PSBB Bikin Langit Ibu Kota Cerah Netizen Heboh Bisa Lihat Pegunungan Dari Jakarta .

Kualitas udara di Jakarta membaik selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tak hanya udara menjadi lebih segar, siluet Gunung-Gede Pangrango dan Gunung Salak, terlihat dari Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyebut, pandemi Covid-19 membuat pergerakan masyarakat berkurang. Hal itu berdampak pada membaiknya kualitas udara.

“Kota-kota di dunia sedang berada di garis depan, untuk menghadapi tantangan dan juga peluang. Ekonomi kota yang melambat membuat banyak kota merasakan udara yang lebih bersih, termasuk di Jakarta,” kata Anies, di Jakarta, Jumat (19/2).

Tak cuma penurunan mobilitas, lanjut Wakil Ketua C40 Cities ini, moda transportasi yang digunakan masyarakat juga berubah. Masyarakat yang menggunakan sepeda meningkat 10 kali lipat. Sepeda yang sebelumnya jadi sarana olahraga kini berubah fungsi menjadi alat transportasi.

“Pandemi juga lebih mendorong integrasi berbagai moda transportasi umum, sehingga mampu melipat gandakan jumlah penumpang angkutan umum harian dalam waktu 3 tahun,” paparnya.

Ditegaskannya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI pun memberikan dukungan terhadap perubahan mobilitas masyarakat itu. Salah satunya dengan membuat jalur sepeda sepanjang 96 kilometer (km) dan 52 tempat berbagi sepeda. Jalur ini rencananya diperpanjang menjadi 500 km.

Senada, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Syaripudin mengklaim dampak positif terhadap lingkungan dari penerapan PSBB. Kualitas udara Ibu Kota membaik, dan langit biru dan cerah.

“Ini karena adanya peningkatan signifikan gaya hidup baru penggunaan sepeda sebagai alat transportasi ramah lingkungan dan adanya pengetatan kewajiban uji emisi bagi kendaraan bermotor,” kata Syaripudin.

Diakuinya, berbagai pembatasan kegiatan masyarakat, membuat mobilitas warga Jakarta yang berpergian ke luar rumah berkurang. Pencemaran udara dari kendaraan pribadi, umum dan tempat industri, menurun. Selain itu, Pemprov DKI juga terus mendorong warga beralih menggunakan transportasi umum.

“Kami juga mengerjakan perluasan moda transportasi umum, revitalisasi trotoar, integrasi berbagai moda transportasi, dan pengembangan jalur khusus sepeda di seluruh kota. Dan, mulai menerapkan uji emisi di berbagai wilayah untuk menuju udara bersih Jakarta,” terangnya.

Membaiknya udara di Ibu Kota sempat menjadi perbincangan di media sosial. Postingan foto gunung di Bogor, yang terlihat dari sejumlah jalan di Ibu Kota, oleh warga, mengundang kehebohan. Sebab, tak sedikit, netizen, tak percaya. Pantauan Rakyat Merdeka, sejumlah pegunungan di Kota Hujan, memang terlihat dari Ibu Kota.

Jagat media sosial heboh dengan foto yang diunggah akun instagram centang biru milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Rabu (17/2) lalu. Foto tersebut menggambarkan pegunungan Gede-Pangrango yang terlihat besar dari Jalan Benyamin Suaeb, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Ribuan netizen memberikan komentar. “Saya warga Kemayoran.. memang benar udaranya lagi bersih banget dan segaar… mungkin karena diguyur hujan terus kali yaa,” tulis akun @ulphes.

Akun twicester_ juga memberikan komentar positif. “Semenjak corona sering liat pemandangan gunung… Ada berkah di balik corona… Bumi emang pengen stabil lagi kayak dulu, nggak kebanyakan polusi dan bangunan tinggi-tinggi.”

 

Ada juga yang mempertanyakan kesahihan dari foto itu. “Masa sih dari Jakarta bisa lihat gunung segede gitu, kan Jakarta lumayan jauh dari gunung-gunung,” tulis akun @mir_hmzh.

Zona Rendah Emisi

Pemprov juga mulai menerapkan kawasan Kota Tua, Jakarta Barat sebagai Zona Rendah Emisi atau Low Emission Zone (LEZ). LEZ Kota Tua diterapkan pertama kali pada 8 Februari 2021 lalu. Setelah sebelumnya hampir sebulan dilakukan uji coba. Berdasarkan pantauan, ada sejumlah jalan yang ditutup.

Kecuali bus Transjakarta, kendaraan umum baik motor dan mobil diharamkan melintas. Langkah ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara.

Namun demikian, kebijakan itu berimbas kemacetan. Saat jam sibuk, seperti pagi hari, antrean kendaraan mulai nampak menjelang Jalan Pintu Besar Utara yang ditutup. Tepatnya di dekat Museum Mandiri. Antrean bisa mengular hingga ke Jalan Pintu Besar Selatan, di pertemuan Jalan Gadjah Mada. Imbas antrean ini, bisa panjang sampai ke Pasar Glodok, Tamansari Jakarta Barat. Pengendara sepeda motor akhirnya selap-selip mencari celah di pinggir bahu jalan. Kemacetan berlanjut di Jalan Pancoran.

Masalahnya, di bahu jalan menuju Pasar Asemka ini, penuh parkir kendaraan bermotor. Akhirnya, hanya bisa dilintasi satu mobil. Selain itu, akses keluar dari Jalan Pintu Besar Selatan, yakni Jalan Pintu Besar Utara yang merupakan akses menuju Kawasan Kota Tua, ditutup.

Pemprov terus mengevaluasi program itu. Beberapa kali ruas jalan yang sebelumnya ditutup, kini dibuka, untuk mengurangi kemacetan. Seperti di Jalan Kunir-Kemukus. Sistem buka tutup dilakukan Dinas Perhubungan dengan melihat kondisi di lapangan.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Gembong Warsono mengkritik program LEZ. Akibat picu kemacetan, emisi gas buang kendaraan bermotor di kawasan Kota Tua, malah tinggi.

“Tujuan LEZ Kota Tua itu supaya nafas kita lega. Tetapi kalau kebijakan ini membuat napas kita lebih ngap-ngapan karena macet dan polusi, kan ya lebih baik dievaluasi,” kata Gembong.

Gembong menilai, penerapan kebijakan LEZ Kota Tua ini tidak disertai dengan kajian matang. Disarankannya, perlu dilakukan rekayasa arus lalu lintas yang tepat agar tidak banyak kendaraan yang melintas di sekitar Kota Tua.

Sementara, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta justru menyatakan, kualitas udara di kawasan Kota Tua membaik setelah hari pertama penerapan LEZ. Hal itu diketahui dari perangkat Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) mobile yang diletakan di lokasi itu.

“Ada dua komponen di udara yang disoroti yakni PM 2,5 dan SO2. Di tanggal 6 dan 7 Februari itu, hasilnya sedang. Setelah tanggal 8 hasilnya baik,” ungkap Kepala Seksi Penyuluhan dan Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Yogi Ikhwan.

Yogi memaparkan, dari SPKU, tercatat 7 Februari lalu kandungan SO2 berada di angka 53 dan berkurang 4 angka pada hari pertama penerapan LEZ Kota Tua pada 8 Februari. Kadar debu di kawasan Kota Tua juga berkurang. Pada 7 Februari tercatat indeks PM 2,5 berada di angka 25-28. Sehari kemudian, angkanya berkurang menjadi 18.

Dia membagikan rekapitulasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang terbaru, yakni hingga tanggal 6 sampai 9 Februari 2021. Kategori ISPU berada pada kategori sedang, kemudian berubah menjadi baik pada tanggal 8 Februari, dan menjadi sedang kembali pada tanggal 9 Februari. [FAQ]

]]> .
Kualitas udara di Jakarta membaik selama pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tak hanya udara menjadi lebih segar, siluet Gunung-Gede Pangrango dan Gunung Salak, terlihat dari Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyebut, pandemi Covid-19 membuat pergerakan masyarakat berkurang. Hal itu berdampak pada membaiknya kualitas udara.

“Kota-kota di dunia sedang berada di garis depan, untuk menghadapi tantangan dan juga peluang. Ekonomi kota yang melambat membuat banyak kota merasakan udara yang lebih bersih, termasuk di Jakarta,” kata Anies, di Jakarta, Jumat (19/2).

Tak cuma penurunan mobilitas, lanjut Wakil Ketua C40 Cities ini, moda transportasi yang digunakan masyarakat juga berubah. Masyarakat yang menggunakan sepeda meningkat 10 kali lipat. Sepeda yang sebelumnya jadi sarana olahraga kini berubah fungsi menjadi alat transportasi.

“Pandemi juga lebih mendorong integrasi berbagai moda transportasi umum, sehingga mampu melipat gandakan jumlah penumpang angkutan umum harian dalam waktu 3 tahun,” paparnya.

Ditegaskannya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI pun memberikan dukungan terhadap perubahan mobilitas masyarakat itu. Salah satunya dengan membuat jalur sepeda sepanjang 96 kilometer (km) dan 52 tempat berbagi sepeda. Jalur ini rencananya diperpanjang menjadi 500 km.

Senada, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Syaripudin mengklaim dampak positif terhadap lingkungan dari penerapan PSBB. Kualitas udara Ibu Kota membaik, dan langit biru dan cerah.

“Ini karena adanya peningkatan signifikan gaya hidup baru penggunaan sepeda sebagai alat transportasi ramah lingkungan dan adanya pengetatan kewajiban uji emisi bagi kendaraan bermotor,” kata Syaripudin.

Diakuinya, berbagai pembatasan kegiatan masyarakat, membuat mobilitas warga Jakarta yang berpergian ke luar rumah berkurang. Pencemaran udara dari kendaraan pribadi, umum dan tempat industri, menurun. Selain itu, Pemprov DKI juga terus mendorong warga beralih menggunakan transportasi umum.

“Kami juga mengerjakan perluasan moda transportasi umum, revitalisasi trotoar, integrasi berbagai moda transportasi, dan pengembangan jalur khusus sepeda di seluruh kota. Dan, mulai menerapkan uji emisi di berbagai wilayah untuk menuju udara bersih Jakarta,” terangnya.

Membaiknya udara di Ibu Kota sempat menjadi perbincangan di media sosial. Postingan foto gunung di Bogor, yang terlihat dari sejumlah jalan di Ibu Kota, oleh warga, mengundang kehebohan. Sebab, tak sedikit, netizen, tak percaya. Pantauan Rakyat Merdeka, sejumlah pegunungan di Kota Hujan, memang terlihat dari Ibu Kota.

Jagat media sosial heboh dengan foto yang diunggah akun instagram centang biru milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Rabu (17/2) lalu. Foto tersebut menggambarkan pegunungan Gede-Pangrango yang terlihat besar dari Jalan Benyamin Suaeb, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Ribuan netizen memberikan komentar. “Saya warga Kemayoran.. memang benar udaranya lagi bersih banget dan segaar… mungkin karena diguyur hujan terus kali yaa,” tulis akun @ulphes.

Akun twicester_ juga memberikan komentar positif. “Semenjak corona sering liat pemandangan gunung… Ada berkah di balik corona… Bumi emang pengen stabil lagi kayak dulu, nggak kebanyakan polusi dan bangunan tinggi-tinggi.”

 

Ada juga yang mempertanyakan kesahihan dari foto itu. “Masa sih dari Jakarta bisa lihat gunung segede gitu, kan Jakarta lumayan jauh dari gunung-gunung,” tulis akun @mir_hmzh.

Zona Rendah Emisi

Pemprov juga mulai menerapkan kawasan Kota Tua, Jakarta Barat sebagai Zona Rendah Emisi atau Low Emission Zone (LEZ). LEZ Kota Tua diterapkan pertama kali pada 8 Februari 2021 lalu. Setelah sebelumnya hampir sebulan dilakukan uji coba. Berdasarkan pantauan, ada sejumlah jalan yang ditutup.

Kecuali bus Transjakarta, kendaraan umum baik motor dan mobil diharamkan melintas. Langkah ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara.

Namun demikian, kebijakan itu berimbas kemacetan. Saat jam sibuk, seperti pagi hari, antrean kendaraan mulai nampak menjelang Jalan Pintu Besar Utara yang ditutup. Tepatnya di dekat Museum Mandiri. Antrean bisa mengular hingga ke Jalan Pintu Besar Selatan, di pertemuan Jalan Gadjah Mada. Imbas antrean ini, bisa panjang sampai ke Pasar Glodok, Tamansari Jakarta Barat. Pengendara sepeda motor akhirnya selap-selip mencari celah di pinggir bahu jalan. Kemacetan berlanjut di Jalan Pancoran.

Masalahnya, di bahu jalan menuju Pasar Asemka ini, penuh parkir kendaraan bermotor. Akhirnya, hanya bisa dilintasi satu mobil. Selain itu, akses keluar dari Jalan Pintu Besar Selatan, yakni Jalan Pintu Besar Utara yang merupakan akses menuju Kawasan Kota Tua, ditutup.

Pemprov terus mengevaluasi program itu. Beberapa kali ruas jalan yang sebelumnya ditutup, kini dibuka, untuk mengurangi kemacetan. Seperti di Jalan Kunir-Kemukus. Sistem buka tutup dilakukan Dinas Perhubungan dengan melihat kondisi di lapangan.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Gembong Warsono mengkritik program LEZ. Akibat picu kemacetan, emisi gas buang kendaraan bermotor di kawasan Kota Tua, malah tinggi.

“Tujuan LEZ Kota Tua itu supaya nafas kita lega. Tetapi kalau kebijakan ini membuat napas kita lebih ngap-ngapan karena macet dan polusi, kan ya lebih baik dievaluasi,” kata Gembong.

Gembong menilai, penerapan kebijakan LEZ Kota Tua ini tidak disertai dengan kajian matang. Disarankannya, perlu dilakukan rekayasa arus lalu lintas yang tepat agar tidak banyak kendaraan yang melintas di sekitar Kota Tua.

Sementara, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta justru menyatakan, kualitas udara di kawasan Kota Tua membaik setelah hari pertama penerapan LEZ. Hal itu diketahui dari perangkat Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) mobile yang diletakan di lokasi itu.

“Ada dua komponen di udara yang disoroti yakni PM 2,5 dan SO2. Di tanggal 6 dan 7 Februari itu, hasilnya sedang. Setelah tanggal 8 hasilnya baik,” ungkap Kepala Seksi Penyuluhan dan Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Yogi Ikhwan.

Yogi memaparkan, dari SPKU, tercatat 7 Februari lalu kandungan SO2 berada di angka 53 dan berkurang 4 angka pada hari pertama penerapan LEZ Kota Tua pada 8 Februari. Kadar debu di kawasan Kota Tua juga berkurang. Pada 7 Februari tercatat indeks PM 2,5 berada di angka 25-28. Sehari kemudian, angkanya berkurang menjadi 18.

Dia membagikan rekapitulasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang terbaru, yakni hingga tanggal 6 sampai 9 Februari 2021. Kategori ISPU berada pada kategori sedang, kemudian berubah menjadi baik pada tanggal 8 Februari, dan menjadi sedang kembali pada tanggal 9 Februari. [FAQ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories