Proyek Lumbung Ikan Nasional Diramal Serap Puluhan Ribu Nelayan .

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyatakan, berbagai potensi kegiatan ekonomi terdapat pada pengembangan program Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Maluku. Jika ditaksir dapat menyerap puluhan ribu nelayan.
Perkiraan itu didapat dari hasil hitungan pihaknya soal proyeksi adanya 55 industri pengolahan ikan dalam proyek tersebut.

“Kemudian 4 industri galangan kapal diharapkan bisa tumbuh di sana. Lalu, penyerapan tenaga meliputi 20 ribu nelayan atau ABK (anak buah kapal), 500 petugas pelabuhan perikanan, 2 ribu pedagang ikan, 11 ribu pekerja industri perikanan,” ucap Trenggono dalam keterangannya yang dikutip, Senin (15/2).

Dia menjelaskan, potensi perikanan tangkap di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 714, 715 dan 718 di daerah Maluku yang belum dimanfaatkan mencapai 2,315 juta ton pada tahun 2019.
Jika digunakan 25% atau 579 ribu ton, KKP memproyeksikan perputaran ekonomi per hari mencapai Rp 31 miliar.

Trenggono juga mengungkapkan keinginannya membangun pabrik tepung ikan di sana. Pembangunan ini dianggap penting, untuk meminimalisasi impor produk yang menjadi bahan baku pembuatan pakan ikan tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pembangunan pelabuhan terpadu sebagai infrastruktur dasar program LIN dapat segera dilakukan. Dia meyakini program tersebut akan membangun sumber ekonomi baru di lautan dan daratan Maluku.

Pembangunan pelabuhan sendiri akan dilakukan oleh Kementerian Perhubungan bersama dengan KKP. “Presiden (Joko Widodo) ingin agar semua processing itu dilakukan di darat. Dengan pemahaman bahwa pendapatan negara dan daerah itu dapat di kontrol, menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja baru,” pungkasnya. [EFI]

]]> .
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyatakan, berbagai potensi kegiatan ekonomi terdapat pada pengembangan program Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Maluku. Jika ditaksir dapat menyerap puluhan ribu nelayan.
Perkiraan itu didapat dari hasil hitungan pihaknya soal proyeksi adanya 55 industri pengolahan ikan dalam proyek tersebut.

“Kemudian 4 industri galangan kapal diharapkan bisa tumbuh di sana. Lalu, penyerapan tenaga meliputi 20 ribu nelayan atau ABK (anak buah kapal), 500 petugas pelabuhan perikanan, 2 ribu pedagang ikan, 11 ribu pekerja industri perikanan,” ucap Trenggono dalam keterangannya yang dikutip, Senin (15/2).

Dia menjelaskan, potensi perikanan tangkap di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 714, 715 dan 718 di daerah Maluku yang belum dimanfaatkan mencapai 2,315 juta ton pada tahun 2019.
Jika digunakan 25% atau 579 ribu ton, KKP memproyeksikan perputaran ekonomi per hari mencapai Rp 31 miliar.

Trenggono juga mengungkapkan keinginannya membangun pabrik tepung ikan di sana. Pembangunan ini dianggap penting, untuk meminimalisasi impor produk yang menjadi bahan baku pembuatan pakan ikan tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pembangunan pelabuhan terpadu sebagai infrastruktur dasar program LIN dapat segera dilakukan. Dia meyakini program tersebut akan membangun sumber ekonomi baru di lautan dan daratan Maluku.

Pembangunan pelabuhan sendiri akan dilakukan oleh Kementerian Perhubungan bersama dengan KKP. “Presiden (Joko Widodo) ingin agar semua processing itu dilakukan di darat. Dengan pemahaman bahwa pendapatan negara dan daerah itu dapat di kontrol, menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja baru,” pungkasnya. [EFI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories