indonesia hanya sekitar 3,5 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah tersebut masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, seperti Malaysia yang mencapai 5 persen, Thailand 5,1 persen, Singapura 7,2 persen, China 10 persen, Jepang 11 persen, dan Amerika 12 persen.

“Dari data tersebut dapat kita lihat, bahwa negara-negara yang memiliki jumlah wirausahawan tinggi itu memang negara-negara maju. Jadi, memang ada korelasi antara jumlah wirausahawan dengan kemajuan suatu negara. Untuk itu, kita perlu segera menyusul mereka,” urainya.

Menurut Arief, masih tertinggalnya jumlah wirausahawan di Indonesia juga dapat dilihat pada data Global Entrepreneurship Index 2018. Dari 137 negara di dunia, Indonesia berada pada peringkat 94, di bawah Singapura yang berada pada posisi 27, Vietnam 87, Malaysia 58. “Padahal wirausahawan itu penting dalam menyokong perekonomian nasional. Mulai dari menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa, sampai mengurangi kesenjangan ekonomi. Bahkan, tercipta masyarakat adil dan makmur. Mudah-mudahan dengan semakin banyak wirausahawan di Indonesia, maka kita akan semakin mengarah ke kondisi tersebut,” harapnya.

Arief berharap, melalui acara ini, para ilmuwan yang berkompeten di bidangnya dapat memberikan masukan dalam rangka meningkatkan jumlah wirausahawan, atau orang-orang kreatif yang ada di Indonesia. “Terutama dari kalangan pemuda dan mahasiswa yang memang dibutuhkan oleh Indonesia untuk menjadi negara yang lebih maju,” tandasnya.

Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Budaya (Kemdikbud), Nizam, yang memberi sambutan acara, menegaskan, perguruan tinggi telah beradaptasi dengan cepat terhadap kondisi pandemi Covid-19. Perguruan tinggi juga telah memobilisasi mahasiswanya untuk membantu mengatasi Covid-19.

Kemdikbud juga telah memobilisasi dan mempromosikan kampus-kampus di Indonesia agar melakukan riset-riset terapan untuk mengatasi pandemi Covid 19. “Kita telah membentuk konsorsium perguruan tinggi untuk melakukan riset Covid-19,” imbuhnya.

Ketua Pelaksana Seminar Nasional & Call for Papers, Rian Adi Pamungkas, mengungkapkan, pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kemampuan dosen dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi dari penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Acara ini juga ditujukan untuk mendukung entrepreneurship berbasis evidence di lingkungan perguruan tinggi. Selain itu tujuan dari kegiatan ini untuk mendukung tercapainya visi dan misi menjadikan lulusan Universitas Esa Unggul yang terfokus pada Entrepreneurship,” tegasnya. [WUR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories