PT Tunas Sawa Erma Serap Tenaga Kerja Orang Asli Papua .

PT Tunas Sawa Erma (TSE) aktif menyerap tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP). Melalui berbagai program sosialisasi dan edukasi yang profesional dan penuh kekeluargaan. Beberapa OAP sudah menduduki jabatan di TSE Group.

“Mulai dari kepala seksi, asisten manajer hingga manajer di lapangan maupun perkantoran,” demikian rilis dari Direktur Human Resource dan General Affair (HR-GA) TSE Group Ronny Makal, Sabtu (10/4).

Salah satu pengalaman OAP dikisahkan oleh Kansius K Bunman (47). Dia rela pulang kampung hingga kini menjadi manajer personalia di TSE. “Pulang ke Papua membuat kita merasa seperti ‘katak dalam tempurung’. Kalau bukan kita, siapa lagi yang membangun?” curhat Kansius. 

Tantangan terbesar mahasiswa lulusan sekolah tinggi di Magelang, Jawa Tengah ini, betapa beragamnya suku dan latar belakang pekerja di Papua.

Menurut Kansius, beberapa OAP memilih keluar tanpa izin dan sebelum waktunya. Hal ini dimaklumi mengingat perkebunan sawit itu industri baru di Papua. Alhasil, TSE dan pemda mengadakan kursus membentuk mentalitas pekerja OAP.

“Sosialisasi ini memungkinkan mereka punya rasa memiliki terhadap pekerjaan yang ditekuni,” jelas.

Kansius. Pendekatan yang dilakukan terhadap OAP tidak bersifat memaksa. Secara bertahap, menggunakan asas kekeluargaan yang tetap menunjung profesionalitas. [GO]

]]> .
PT Tunas Sawa Erma (TSE) aktif menyerap tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP). Melalui berbagai program sosialisasi dan edukasi yang profesional dan penuh kekeluargaan. Beberapa OAP sudah menduduki jabatan di TSE Group.

“Mulai dari kepala seksi, asisten manajer hingga manajer di lapangan maupun perkantoran,” demikian rilis dari Direktur Human Resource dan General Affair (HR-GA) TSE Group Ronny Makal, Sabtu (10/4).

Salah satu pengalaman OAP dikisahkan oleh Kansius K Bunman (47). Dia rela pulang kampung hingga kini menjadi manajer personalia di TSE. “Pulang ke Papua membuat kita merasa seperti ‘katak dalam tempurung’. Kalau bukan kita, siapa lagi yang membangun?” curhat Kansius. 

Tantangan terbesar mahasiswa lulusan sekolah tinggi di Magelang, Jawa Tengah ini, betapa beragamnya suku dan latar belakang pekerja di Papua.

Menurut Kansius, beberapa OAP memilih keluar tanpa izin dan sebelum waktunya. Hal ini dimaklumi mengingat perkebunan sawit itu industri baru di Papua. Alhasil, TSE dan pemda mengadakan kursus membentuk mentalitas pekerja OAP.

“Sosialisasi ini memungkinkan mereka punya rasa memiliki terhadap pekerjaan yang ditekuni,” jelas.

Kansius. Pendekatan yang dilakukan terhadap OAP tidak bersifat memaksa. Secara bertahap, menggunakan asas kekeluargaan yang tetap menunjung profesionalitas. [GO]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories