Rakyat Lagi Susah, Bencana Di Mana-mana Syahwat Politik Kok Sulit Direm

Di awal-awal tahun 2022, para politisi semakin sibuk kasak-kusuk menyambut Pemilu 2024. Sementara rakyat kecil kelimpungan karena harus menghadapi ujian hidup yang begitu berat. Supaya dianggap peduli ke rakyat yang sedang kesusahan, sebaiknya para politisi mengerem dan tak mempertontonkan syahwat politiknya. Apakah bisa? Melihat fakta saat ini, rasanya tidak bisa.

Ada banyak kesulitan yang dihadapi rakyat begitu memasuki 2022. Selain dampak pandemi yang masih terasa, mereka juga kesulitan menghadapi kenaikan harga sembako yang dimulai sejak akhir tahun lalu.

Paling tidak ada empat komoditas yang harganya meroket yaitu, minyak goreng, telur ayam, cabai rawit, dan daging ayam. Kenaikan harga tersebut disebut-sebut lantaran momen Natal dan Tahun Baru. Namun, dua pekan setelah tahun baru, harga sejumlah sembako belum juga normal.

Harga komoditas yang belum juga turun adalah minyak goreng. Kemarin, harga minyak goreng masih di kisaran Rp19-21 ribu.

Selain karena harga sembako yang meroket, sebagian rakyat juga tengah kesulitan menghadapi rentetan bencana alam. Mulai dari gempa, tanah longsor dan banjir.

Sayangnya, berbagai kesulitan yang dihadapi rakyat ini sepertinya kurang jadi perhatian para politisi kita. Mereka terkesan lebih tanggap dan sigap dalam urusan menghadapi pemilu.

Tengok saja, dalam dua pekan terakhir, topik yang disodorkan kepada publik bukan perkara bagaimana menyelesaikan kesulitan rakyat. Tapi, riuhnya berbagai manuver untuk memuluskan jalan ke 2024. Misalnya, ada yang sibuk mainkan wacana menunda pilpres, Jokowi tiga periode, dan ribut soal syarat capres nol persen.

Tak cuma itu, para politisi juga mulai utak-atik koalisi di Pilpres 2024. Padahal, pilpresnya 3 tahunan lagi.

Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri misalnya, melemparkan wacana koalisi bertajuk nasionalis religius. Wacana itu disambut baik oleh Golkar dan Demokrat. Kedua partai itu mengaku tertarik dengan gagasan tersebut. Partai Demokrat ikut menyambut. Partai Gerindra, PKB dan PPP, sibuk menanggapi.

Kesibukan politisi juga terlihat di Pilkada DKI yang akan digelar 2024. Sejumlah parpol sudah memunculkan kader mereka sebagai kandidat calon gubernur. PDIP misalnya, memunculkan Menteri Sosial Tri Rismaharini atau Bu Risma, dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sementara Golkar menggadang-gadang eks Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. Sementara NasDem menyodorkan Ahmad Sahroni.

 

Melihat politisi yang sibuk urusi pemilu ini, warganet ikutan kesal. Akun @lantip ikutan jengah melihat tingkah politisi yang dianggapnya menyebalkan. Kata dia, saat ini sebaiknya para politisi itu ikutan fokus urus Omicron, beresin perusak kebhinnekaan, dan tangani bencana.

“Banyak urusan selain bab kursi dan perut kalian wahai politisi!” kicaunya. Akun @shdaagaatha ikutan menimpali. “Heran, politik mulu yang diurusin,” ucapnya.

Penulis asal Yogyakarta, Phutut EA ikutan jengan melihat tingkah politisi yang tampil di berbagai media. “Sudah bosan dengan semua gaya pencitraan para capres yang seolah peduli rakyat, makan di warung tenda, sok tahu milenial, dipotret saat sedang beribadah, saat bersama ‘rakyat’, padahal ra tau tuku rokok ro uyah,” ujarnya di akun @phutitea.

Akun @DuitTerooosss mengaku heran dengan para politisi yang sibuk berpolitik di tengah gempa. “Gempa nggak hentiin kalian buat perang politik, bahkan nggak cukup sehari. Baru beberapa jam trending twitter terbebas dari urusan politik, sekarang kalian mulai lagi,” ujarnya

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengungkap alasan kenapa tahun ini para politisi makin sibuk urusi dirinya, karena pertengahan tahun ini sudah masuk tahapan Pemilu 2024.

“Suhu politik akan mulai memanas,” kata Ujang, kemarin.

Dalam situasi seperti ini, Ujang melihat politisi akan mulai melakukan berbagai manuver untuk memuluskan jalan di Pilpres 2024. Jadi hal yang berkaitan dengan politik akan sulit direm. Bahkan cenderung tancap gas.

Politisi, kata dia, akan mulai mengedepankan egonya masing-masing, seperti membangun pencitraan, bahkan kalau perlu menjelekan lawan.

“Persoalan rakyat kalau tak menguntungkan untuk elektoral, tak akan jadi perhatian,” tegas Ujang. [BCG]

]]> Di awal-awal tahun 2022, para politisi semakin sibuk kasak-kusuk menyambut Pemilu 2024. Sementara rakyat kecil kelimpungan karena harus menghadapi ujian hidup yang begitu berat. Supaya dianggap peduli ke rakyat yang sedang kesusahan, sebaiknya para politisi mengerem dan tak mempertontonkan syahwat politiknya. Apakah bisa? Melihat fakta saat ini, rasanya tidak bisa.

Ada banyak kesulitan yang dihadapi rakyat begitu memasuki 2022. Selain dampak pandemi yang masih terasa, mereka juga kesulitan menghadapi kenaikan harga sembako yang dimulai sejak akhir tahun lalu.

Paling tidak ada empat komoditas yang harganya meroket yaitu, minyak goreng, telur ayam, cabai rawit, dan daging ayam. Kenaikan harga tersebut disebut-sebut lantaran momen Natal dan Tahun Baru. Namun, dua pekan setelah tahun baru, harga sejumlah sembako belum juga normal.

Harga komoditas yang belum juga turun adalah minyak goreng. Kemarin, harga minyak goreng masih di kisaran Rp19-21 ribu.

Selain karena harga sembako yang meroket, sebagian rakyat juga tengah kesulitan menghadapi rentetan bencana alam. Mulai dari gempa, tanah longsor dan banjir.

Sayangnya, berbagai kesulitan yang dihadapi rakyat ini sepertinya kurang jadi perhatian para politisi kita. Mereka terkesan lebih tanggap dan sigap dalam urusan menghadapi pemilu.

Tengok saja, dalam dua pekan terakhir, topik yang disodorkan kepada publik bukan perkara bagaimana menyelesaikan kesulitan rakyat. Tapi, riuhnya berbagai manuver untuk memuluskan jalan ke 2024. Misalnya, ada yang sibuk mainkan wacana menunda pilpres, Jokowi tiga periode, dan ribut soal syarat capres nol persen.

Tak cuma itu, para politisi juga mulai utak-atik koalisi di Pilpres 2024. Padahal, pilpresnya 3 tahunan lagi.

Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri misalnya, melemparkan wacana koalisi bertajuk nasionalis religius. Wacana itu disambut baik oleh Golkar dan Demokrat. Kedua partai itu mengaku tertarik dengan gagasan tersebut. Partai Demokrat ikut menyambut. Partai Gerindra, PKB dan PPP, sibuk menanggapi.

Kesibukan politisi juga terlihat di Pilkada DKI yang akan digelar 2024. Sejumlah parpol sudah memunculkan kader mereka sebagai kandidat calon gubernur. PDIP misalnya, memunculkan Menteri Sosial Tri Rismaharini atau Bu Risma, dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sementara Golkar menggadang-gadang eks Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany. Sementara NasDem menyodorkan Ahmad Sahroni.

 

Melihat politisi yang sibuk urusi pemilu ini, warganet ikutan kesal. Akun @lantip ikutan jengah melihat tingkah politisi yang dianggapnya menyebalkan. Kata dia, saat ini sebaiknya para politisi itu ikutan fokus urus Omicron, beresin perusak kebhinnekaan, dan tangani bencana.

“Banyak urusan selain bab kursi dan perut kalian wahai politisi!” kicaunya. Akun @shdaagaatha ikutan menimpali. “Heran, politik mulu yang diurusin,” ucapnya.

Penulis asal Yogyakarta, Phutut EA ikutan jengan melihat tingkah politisi yang tampil di berbagai media. “Sudah bosan dengan semua gaya pencitraan para capres yang seolah peduli rakyat, makan di warung tenda, sok tahu milenial, dipotret saat sedang beribadah, saat bersama ‘rakyat’, padahal ra tau tuku rokok ro uyah,” ujarnya di akun @phutitea.

Akun @DuitTerooosss mengaku heran dengan para politisi yang sibuk berpolitik di tengah gempa. “Gempa nggak hentiin kalian buat perang politik, bahkan nggak cukup sehari. Baru beberapa jam trending twitter terbebas dari urusan politik, sekarang kalian mulai lagi,” ujarnya

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengungkap alasan kenapa tahun ini para politisi makin sibuk urusi dirinya, karena pertengahan tahun ini sudah masuk tahapan Pemilu 2024.

“Suhu politik akan mulai memanas,” kata Ujang, kemarin.

Dalam situasi seperti ini, Ujang melihat politisi akan mulai melakukan berbagai manuver untuk memuluskan jalan di Pilpres 2024. Jadi hal yang berkaitan dengan politik akan sulit direm. Bahkan cenderung tancap gas.

Politisi, kata dia, akan mulai mengedepankan egonya masing-masing, seperti membangun pencitraan, bahkan kalau perlu menjelekan lawan.

“Persoalan rakyat kalau tak menguntungkan untuk elektoral, tak akan jadi perhatian,” tegas Ujang. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories