Ramai-ramai Capres Bidik UMKM Pengamat Prediksi, AHY Sulit Dapat Porsi

Fenomena capres potensial membidik lapak UMKM, kini makin marak.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tergolong sukses dalam urusan ini. Lewat akun Instagramnya yang kini memiliki 4,4 juta follower, Ganjar mempromosikan produk-produk UMKM milik pelaku usaha yang ingin barangnya dipromosikan, sejak pertengahan 2020.

UMKM yang dipromosikannya, kini tak hanya melingkupi Jawa Tengah, tetapi juga Jawa Barat dan Bali.

Bahkan sekarang, Ganjar juga punya akun Instagram @lapakganjar, yang didedikasikan khusus untuk meng-endorse produk UMKM. Akun tersebut kini diikuti 21 ribu follower.

Di Jakarta, Gubernur DKI Anies Baswedan juga mempromosikan UMKM lewat Jakpreneur, yang dulunya bernama OK-OCE (One Kecamatan One Center for Entrepreneurship).

OK-OCE kondang, Anies Baswedan-Sandiaga Uno kampanye Pilkada DKI 2017.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga mengambil langkah serupa. Dia menyiapkan strategi untuk membantu meningkatkan bisnis di level UMKM, yang sempat anjlok selama pandemi Covid-19. Caranya, dengan memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk bekerja sama dengannya dan mendesain tiap produk UMKM-nya.

Jurus jitu tersebut muncul saat dia mengunggah salah satu produk UMKM jenis sepatu buatan pelaku usaha asal Bandung Exodos57.

Ternyata, unggahan tersebut berdampak positif terhadap penjualan produk. Banyak yang antusias sehingga menambah pemasukan produk tersebut.

Begitu juga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Sandi yang membawahi pelaku industri kreatif, tergolong rajin mempromosikan dagangan UMKM di tempat-tempat pariwisata. 

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tak mau ketinggalan. Melalui akun Instagram-nya, pada Jumat (17/2) lalu, AHY menyatakan siap mempromosikan produk UMKM, dengan me-repost produk-produk terpilih di akun Instagram @agusyudhoyono.

Melihat fenomena ini, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah beranggapan, semua orientasi bantuan politisi terhadap UMKM, bisa dipastikan bertujuan untuk tujuan simpati politis. Yang berujung pada popularitas dan elektabilitas.

Namun, Dedi meminta politisi tak berharap banyak dari kelompok UMKM. Karena kelompok ini, menurutnya, terbilang paling sulit diajak untuk urusan dukung- mendukung jabatan politis.

“UMKM cenderung bersifat mandiri, sehingga tidak ada koordinasi yang diarahkan untuk loyal pada kepentingan politik tertentu,” ungkap Dedi kepada RM.id, Minggu (20/2).

“Ditambah lagi, banyak politisi yang secara serius dan lebih relevan mengejar target pelaku UMKM. Semisal politisi Perindo Hary Tanoesoedibjo, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Sepertinya, AHY akan kesulitan mendapat porsi,” ujarnya.

 

Pengamat Politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut situasi persuasi pada UMKM atau kelompok sipil lainnya, akan semakin ramai menjelang Pemilu.

Namun sejauh ini, belum ada parpol yang secara konsisten menjaga loyalitas publik dengan program jangka panjang.

“UMKM cenderung sulit terdeteksi pilihan politiknya. Terlihat besar, tapi tersebar. Sehingga, kurang efektif jika tidak dengan tindakan yang benar-benar berdampak. Terlebih, dalam catatan IPO, upaya promosi produk UMKM jauh-jauh hari sudah dilakukan oleh politisi-politisi di daerah. Banyak istri-istri kepala daerah yang lebih dulu melakukan,” jelas Dedi. [UMM]

]]> Fenomena capres potensial membidik lapak UMKM, kini makin marak.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tergolong sukses dalam urusan ini. Lewat akun Instagramnya yang kini memiliki 4,4 juta follower, Ganjar mempromosikan produk-produk UMKM milik pelaku usaha yang ingin barangnya dipromosikan, sejak pertengahan 2020.

UMKM yang dipromosikannya, kini tak hanya melingkupi Jawa Tengah, tetapi juga Jawa Barat dan Bali.

Bahkan sekarang, Ganjar juga punya akun Instagram @lapakganjar, yang didedikasikan khusus untuk meng-endorse produk UMKM. Akun tersebut kini diikuti 21 ribu follower.

Di Jakarta, Gubernur DKI Anies Baswedan juga mempromosikan UMKM lewat Jakpreneur, yang dulunya bernama OK-OCE (One Kecamatan One Center for Entrepreneurship).

OK-OCE kondang, Anies Baswedan-Sandiaga Uno kampanye Pilkada DKI 2017.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga mengambil langkah serupa. Dia menyiapkan strategi untuk membantu meningkatkan bisnis di level UMKM, yang sempat anjlok selama pandemi Covid-19. Caranya, dengan memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk bekerja sama dengannya dan mendesain tiap produk UMKM-nya.

Jurus jitu tersebut muncul saat dia mengunggah salah satu produk UMKM jenis sepatu buatan pelaku usaha asal Bandung Exodos57.

Ternyata, unggahan tersebut berdampak positif terhadap penjualan produk. Banyak yang antusias sehingga menambah pemasukan produk tersebut.

Begitu juga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Sandi yang membawahi pelaku industri kreatif, tergolong rajin mempromosikan dagangan UMKM di tempat-tempat pariwisata. 

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tak mau ketinggalan. Melalui akun Instagram-nya, pada Jumat (17/2) lalu, AHY menyatakan siap mempromosikan produk UMKM, dengan me-repost produk-produk terpilih di akun Instagram @agusyudhoyono.

Melihat fenomena ini, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah beranggapan, semua orientasi bantuan politisi terhadap UMKM, bisa dipastikan bertujuan untuk tujuan simpati politis. Yang berujung pada popularitas dan elektabilitas.

Namun, Dedi meminta politisi tak berharap banyak dari kelompok UMKM. Karena kelompok ini, menurutnya, terbilang paling sulit diajak untuk urusan dukung- mendukung jabatan politis.

“UMKM cenderung bersifat mandiri, sehingga tidak ada koordinasi yang diarahkan untuk loyal pada kepentingan politik tertentu,” ungkap Dedi kepada RM.id, Minggu (20/2).

“Ditambah lagi, banyak politisi yang secara serius dan lebih relevan mengejar target pelaku UMKM. Semisal politisi Perindo Hary Tanoesoedibjo, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Sepertinya, AHY akan kesulitan mendapat porsi,” ujarnya.

 

Pengamat Politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut situasi persuasi pada UMKM atau kelompok sipil lainnya, akan semakin ramai menjelang Pemilu.

Namun sejauh ini, belum ada parpol yang secara konsisten menjaga loyalitas publik dengan program jangka panjang.

“UMKM cenderung sulit terdeteksi pilihan politiknya. Terlihat besar, tapi tersebar. Sehingga, kurang efektif jika tidak dengan tindakan yang benar-benar berdampak. Terlebih, dalam catatan IPO, upaya promosi produk UMKM jauh-jauh hari sudah dilakukan oleh politisi-politisi di daerah. Banyak istri-istri kepala daerah yang lebih dulu melakukan,” jelas Dedi. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories