Puluhan Tahun Susah Dapat Air Bersih Warga Muara Angke Mau Mandi Aja Nunggu Hujan

Ribuan warga Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, sudah puluhan tahun mengalami krisis air bersih. Mereka berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengatasi masalah tersebut.

Selasa (22/2), puluhan warga Muara Angke berdemonstrasi ke Kantor Gubernur DKI Jakarta. Mereka datang membawa jerigen kosong sebagai simbol warga membutuhkan air bersih. Sayangnya, mereka gagal bertemu dengan Gubernur Anies Baswedan dan tidak bisa menyampaikan langsung keluhannya.

Perwakilan warga Muara Angke, Muslimin menyebut, mereka datang mewakili ribuan warga yang tinggal di Kampung Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang. Perkampungan ini telah ada sejak 1980-an. Saat ini kawasan tersebut dihuni 4.068 jiwa atau 1.286 kepala keluarga.

Muslimin menuturkan, pada saat kampung ini muncul di tahun 1980-an, warga masih bisa mendapatkan air bersih dari sumur. Namun, karena kondisi lingkungan memburuk, air di kawasan itu tidak lagi layak pakai. Air berbau dan asin.

Sejak itu, warga mengonsumsi air minum dengan membeli air isi ulang galon atau air kemasan botol. Sedangkan untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK), warga membeli air pikulan atau air dalam kemasan jerigen.

Air pikulan itu berasal dari kios air di Blok Eceng yang beroperasi sejak tahun 2020. Harganya rata-rata Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per jerigen berisi 40 liter. “Harga tergantung jarak rumah warga dari Blok Eceng. Yang terjauh Rp 5.000 per jerigen,” ungkap Muslimin di Jakarta, Selasa (22/2).

Per keluarga rata-rata mengeluarkan Rp 13.000 per hari untuk keperluan air minum dan masak. Sedangkan, untuk keperluan cuci dan mandi warga menggunakan air pikulan. Dengan kebutuhan 200 liter per keluarga untuk satu hari dengan merogoh kocek Rp 25.000.

 

Total kebutuhan air minum dan cuci mandi per keluarga mencapai 228 liter. Satu keluarga harus mengeluarkan biaya berkisar Rp 1,14 juta per bulan. Biaya itu sangat membebani ekonomi keluarga. Karena, mayoritas warga setempat berprofesi sebagai nelayan tradisional. Warga Muara Angke, Nur Wenny mengungkapkan, banyak warga membeli air bersih hanya untuk minum.

Harganya Rp 15.000 untuk tiga pikul atau Rp 5.000 per 40 liter. Untuk sebulan, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 400.000. “Untuk mandi dan mencuci kami harus nunggu hujan. Nunggu air rob. Sementara, kali sudah enggak ada yang bersih. Makanya kami harus minta ke Pemerintah,” sebutnya.

Dia berharap Pemprov DKI Jakarta menyediakan layanan air bersih dengan harga murah. “Selama ini kami dipaksa kaya, apalagi dengan Corona seperti ini. Kami banyak yang dipecat, tidak ada pekerjaan. Tapi kami harus tetap bayar kebutuhan hidup. Tubuh kami butuh air,” sambung Wenny.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Afan Adriansyah mengatakan, PAM Jaya sudah punya perencanaan untuk mengatasi permasalahan air bersih. “Tahun ini sudah dialokasikan untuk 100 lokasi kios air. Itu ada tiga tahap. Nanti saya akan cek, tapi saya akan minta tahapannya yang secepatnya untuk bisa masuk (ke 3 kampung tersebut),” katanya saat menemui langsung para pengunjuk rasa.

Afan berjanji, pihaknya akan berusaha membangun kios air secepatnya. Tarifnya disubsidi sehingga akan terjangkau oleh masyarakat. “Tetap ada (tarif), tapi itu sangat murah, jangan khawatir. Itu sesuai Peraturan Gubernur Nomor 57 tahun 2021 tentang Penyesuaian Tarif Otomatis Air Minum.

Jadi memang Pergub ini dipersiapkan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) supaya dia bisa dapat harga murah,” terang Afan.

35 Persen Wilayah Susah Air

DPRD DKI Jakarta mengkritik lambatnya kinerja Pemprov DKI memenuhi kebutuhan air bersih. “Penetrasi air bersih masih mandek di angka 65 persen. Artinya masih ada 35 persen warga yang belum dapat akses air bersih.

Padahal penyediaan air bersih ini ada di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD,” kata Anggota DPRD Fraksi PDIP Komisi D, Yuke Yurike. Yuke meminta, masalah krisis air bersih di Muara Angke harus segera diatasi. “Kasihan mereka harus membeli air pikulan yang mahal. Bahkan, pengeluaran mereka untuk air bersih lebih banyak dari warga Menteng,” sindir Yuke. [DRS]

]]> Ribuan warga Muara Angke, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, sudah puluhan tahun mengalami krisis air bersih. Mereka berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera mengatasi masalah tersebut.

Selasa (22/2), puluhan warga Muara Angke berdemonstrasi ke Kantor Gubernur DKI Jakarta. Mereka datang membawa jerigen kosong sebagai simbol warga membutuhkan air bersih. Sayangnya, mereka gagal bertemu dengan Gubernur Anies Baswedan dan tidak bisa menyampaikan langsung keluhannya.

Perwakilan warga Muara Angke, Muslimin menyebut, mereka datang mewakili ribuan warga yang tinggal di Kampung Blok Limbah, Blok Eceng, dan Blok Empang. Perkampungan ini telah ada sejak 1980-an. Saat ini kawasan tersebut dihuni 4.068 jiwa atau 1.286 kepala keluarga.

Muslimin menuturkan, pada saat kampung ini muncul di tahun 1980-an, warga masih bisa mendapatkan air bersih dari sumur. Namun, karena kondisi lingkungan memburuk, air di kawasan itu tidak lagi layak pakai. Air berbau dan asin.

Sejak itu, warga mengonsumsi air minum dengan membeli air isi ulang galon atau air kemasan botol. Sedangkan untuk kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK), warga membeli air pikulan atau air dalam kemasan jerigen.

Air pikulan itu berasal dari kios air di Blok Eceng yang beroperasi sejak tahun 2020. Harganya rata-rata Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per jerigen berisi 40 liter. “Harga tergantung jarak rumah warga dari Blok Eceng. Yang terjauh Rp 5.000 per jerigen,” ungkap Muslimin di Jakarta, Selasa (22/2).

Per keluarga rata-rata mengeluarkan Rp 13.000 per hari untuk keperluan air minum dan masak. Sedangkan, untuk keperluan cuci dan mandi warga menggunakan air pikulan. Dengan kebutuhan 200 liter per keluarga untuk satu hari dengan merogoh kocek Rp 25.000.

 

Total kebutuhan air minum dan cuci mandi per keluarga mencapai 228 liter. Satu keluarga harus mengeluarkan biaya berkisar Rp 1,14 juta per bulan. Biaya itu sangat membebani ekonomi keluarga. Karena, mayoritas warga setempat berprofesi sebagai nelayan tradisional. Warga Muara Angke, Nur Wenny mengungkapkan, banyak warga membeli air bersih hanya untuk minum.

Harganya Rp 15.000 untuk tiga pikul atau Rp 5.000 per 40 liter. Untuk sebulan, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 400.000. “Untuk mandi dan mencuci kami harus nunggu hujan. Nunggu air rob. Sementara, kali sudah enggak ada yang bersih. Makanya kami harus minta ke Pemerintah,” sebutnya.

Dia berharap Pemprov DKI Jakarta menyediakan layanan air bersih dengan harga murah. “Selama ini kami dipaksa kaya, apalagi dengan Corona seperti ini. Kami banyak yang dipecat, tidak ada pekerjaan. Tapi kami harus tetap bayar kebutuhan hidup. Tubuh kami butuh air,” sambung Wenny.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Afan Adriansyah mengatakan, PAM Jaya sudah punya perencanaan untuk mengatasi permasalahan air bersih. “Tahun ini sudah dialokasikan untuk 100 lokasi kios air. Itu ada tiga tahap. Nanti saya akan cek, tapi saya akan minta tahapannya yang secepatnya untuk bisa masuk (ke 3 kampung tersebut),” katanya saat menemui langsung para pengunjuk rasa.

Afan berjanji, pihaknya akan berusaha membangun kios air secepatnya. Tarifnya disubsidi sehingga akan terjangkau oleh masyarakat. “Tetap ada (tarif), tapi itu sangat murah, jangan khawatir. Itu sesuai Peraturan Gubernur Nomor 57 tahun 2021 tentang Penyesuaian Tarif Otomatis Air Minum.

Jadi memang Pergub ini dipersiapkan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) supaya dia bisa dapat harga murah,” terang Afan.

35 Persen Wilayah Susah Air

DPRD DKI Jakarta mengkritik lambatnya kinerja Pemprov DKI memenuhi kebutuhan air bersih. “Penetrasi air bersih masih mandek di angka 65 persen. Artinya masih ada 35 persen warga yang belum dapat akses air bersih.

Padahal penyediaan air bersih ini ada di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD,” kata Anggota DPRD Fraksi PDIP Komisi D, Yuke Yurike. Yuke meminta, masalah krisis air bersih di Muara Angke harus segera diatasi. “Kasihan mereka harus membeli air pikulan yang mahal. Bahkan, pengeluaran mereka untuk air bersih lebih banyak dari warga Menteng,” sindir Yuke. [DRS]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories