Rachland Tak Bermaksud Menghina Putri Gus Dur Anggap Khilaf .

Politisi Partai Demokrat, Rachland Nashidik disorot warganet setelah mencuit soal makam Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dibangun dengan uang negara. Sadar omongannya banyak disalahartikan, dia langsung minta maaf. Putri Gus Dur, Alissa Wahid pun memaafkan dan menganggap Rachland khilaf.

Omongan Rachland yang menyinggung fasilitas makam Gus Dur ini bermula dari banyaknya warganet yang mempersoalkan biaya pembangunan Museum & Galeri SBY-Ani di Pacitan, Jawa Timur, sebesar Rp 9 miliar yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemprov Jawa Timur. Agar berita ini tidak semakin liar, Rachland buru-buru menjelaskan.

Menurutnya, tidak ada yang salah dengan adanya Museum Kepresidenan. Sebab hal itu merupakan jejak ingatan sejarah, dan bisa menjadi rujukan standar pencapaian sebuah bangsa. Terlebih lagi bisa sebagai obyek wisata bagi pendapatan daerah.

“Kita punya Museum Bung Karno dan Amerika Serikat punya museum dari presiden-presidennya,” kata Rachland di akun Twitternya @RachlanNashidik.

Cuitan itu ditimpali oleh seorang warganet yang mengaku tidak masalah apabila pembiayaan dilakukan menggunakan dana pribadi. “Yang bikin prihatin dan Tuhan tidak suka kok teganya di masa krisis pandemi ini ada yang ngemis anggaran hanya demi museum keluarga,” ujar akun @EAndalusy.

Rachland kemudian membalasnya dengan beberapa poin. Dia menegaskan, Museum & Galeri SBY-Ani di Pacitan bukan milik keluarga. Selain itu, pendanaan yang dipakai membangun museum tersebut juga tidak seluruhnya berasal dari APBD Pemprov Jatim.

“Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga,” terang mantan anggota DPR itu.

Kemudian dia menyinggung keberadaan makam almarhum Gus Dur yang menurutnya juga dibiayai dengan kas negara. “Ketiga, sebagai pembanding, Anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?” tandasnya, sembari menyematkan tautan berita.

Nah, dari pertanyaan itu muncul-lah putri Gusdur dengan akun @alissawahid. Dia membantah, makam ayahnya di Kompleks Pesantren Tebuireng dibiayai oleh negara. “Bang @RachlanNashidik, makam Gus Dur sampai saat ini dibiayai oleh keluarga Ciganjur, termasuk prasasti. PP Tebuireng pun hormati ini,” terangnya, Sabtu (20/2).

 

Ia menjelaskan, dana negara tidak untuk makam. Menurut Alissa, dana negara digunakan untuk pembangunan jalan raya dan lahan berjualan warga. “Maklum, ada 1,5 juta-2 juta peziarah setiap tahun. Negara urus ini,” lanjutnya.

Kendati demikian, dia tidak ingin masalah ini diperpanjang. Dia hanya menyebut Rachland khilaf. “Tidak perlu. Kita perlu belajar menerima perdebatan dengan lebih santai, sepanjang tidak menciderai harkat martabat kemanusiaan atau kabar bohong. Saya menduga, Bung Alan nggak tahu info saja, keburu ngegas. Jadi ya, itu maksimal kategori khilaf, bukan jahat,” tulis Alissa Wahid, sembari mengklarifikasi somasi yang dilayangkan oleh Barisan Kader (Barikade) Gus Dur.

Sebelumnya, cuitan Rachland menyulut emosi DPP Barikade Gus Dur. Dia membantah apa yang diklaim Rachland. “Apa yang saudara katakan adalah sangat tidak benar atau tendensius dan mengada-ada dan membuat para santri Gus Dur merasa terlecehkan,” ungkap Ketua DPP Barikade Gusdur, Priyo Sambadha dalam rilisnya, Sabtu (20/2).

Menurutnya, makam Gus Dur sepenuhnya dibiayai oleh keluarga inti. Dia menerangkan memang ada anggaran negara, tetapi untuk pembangunan infrastruktur jalan demi kelancaran lalu lintas. Mengingat ada ribuan peziarah yang hadir setiap harinya sepanjang tahun ke makam Gus Dur.

Anggaran negara juga diperuntukkan pembangunan Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari di Jombang. “Jadi sama sekali tidak untuk membiayai makam Gus Dur,” tukas Priyo.

Untungnya, kutukan Barikade Gusdur ke Rachlan tak berjalan lama. Di hari yang sama, akun @PSambadha menuliskan cuitannya tentang permohonan maaf yang dilakukan Rachland.

“Karena ybs sudah minta maaf, maka teman-teman Kader #GusDur dengan tulus telah memaafkan. Semoga kejadian ini bisa menjadi pembelajaran kita semua sehingga ke depan kita semakin rukun sebagai satu bangsa. Amiin,” ujarnya dengan menyertakan link berita berjudul permintaan maaf Rachland di media online.

Akun @MT93990025 mengapresiasi sikap Alissa Wahid. “Jangan cengeng sedikit-sedikir lapor lazimnya buzzeRp. Saling memaafkan itu niat mulia apalagi kekeliruan ini bisa dimaklumi kedua belah pihak,” tukasnya. “Keren kalian. Aku suka yang begini. Nggak semua ke polisi dan ke penjara. Saling mengingatkan. Kalian keren,” timpal @En08Gold. [UMM]

]]> .
Politisi Partai Demokrat, Rachland Nashidik disorot warganet setelah mencuit soal makam Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dibangun dengan uang negara. Sadar omongannya banyak disalahartikan, dia langsung minta maaf. Putri Gus Dur, Alissa Wahid pun memaafkan dan menganggap Rachland khilaf.

Omongan Rachland yang menyinggung fasilitas makam Gus Dur ini bermula dari banyaknya warganet yang mempersoalkan biaya pembangunan Museum & Galeri SBY-Ani di Pacitan, Jawa Timur, sebesar Rp 9 miliar yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemprov Jawa Timur. Agar berita ini tidak semakin liar, Rachland buru-buru menjelaskan.

Menurutnya, tidak ada yang salah dengan adanya Museum Kepresidenan. Sebab hal itu merupakan jejak ingatan sejarah, dan bisa menjadi rujukan standar pencapaian sebuah bangsa. Terlebih lagi bisa sebagai obyek wisata bagi pendapatan daerah.

“Kita punya Museum Bung Karno dan Amerika Serikat punya museum dari presiden-presidennya,” kata Rachland di akun Twitternya @RachlanNashidik.

Cuitan itu ditimpali oleh seorang warganet yang mengaku tidak masalah apabila pembiayaan dilakukan menggunakan dana pribadi. “Yang bikin prihatin dan Tuhan tidak suka kok teganya di masa krisis pandemi ini ada yang ngemis anggaran hanya demi museum keluarga,” ujar akun @EAndalusy.

Rachland kemudian membalasnya dengan beberapa poin. Dia menegaskan, Museum & Galeri SBY-Ani di Pacitan bukan milik keluarga. Selain itu, pendanaan yang dipakai membangun museum tersebut juga tidak seluruhnya berasal dari APBD Pemprov Jatim.

“Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga,” terang mantan anggota DPR itu.

Kemudian dia menyinggung keberadaan makam almarhum Gus Dur yang menurutnya juga dibiayai dengan kas negara. “Ketiga, sebagai pembanding, Anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?” tandasnya, sembari menyematkan tautan berita.

Nah, dari pertanyaan itu muncul-lah putri Gusdur dengan akun @alissawahid. Dia membantah, makam ayahnya di Kompleks Pesantren Tebuireng dibiayai oleh negara. “Bang @RachlanNashidik, makam Gus Dur sampai saat ini dibiayai oleh keluarga Ciganjur, termasuk prasasti. PP Tebuireng pun hormati ini,” terangnya, Sabtu (20/2).

 

Ia menjelaskan, dana negara tidak untuk makam. Menurut Alissa, dana negara digunakan untuk pembangunan jalan raya dan lahan berjualan warga. “Maklum, ada 1,5 juta-2 juta peziarah setiap tahun. Negara urus ini,” lanjutnya.

Kendati demikian, dia tidak ingin masalah ini diperpanjang. Dia hanya menyebut Rachland khilaf. “Tidak perlu. Kita perlu belajar menerima perdebatan dengan lebih santai, sepanjang tidak menciderai harkat martabat kemanusiaan atau kabar bohong. Saya menduga, Bung Alan nggak tahu info saja, keburu ngegas. Jadi ya, itu maksimal kategori khilaf, bukan jahat,” tulis Alissa Wahid, sembari mengklarifikasi somasi yang dilayangkan oleh Barisan Kader (Barikade) Gus Dur.

Sebelumnya, cuitan Rachland menyulut emosi DPP Barikade Gus Dur. Dia membantah apa yang diklaim Rachland. “Apa yang saudara katakan adalah sangat tidak benar atau tendensius dan mengada-ada dan membuat para santri Gus Dur merasa terlecehkan,” ungkap Ketua DPP Barikade Gusdur, Priyo Sambadha dalam rilisnya, Sabtu (20/2).

Menurutnya, makam Gus Dur sepenuhnya dibiayai oleh keluarga inti. Dia menerangkan memang ada anggaran negara, tetapi untuk pembangunan infrastruktur jalan demi kelancaran lalu lintas. Mengingat ada ribuan peziarah yang hadir setiap harinya sepanjang tahun ke makam Gus Dur.

Anggaran negara juga diperuntukkan pembangunan Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari di Jombang. “Jadi sama sekali tidak untuk membiayai makam Gus Dur,” tukas Priyo.

Untungnya, kutukan Barikade Gusdur ke Rachlan tak berjalan lama. Di hari yang sama, akun @PSambadha menuliskan cuitannya tentang permohonan maaf yang dilakukan Rachland.

“Karena ybs sudah minta maaf, maka teman-teman Kader #GusDur dengan tulus telah memaafkan. Semoga kejadian ini bisa menjadi pembelajaran kita semua sehingga ke depan kita semakin rukun sebagai satu bangsa. Amiin,” ujarnya dengan menyertakan link berita berjudul permintaan maaf Rachland di media online.

Akun @MT93990025 mengapresiasi sikap Alissa Wahid. “Jangan cengeng sedikit-sedikir lapor lazimnya buzzeRp. Saling memaafkan itu niat mulia apalagi kekeliruan ini bisa dimaklumi kedua belah pihak,” tukasnya. “Keren kalian. Aku suka yang begini. Nggak semua ke polisi dan ke penjara. Saling mengingatkan. Kalian keren,” timpal @En08Gold. [UMM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories