Protes Ditertibkan Satpol PP Saat Beraksi Di Jalanan Pengamen Ondel-ondel Minta Dibikinin Hajatan

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta menggelar operasi untuk menertibkan ondel-ondel, kesenian khas Betawi, yang digunakan untuk mengamen.

Satpol PP memandang praktik itu bentuk menyalagunakan kesenian. Apalagi, saat mengamen mengganggu ketertiban.

Di Ibu Kota sangat gampang menemukan pengamen ondel-ondel di jalanan. Sebab, mereka beroperasi tidak kenal waktu. Dari pagi sampai tengah malam. Berkeliling dari kampung satu ke kampung yang lain. Dari jalan satu ke ruas jalan lainnya. Biasanya mereka keliling di tempat ramai. Perempatan jalan, pasar, dan wilayah yang banyak tempat makannya.

Ada yang bawa satu ondel-ondel. Ada juga yang lebih. Sudah hampir pasti, mereka lebih dari satu orang. Ada yang bertugas mengoperasikan ondel-ondel, pembawa pelantang suara yang biasanya memainkan lagu-lagu Betawi. Dan, terkadang lagu remix khas pasar malam. Ada juga yang tugasnya meminta duit ke orang-orang yang ditemuinya.

Tak hanya itu, ada pula kelompok yang sangat lengkap. Personelnya lebih dari lima. Bawa ondel-ondel dan satu set lengkap alat kesenian musik Betawi mulai dar gendang tepak, gendang kempul, kenong kemong, krecek, gong dan tehyan ataupun terompet. Kelompok ini agak jarang ditemui.

Sebagian pemain ondel-ondel mengaku terpaksa turun ke jalan karena tak ada hajatan yang memakai jasanya. Apalagi, di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

“Nggak ada yang nanggap, jadi di jalanan pentasnya. Ya buat jajan aja sama temen-temen. Selebihnya buat orang tua di rumah,” aku pemain ondel-ondel yang enggan disebut namanya saat ditemui di wilayah perbatasan Jakarta Selatan.

Dia setuju ondel-ondel dilarang turun ke jalanan. Tapi, mereka berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendata seluruh pelaku seni Betawi dan memberi bantuan kepada mereka.

“Lagi pandemi begini, kasih kami pentas untuk kegiatan apa saja, kami mau. Kalau nggak ada panggilan, ya kami turun ke jalan, ke kampung-kampung,” ungkapnya yang mengakui, keberadaan ondel-ondel di jalanan memang mengganggu lalu lintas.

Tak semua pengamen ondel-ondel, pelaku seni kebudayaan Betawi. Banyak juga memang sindikat pengamen ondel-ondel. Ada semacam sindikit yang menyewakan, meminjam, hingga menurunkan dengan angkot kelompok pengamen ondel-ondel ini di berbagai wilayah ibu kota.

Satpol PP Nyamar

Satpol PPDKI Jakarta menggelar razia besar-besaran terhadap pengamen yang memakai ondel-ondel di jalan raya maupun perkampungan ibu kota, Rabu (24/03).

Di Jakarta Timur (Jaktim), petugas Satpol PP menyamar dalam melakukan penertiban dalam operasi berkode Asih-asuh ini. Petugas berpakaian biasa menuju jalan-jalan tempat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti ondel-ondel beroperasi. Begitu ketemu, petugas yang nyamar ini menyergap. Petugas lainnya pun datang.

 

Seperti di Jalan I Gusti Ngurah Rai, petugas yang nyamar berhenti dan membangunkan manusia robot yang biasa ngamen tengah tidur sore di salah satu bangku halte. Petugas lainnya datang dengan mobil Satpol PP. Manusia robot ini pun dibawa.

Masih di Gusti Ngurah Rai, tak jauh dari lokasi manusia robot, petugas kembali menangkap tiga remaja pengamen ondel-ondel. Salah satu remaja yang ditangkap memakai kaos bertuliskan Sanggar Rifki Betawi dengan dua gambar wajah ondel-ondel. Ia dan dua temannya, pasrah membopong ondel-ondel ke ke mobil Satpol PP.

Kepala Satpol PPKota Jaktim, Budhy Novia menyatakan, Operasi Asih-Asuh ini, dilakukan serentak di 10 kecamatan Kota Jakarta Timur sejak Rabu lalu. Total petugas yang turun hampir 200 orang.

Secara keseluruhan, pada Rabu lalu hingga pukul 21.00 malam, jajarannya telah menciduk 13 ondel-ondel. Secara total, Pemerintah kota (Pemkot) Jaktim menciduk 91 PMKS. Yakni 5 manusia silver, 13 ondel-ondel, 42 pengamen, 15 Pak Ogah, dua gelandangan dan pengemis, 5 manusia gerobak, serta 8 orang dari golongan lain. Mereka dibawa ke GOR Ciracas untuk melakukan tes swab antigen. Untungnya, semuanya nonreaktif.

Khusus ondel-ondel, kata Budhy, ini adalah simbol budaya Betawi yang tak boleh dipakai untuk merendahkan martabat budaya tersebut. Ondel-ondel untuk mengamen juga dilarang sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Dia pun telah berkoordinasi dengan lembaga adat Betawi seperti Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dan sejumlah organisasi masyarakat (Ormas).

“Kami juga meminta masukan kepada budayawan Betawi. Mereka menyetujui perlu dilakukan penertiban. Kami juga minta Dinas Kebudayaan DKI, mungkin bisa tampil di 5 tempat rekreasi yang ada di wilayah Pemerintah Kota Jakarta Timur, kemudian dibayar Pemkot atau Dinas. Kita carikan solusinya,” ungkapnya.

Di hari yang sama, di Jakarta Selatan (Jaksel), puluhan PMKS terdiri dari ondel-ondel, manusia silver, gelandangan, pengamen, pemulung, dan badut, terjaring razia Operasi Asih Asuh.

Kepala Satpol PPJaksel, Ujang Hermawan menyebut, ada 70 PMKS yang keciduk. Paling banyak pengamen ondel-ondel, ada 18 orang. Para PMKS ini berasal dari wilayah Jaksel dan di luar Jakarta. Mereka dibawa ke Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Pasar Minggu.

Ujang mengatakan, pihaknya akan rutin menggelar razia. Operasi Asih Asuh ini akan digelar di 10 kecamatan dan 65 kelurahan di Jaksel, dua kali setiap minggu yakni hari Rabu dan Jumat.

“Kami memastikan, Satpol PP tidak akan bertindak kasar, tetapi tetap tegas. Sehingga target 83 titik rawan PMKS yang harus kita jaga, mudah-mudahan steril,” ungkap Ujang.

Jatuhi Sanksi Pidana

Kepala Satpol PP DKI Arifin akan menjatuhkan sanksi Tindak Pidana Ringan (Tipiring) bagi pemilik penyewaan ondel-ondel yang digunakan untuk mengamen. Sanksi tipiring ini menurut Arifin diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Ditegaskannya, petugas Satpol PP tidak akan mengambil ondel-ondel.

“Tidak ada penyitaan ondel-ondel,” tandasnya. [FAQ]

]]> Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta menggelar operasi untuk menertibkan ondel-ondel, kesenian khas Betawi, yang digunakan untuk mengamen.

Satpol PP memandang praktik itu bentuk menyalagunakan kesenian. Apalagi, saat mengamen mengganggu ketertiban.

Di Ibu Kota sangat gampang menemukan pengamen ondel-ondel di jalanan. Sebab, mereka beroperasi tidak kenal waktu. Dari pagi sampai tengah malam. Berkeliling dari kampung satu ke kampung yang lain. Dari jalan satu ke ruas jalan lainnya. Biasanya mereka keliling di tempat ramai. Perempatan jalan, pasar, dan wilayah yang banyak tempat makannya.

Ada yang bawa satu ondel-ondel. Ada juga yang lebih. Sudah hampir pasti, mereka lebih dari satu orang. Ada yang bertugas mengoperasikan ondel-ondel, pembawa pelantang suara yang biasanya memainkan lagu-lagu Betawi. Dan, terkadang lagu remix khas pasar malam. Ada juga yang tugasnya meminta duit ke orang-orang yang ditemuinya.

Tak hanya itu, ada pula kelompok yang sangat lengkap. Personelnya lebih dari lima. Bawa ondel-ondel dan satu set lengkap alat kesenian musik Betawi mulai dar gendang tepak, gendang kempul, kenong kemong, krecek, gong dan tehyan ataupun terompet. Kelompok ini agak jarang ditemui.

Sebagian pemain ondel-ondel mengaku terpaksa turun ke jalan karena tak ada hajatan yang memakai jasanya. Apalagi, di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

“Nggak ada yang nanggap, jadi di jalanan pentasnya. Ya buat jajan aja sama temen-temen. Selebihnya buat orang tua di rumah,” aku pemain ondel-ondel yang enggan disebut namanya saat ditemui di wilayah perbatasan Jakarta Selatan.

Dia setuju ondel-ondel dilarang turun ke jalanan. Tapi, mereka berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendata seluruh pelaku seni Betawi dan memberi bantuan kepada mereka.

“Lagi pandemi begini, kasih kami pentas untuk kegiatan apa saja, kami mau. Kalau nggak ada panggilan, ya kami turun ke jalan, ke kampung-kampung,” ungkapnya yang mengakui, keberadaan ondel-ondel di jalanan memang mengganggu lalu lintas.

Tak semua pengamen ondel-ondel, pelaku seni kebudayaan Betawi. Banyak juga memang sindikat pengamen ondel-ondel. Ada semacam sindikit yang menyewakan, meminjam, hingga menurunkan dengan angkot kelompok pengamen ondel-ondel ini di berbagai wilayah ibu kota.

Satpol PP Nyamar

Satpol PPDKI Jakarta menggelar razia besar-besaran terhadap pengamen yang memakai ondel-ondel di jalan raya maupun perkampungan ibu kota, Rabu (24/03).

Di Jakarta Timur (Jaktim), petugas Satpol PP menyamar dalam melakukan penertiban dalam operasi berkode Asih-asuh ini. Petugas berpakaian biasa menuju jalan-jalan tempat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti ondel-ondel beroperasi. Begitu ketemu, petugas yang nyamar ini menyergap. Petugas lainnya pun datang.

 

Seperti di Jalan I Gusti Ngurah Rai, petugas yang nyamar berhenti dan membangunkan manusia robot yang biasa ngamen tengah tidur sore di salah satu bangku halte. Petugas lainnya datang dengan mobil Satpol PP. Manusia robot ini pun dibawa.

Masih di Gusti Ngurah Rai, tak jauh dari lokasi manusia robot, petugas kembali menangkap tiga remaja pengamen ondel-ondel. Salah satu remaja yang ditangkap memakai kaos bertuliskan Sanggar Rifki Betawi dengan dua gambar wajah ondel-ondel. Ia dan dua temannya, pasrah membopong ondel-ondel ke ke mobil Satpol PP.

Kepala Satpol PPKota Jaktim, Budhy Novia menyatakan, Operasi Asih-Asuh ini, dilakukan serentak di 10 kecamatan Kota Jakarta Timur sejak Rabu lalu. Total petugas yang turun hampir 200 orang.

Secara keseluruhan, pada Rabu lalu hingga pukul 21.00 malam, jajarannya telah menciduk 13 ondel-ondel. Secara total, Pemerintah kota (Pemkot) Jaktim menciduk 91 PMKS. Yakni 5 manusia silver, 13 ondel-ondel, 42 pengamen, 15 Pak Ogah, dua gelandangan dan pengemis, 5 manusia gerobak, serta 8 orang dari golongan lain. Mereka dibawa ke GOR Ciracas untuk melakukan tes swab antigen. Untungnya, semuanya nonreaktif.

Khusus ondel-ondel, kata Budhy, ini adalah simbol budaya Betawi yang tak boleh dipakai untuk merendahkan martabat budaya tersebut. Ondel-ondel untuk mengamen juga dilarang sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Dia pun telah berkoordinasi dengan lembaga adat Betawi seperti Badan Musyawarah (Bamus) Betawi dan sejumlah organisasi masyarakat (Ormas).

“Kami juga meminta masukan kepada budayawan Betawi. Mereka menyetujui perlu dilakukan penertiban. Kami juga minta Dinas Kebudayaan DKI, mungkin bisa tampil di 5 tempat rekreasi yang ada di wilayah Pemerintah Kota Jakarta Timur, kemudian dibayar Pemkot atau Dinas. Kita carikan solusinya,” ungkapnya.

Di hari yang sama, di Jakarta Selatan (Jaksel), puluhan PMKS terdiri dari ondel-ondel, manusia silver, gelandangan, pengamen, pemulung, dan badut, terjaring razia Operasi Asih Asuh.

Kepala Satpol PPJaksel, Ujang Hermawan menyebut, ada 70 PMKS yang keciduk. Paling banyak pengamen ondel-ondel, ada 18 orang. Para PMKS ini berasal dari wilayah Jaksel dan di luar Jakarta. Mereka dibawa ke Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Pasar Minggu.

Ujang mengatakan, pihaknya akan rutin menggelar razia. Operasi Asih Asuh ini akan digelar di 10 kecamatan dan 65 kelurahan di Jaksel, dua kali setiap minggu yakni hari Rabu dan Jumat.

“Kami memastikan, Satpol PP tidak akan bertindak kasar, tetapi tetap tegas. Sehingga target 83 titik rawan PMKS yang harus kita jaga, mudah-mudahan steril,” ungkap Ujang.

Jatuhi Sanksi Pidana

Kepala Satpol PP DKI Arifin akan menjatuhkan sanksi Tindak Pidana Ringan (Tipiring) bagi pemilik penyewaan ondel-ondel yang digunakan untuk mengamen. Sanksi tipiring ini menurut Arifin diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Ditegaskannya, petugas Satpol PP tidak akan mengambil ondel-ondel.

“Tidak ada penyitaan ondel-ondel,” tandasnya. [FAQ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories