Raker Dengan Bupati Pamekasan, La Nyalla Bicara Kekuatan Ekonomi Daerah Hingga Pemekaran Madura

Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti melakukan rapat kerja (raker) bersama Bupati Pamekasan Badrut Tamam, di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (25/2). Dalam kesempatan itu, La Nyalla menyampaikan pentingnya daerah menjadi kekuatan ekonomi.

“Dalam beberapa kunjungan ke daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa, saya selalu menekankan pentingnya daerah menjadi kekuatan ekonomi. Bahkan saya juga selalu menekankan pentingnya desa menjadi kekuatan ekonomi,” ucap La Nyalla.

Senator asal Jawa Timur itu menyatakan, bagi DPD sebagai wakil daerah, pertumbuhan ekonomi jauh lebih strategis dari isu otonomi daerah. Yang harus menjadi concern adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. “Karena, hasil akhir yang ingin kita tuju adalah kemakmuran rakyat di daerah,” ujarnya tegas.

La Nyalla menambahkan, pertumbuhan ekonomi juga menjadi indikator bagi kesuksesan pemekaran wilayah. Menurutnya, pembentukan provinsi baru maupun pembentukan kota dan kabupaten baru, saat ini diukur dengan kemampuan fiskal daerah. 

“Tolok ukur yang kita gunakan adalah kemandirian fiskal, yaitu kemampuan Pemerintah Daerah untuk membiayai sendiri kegiatan Pemerintah Daerah tanpa tergantung bantuan dari luar, termasuk dari Pemerintah Pusat. Inilah yang harus menjadi concern kita semua,” jelasnya.

La Nyalla mengaku telah melapor ke Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD), mengenai keinginan masyarakat Madura membentuk Provinsi Madura. Namun alat ukur pemerintah masih sama, yakni kemandirian fiskal daerah. Sehingga, Pemerintah masih melakukan moratorium Daerah Otonomi Baru. 

“Oleh karena itu, saya hadir untuk memberi motivasi dan roadmap, agar stakeholder di daerah menyiapkan diri untuk fokus kepada upaya-upaya yang memastikan kemandirian fiskal bisa terwujud,” katanya. 

Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur itu mengatakan, masih banyak daerah yang belum mandiri. Pada Tahun Anggaran 2018, diketahui jumlah Pemerintah Provinsi yang belum mandiri sebanyak 10 dari 34. Angka ini turun menjadi 8 dari 34 pada Tahun Anggaran 2019. 

Sementara, Pemerintah Kabupaten/Kota yang belum mandiri sebanyak 471 dari 508 Kabupaten/Kota pada 2018. Jumlah tersebut menyusut menjadi 458 Kabupaten/Kota pada 2019. 

“Yang harus dicermati, sedikitnya 102 daerah memiliki Indeks Kemandirian Fiskal di bawah 0,05. Yang artinya, masih sangat parah. Hal ini menunjukkan bahwa daerah-daerah tersebut sangat tergantung dengan dana transfer, karena PAD (Pendapatan Asli Daerah) hanya cukup untuk membiayai 5 persen dari belanja daerah,” terang La Nyalla.

Oleh karena itu, DPD mendorong lahirnya Rancangan Undang-Undang Badan Usaha Milik Desa (RUU BUMDes). Sehingga, dana desa yang dikucurkan Pemerintah Pusat dapat dimanfaatkan untuk membentuk badan usaha desa, yang pada akhirnya bisa menjadi sarana pengungkit ekonomi desa.

“Jika itu terjadi merata di semua desa, daya ungkit ekonomi di desa akan menjadi efek ekonomi desa. Pada akhirnya, desa menjadi kekuatan ekonomi. Jika desa menjadi kekuatan ekonomi, maka kabupaten atau kota juga menjadi kekuatan ekonomi. Pada akhirnya provinsi menjadi kekuatan ekonomi. Yang ujungnya, kita akan mampu mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera,” ujar alumnus Universitas Brawijaya Malang itu. [USU]

]]> Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti melakukan rapat kerja (raker) bersama Bupati Pamekasan Badrut Tamam, di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (25/2). Dalam kesempatan itu, La Nyalla menyampaikan pentingnya daerah menjadi kekuatan ekonomi.

“Dalam beberapa kunjungan ke daerah, baik di Jawa maupun luar Jawa, saya selalu menekankan pentingnya daerah menjadi kekuatan ekonomi. Bahkan saya juga selalu menekankan pentingnya desa menjadi kekuatan ekonomi,” ucap La Nyalla.

Senator asal Jawa Timur itu menyatakan, bagi DPD sebagai wakil daerah, pertumbuhan ekonomi jauh lebih strategis dari isu otonomi daerah. Yang harus menjadi concern adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah. “Karena, hasil akhir yang ingin kita tuju adalah kemakmuran rakyat di daerah,” ujarnya tegas.

La Nyalla menambahkan, pertumbuhan ekonomi juga menjadi indikator bagi kesuksesan pemekaran wilayah. Menurutnya, pembentukan provinsi baru maupun pembentukan kota dan kabupaten baru, saat ini diukur dengan kemampuan fiskal daerah. 

“Tolok ukur yang kita gunakan adalah kemandirian fiskal, yaitu kemampuan Pemerintah Daerah untuk membiayai sendiri kegiatan Pemerintah Daerah tanpa tergantung bantuan dari luar, termasuk dari Pemerintah Pusat. Inilah yang harus menjadi concern kita semua,” jelasnya.

La Nyalla mengaku telah melapor ke Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD), mengenai keinginan masyarakat Madura membentuk Provinsi Madura. Namun alat ukur pemerintah masih sama, yakni kemandirian fiskal daerah. Sehingga, Pemerintah masih melakukan moratorium Daerah Otonomi Baru. 

“Oleh karena itu, saya hadir untuk memberi motivasi dan roadmap, agar stakeholder di daerah menyiapkan diri untuk fokus kepada upaya-upaya yang memastikan kemandirian fiskal bisa terwujud,” katanya. 

Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur itu mengatakan, masih banyak daerah yang belum mandiri. Pada Tahun Anggaran 2018, diketahui jumlah Pemerintah Provinsi yang belum mandiri sebanyak 10 dari 34. Angka ini turun menjadi 8 dari 34 pada Tahun Anggaran 2019. 

Sementara, Pemerintah Kabupaten/Kota yang belum mandiri sebanyak 471 dari 508 Kabupaten/Kota pada 2018. Jumlah tersebut menyusut menjadi 458 Kabupaten/Kota pada 2019. 

“Yang harus dicermati, sedikitnya 102 daerah memiliki Indeks Kemandirian Fiskal di bawah 0,05. Yang artinya, masih sangat parah. Hal ini menunjukkan bahwa daerah-daerah tersebut sangat tergantung dengan dana transfer, karena PAD (Pendapatan Asli Daerah) hanya cukup untuk membiayai 5 persen dari belanja daerah,” terang La Nyalla.

Oleh karena itu, DPD mendorong lahirnya Rancangan Undang-Undang Badan Usaha Milik Desa (RUU BUMDes). Sehingga, dana desa yang dikucurkan Pemerintah Pusat dapat dimanfaatkan untuk membentuk badan usaha desa, yang pada akhirnya bisa menjadi sarana pengungkit ekonomi desa.

“Jika itu terjadi merata di semua desa, daya ungkit ekonomi di desa akan menjadi efek ekonomi desa. Pada akhirnya, desa menjadi kekuatan ekonomi. Jika desa menjadi kekuatan ekonomi, maka kabupaten atau kota juga menjadi kekuatan ekonomi. Pada akhirnya provinsi menjadi kekuatan ekonomi. Yang ujungnya, kita akan mampu mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera,” ujar alumnus Universitas Brawijaya Malang itu. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories