Rakyat Patungan Beli Kapal Selam Prabowo Tak Tersinggung .

Gerakan penggalangan dana untuk membeli kapal selam muncul setelah KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam di perairan Bali. Antusiasme rakyat ikutan patungan ternyata lumayan tinggi. Pihak Kementerian Pertahanan yang dipimpin Prabowo Subianto pun, tak tersinggung dengan gerakan ini.

Baru sehari dibuka, dana yang terkumpul mencapai Rp 300 juta lebih. Aksi menggalang donasi ini pertama kali digagas oleh Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir menceritakan, awalnya jemaah dan anak-anak masjid berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk warga sekitar pada hari Minggu. Aksi itu sebagai bentuk kecintaan kepada Tanah Air dan pertahanan.

Ajakan patungan membeli kapal selam terdengar makin nyaring setelah pendakwah Ustaz Abdul Somad (UAS) ikut mendukung aksi tersebut. Melalui akun media sosialnya @ustadzabdulsomadofficial, ia mengajak masyarakat ikut patungan untuk membeli kapal selam baru pengganti Nanggala-402 yang karam, Minggu (25/4) lalu. Ustaz asal Riau ini pun mengunggah foto kapal selam Nanggala-402.

Gerakan patungan ini mendapat respons positif. Banyak orang yang menelpon dan ingin ikut berpartisipasi. Akhirnya, sesuai saran para donatur, Masjid membuka rekening dan mengunggah poster ajakan patungan itu di media sosial.

“Kita publish kemarin, pagi ini (kemarin) sudah terkumpul Rp 300 juta,” cerita Jazir, saat dikontak, kemarin.

Sebagian dari sumbangan itu sudah diserahkan kepada Komandan Pangkalan Laut (Danlanal) Yogyakarta, Letkol Laut Damayanti yang hadir dalam acara buka dan doa bersama, serta Sholat Ghaib untuk korban KRI Nanggala-402 di Masjid Jogokariyan, Senin (26/3).

Donasi yang diberikan sejumlah Rp 21 juta. Rinciannya, 15 juta untuk keluarga kru dan Rp 6 jutaan untuk kapal selam.

Anggota Komisi I DPR, Al Muzzammil Yusuf menilai, aksi ajakan patungan itu sebagai bentuk kepedulian rakyat terhadap pertahanan negara. Menurut politisi PKS ini, aksi patungan itu tak mungkin terealisasi. Karena harga kapal selam relatif mahal. Karena itu, ajakan itu bisa dimaknai sebagai sindiran untuk pemerintah agar melakukan peremajaan alutsista.

Soal pembelian alutsista, lanjut dia, pemerintah dan DPR harus segera duduk bersama untuk merumuskan persoalan ini. “Kita evaluasi, mana yang lebih prioritas. Misalnya, membangun ibu kota baru atau memperkuat armada laut dan industri kelautan Indonesia?” kata Al Muzzammil, kemarin.

Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel menyebut, tenggelamnya kapal selam Nanggala-402 menjadi momentum mengevaluasi alutsista TNI, khususnya TNI AL. “Indonesia butuh armada laut yang prima dalam berbagai jenisnya,” ujar politikus Partai Nasdem tersebut.

Bagaimana tanggapan Prabowo? Jubir Menhan Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut, Prabowo tak tersinggung dengan aksi patungan itu. Malah, pihaknya mengapresiasi dan menghormati semangat patriotisme yang ditebar oleh para tokoh Agama tersebut.

“Saat ini kita sangat berduka terkait gugurnya para prajurit terbaik kita, para kru KRI Nanggala-402, segala upaya ajakan untuk bersatu dan saling menolong, berempati dan simpati, patut terus disuarakan, sebagai anak bangsa kita harus saling menguatkan,” kata Dahnil, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Dalam aksi patungan ini, Dahnil menangkap pesan semangat patriotisme untuk bergotong royong dan bangkit bersama. “Itu yang paling penting. Dan, semangat itu positif tanpa perlu berburuk sangka dengan berbagai praduga,” ujarnya.

Bisakah beli kapal selam pakai duit patungan? Pengamat militer, Andi Widjayanto mengatakan, pembelian alutsista sudah diatur dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Dalam UU itu tegas diatur bahwa seluruh kebutuhan pertahanan dibiayai sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan aturan itu, tidak dimungkinkan ada sumber anggaran di luar APBN.

Soal aksi patungan, dia menilai aksi itu bagus saja sebagai bentuk solidaritas masyarakat untuk TNI. Karena untuk membeli kapal selam butuh uang yang banyak. Harga kapal selam saat ini sekitar 400 juta dolar AS atau sekira Rp 5,6 triliun.

Meskipun terkumpul dana sebesar itu, dia menegaskan, dana masyarakat tidak dapat digunakan untuk membeli kapal selam. “Jika tidak masuk ke APBN, tidak bisa digunakan TNI.” kata Andi, kemarin.

Dia menjelaskan, dalam Rencana Strategis Pembangunan Kekuatan Pertahanan 2024, pemerintah sudah berencana membeli kapal selam. Menurut dia, kapal selam yang dimiliki Indonesia saat ini terbilang sedikit. Idealnya, Indonesia memiliki 12-16 kapal selam untuk mengawal 4 skenario konflik di Selat Malaka, Laut Natuna, Laut Sulawesi, dan Laut Arafuru.

Saat ini, Indonesia sudah memiliki kerja sama pembangunan Kapal Selam dengan Korea Selatan. Total ada 6 yang direncanakan dibangun bersama, dan tiga sudah dioperasikan TNI AL (KRI 403, 404, 405) yang semuanya merupakan kolaborasi produksi antara PT PAL dan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), perusahaan asal Korea.

Senada disampaikan pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie. Kata dia, UU melarang TNI menerima bantuan apa pun selain dari APBN. Menurutnya, akan berbahaya jika TNI menerima bantuan selain dari negara. Sebab khawatir ada klaim tertentu terkait dengan bantuan.

“Setahu saya, tidak ada dunia ini boleh menerima bantuan privat kepada tentaranya. Tapi niatnya sangat bagus, harus diapresiasi, tetapi tidak didukung mekanisme,” kata Connie.

Lalu berapa jumlah kapal selam yang saat ini dimiliki Indonesia? Pasca tenggelamnya KRI Nanggala-402, jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia hanya sisa 4.

“Salah satunya, sejenis Nanggala. Namanya KRI Cakra, nomor lambungnya 401. Kemudian ada 3 lagi kapal baru, buatan Daewoo (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering) produksi Korea,” jelas Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Ahmadi Heri Purwono.

Namun, Heri menambahkan, kondisi KRI Cakra-401 saat ini sedang overhaul atau turun mesin. Sedangkan tiga kapal selam buatan Korea, yakni Alugoro-405, Ardadedali-404, dan Nagapasa-403, dalam kondisi siap tempur. [BCG]

]]> .
Gerakan penggalangan dana untuk membeli kapal selam muncul setelah KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam di perairan Bali. Antusiasme rakyat ikutan patungan ternyata lumayan tinggi. Pihak Kementerian Pertahanan yang dipimpin Prabowo Subianto pun, tak tersinggung dengan gerakan ini.

Baru sehari dibuka, dana yang terkumpul mencapai Rp 300 juta lebih. Aksi menggalang donasi ini pertama kali digagas oleh Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir menceritakan, awalnya jemaah dan anak-anak masjid berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk warga sekitar pada hari Minggu. Aksi itu sebagai bentuk kecintaan kepada Tanah Air dan pertahanan.

Ajakan patungan membeli kapal selam terdengar makin nyaring setelah pendakwah Ustaz Abdul Somad (UAS) ikut mendukung aksi tersebut. Melalui akun media sosialnya @ustadzabdulsomadofficial, ia mengajak masyarakat ikut patungan untuk membeli kapal selam baru pengganti Nanggala-402 yang karam, Minggu (25/4) lalu. Ustaz asal Riau ini pun mengunggah foto kapal selam Nanggala-402.

Gerakan patungan ini mendapat respons positif. Banyak orang yang menelpon dan ingin ikut berpartisipasi. Akhirnya, sesuai saran para donatur, Masjid membuka rekening dan mengunggah poster ajakan patungan itu di media sosial.

“Kita publish kemarin, pagi ini (kemarin) sudah terkumpul Rp 300 juta,” cerita Jazir, saat dikontak, kemarin.

Sebagian dari sumbangan itu sudah diserahkan kepada Komandan Pangkalan Laut (Danlanal) Yogyakarta, Letkol Laut Damayanti yang hadir dalam acara buka dan doa bersama, serta Sholat Ghaib untuk korban KRI Nanggala-402 di Masjid Jogokariyan, Senin (26/3).

Donasi yang diberikan sejumlah Rp 21 juta. Rinciannya, 15 juta untuk keluarga kru dan Rp 6 jutaan untuk kapal selam.

Anggota Komisi I DPR, Al Muzzammil Yusuf menilai, aksi ajakan patungan itu sebagai bentuk kepedulian rakyat terhadap pertahanan negara. Menurut politisi PKS ini, aksi patungan itu tak mungkin terealisasi. Karena harga kapal selam relatif mahal. Karena itu, ajakan itu bisa dimaknai sebagai sindiran untuk pemerintah agar melakukan peremajaan alutsista.

Soal pembelian alutsista, lanjut dia, pemerintah dan DPR harus segera duduk bersama untuk merumuskan persoalan ini. “Kita evaluasi, mana yang lebih prioritas. Misalnya, membangun ibu kota baru atau memperkuat armada laut dan industri kelautan Indonesia?” kata Al Muzzammil, kemarin.

Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel menyebut, tenggelamnya kapal selam Nanggala-402 menjadi momentum mengevaluasi alutsista TNI, khususnya TNI AL. “Indonesia butuh armada laut yang prima dalam berbagai jenisnya,” ujar politikus Partai Nasdem tersebut.

Bagaimana tanggapan Prabowo? Jubir Menhan Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut, Prabowo tak tersinggung dengan aksi patungan itu. Malah, pihaknya mengapresiasi dan menghormati semangat patriotisme yang ditebar oleh para tokoh Agama tersebut.

“Saat ini kita sangat berduka terkait gugurnya para prajurit terbaik kita, para kru KRI Nanggala-402, segala upaya ajakan untuk bersatu dan saling menolong, berempati dan simpati, patut terus disuarakan, sebagai anak bangsa kita harus saling menguatkan,” kata Dahnil, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Dalam aksi patungan ini, Dahnil menangkap pesan semangat patriotisme untuk bergotong royong dan bangkit bersama. “Itu yang paling penting. Dan, semangat itu positif tanpa perlu berburuk sangka dengan berbagai praduga,” ujarnya.

Bisakah beli kapal selam pakai duit patungan? Pengamat militer, Andi Widjayanto mengatakan, pembelian alutsista sudah diatur dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Dalam UU itu tegas diatur bahwa seluruh kebutuhan pertahanan dibiayai sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan aturan itu, tidak dimungkinkan ada sumber anggaran di luar APBN.

Soal aksi patungan, dia menilai aksi itu bagus saja sebagai bentuk solidaritas masyarakat untuk TNI. Karena untuk membeli kapal selam butuh uang yang banyak. Harga kapal selam saat ini sekitar 400 juta dolar AS atau sekira Rp 5,6 triliun.

Meskipun terkumpul dana sebesar itu, dia menegaskan, dana masyarakat tidak dapat digunakan untuk membeli kapal selam. “Jika tidak masuk ke APBN, tidak bisa digunakan TNI.” kata Andi, kemarin.

Dia menjelaskan, dalam Rencana Strategis Pembangunan Kekuatan Pertahanan 2024, pemerintah sudah berencana membeli kapal selam. Menurut dia, kapal selam yang dimiliki Indonesia saat ini terbilang sedikit. Idealnya, Indonesia memiliki 12-16 kapal selam untuk mengawal 4 skenario konflik di Selat Malaka, Laut Natuna, Laut Sulawesi, dan Laut Arafuru.

Saat ini, Indonesia sudah memiliki kerja sama pembangunan Kapal Selam dengan Korea Selatan. Total ada 6 yang direncanakan dibangun bersama, dan tiga sudah dioperasikan TNI AL (KRI 403, 404, 405) yang semuanya merupakan kolaborasi produksi antara PT PAL dan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), perusahaan asal Korea.

Senada disampaikan pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie. Kata dia, UU melarang TNI menerima bantuan apa pun selain dari APBN. Menurutnya, akan berbahaya jika TNI menerima bantuan selain dari negara. Sebab khawatir ada klaim tertentu terkait dengan bantuan.

“Setahu saya, tidak ada dunia ini boleh menerima bantuan privat kepada tentaranya. Tapi niatnya sangat bagus, harus diapresiasi, tetapi tidak didukung mekanisme,” kata Connie.

Lalu berapa jumlah kapal selam yang saat ini dimiliki Indonesia? Pasca tenggelamnya KRI Nanggala-402, jumlah kapal selam yang dimiliki Indonesia hanya sisa 4.

“Salah satunya, sejenis Nanggala. Namanya KRI Cakra, nomor lambungnya 401. Kemudian ada 3 lagi kapal baru, buatan Daewoo (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering) produksi Korea,” jelas Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Ahmadi Heri Purwono.

Namun, Heri menambahkan, kondisi KRI Cakra-401 saat ini sedang overhaul atau turun mesin. Sedangkan tiga kapal selam buatan Korea, yakni Alugoro-405, Ardadedali-404, dan Nagapasa-403, dalam kondisi siap tempur. [BCG]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories