Proses Vaksin Sel Dendritik Mahal, Tidak Relevan Ahli Biologi Molekuler: Kita Jangan Terdistraksi Polemik Vaksin Nusantara .

Ahli Biologi Molekuler Dr. Ines Atmosukarto meminta konsentrasi penanganan pandemi Covid di Tanah Air, tidak buyar oleh berita-berita tentang pengembangan vaksin Covid-19 Nusantara, yang antara lain diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Mari kita tidak terdistraksi dengan polemik vaksin nusantara,” ajak Ines lewat akun Twitternya, Jumat (19/2).

Peneliti Australian National University yang juga bos Lipotek – perusahaan startup bioteknologi yang berpusat di Canberra, Australia – memberikan 4 catatan penting terkait penanganan Covid di Tanah Air.

Pertama, pelaporan data yang mengalami kendala. Kedua, logistik pelaksanaan vaksinasi, yang juga terkait persiapan pemerintah untuk vaksinasi selanjutnya. Ketiga, upaya memasifkan 3T (testing, tracing, dan treatment) terkait jumlah tes yang cenderung menurun.

Keempat, capaian vaksinasi yang masih rendah. Asal tahu saja, sejak digulirkan pada 13 Januari 2021, program vaksinasi Covid dosis pertama baru menjangkau 1.164.144 orang.

Kelima, rencana vaksin gotong royong atau vaksin mandiri yang berpeluang mengancam target populasi prioritas poin 2 dan 3. Terkait hal ini, Ines meminta masyarakat umum yang ingin divaksin, agar bersabar menunggu vaksinasi pada kelompok prioritas selesai.

“Program Vaksin Mandiri berpeluang mengancam proses prioritisasi vaksinasi di masa pandemi. Sebelum vaksinasi pada kelompok prioritas 1 – 3 terselesaikan, diskusi vaksin berbayar berpeluang mengancam efektivitas strategi vaksinasi nasional. Mbok ya sabar kenapa sih,” cuit Ines.

 

Kritik Vaksin Terawan

Sebelumnya, Ines mempertanyakan strategi ilmiah vaksin Nusantara Terawan yang berbasis sel dendritik, untuk virus saluran pernafasan di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, pendekatan sel dendritik, sudah diteliti sejak tahun 2000-an untuk imunoterapi kanker.

“Proses vaksin sel dendritik mahal, dan tidak relevan utk vaksinasi terhadap virus saluran pernafasan,” kritiknya.

Saat ini, kata Ines, yang kita perlukan adalah penelitian yang fokus pada desain vaksin dan penelitian, sehingga xapat menghasilkan vaksin yang bagus terhadap semua varian.

“Sekarang, sudah ada 6 vaksin yang disuntik langsung, yang dapat memicu respon imun yang baik. Untuk apa menggunakan pendekatan berbelit2, kalau suntikan langsung cukup?” tukasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ines juga menegaskan, dirinya bukanlah kelompok anti vaksin. Ia mendukung penelitian berkualitas di Indonesia.

“Banyak yang bertanya kenapa saya kritik vaksin dendritik untuk Covid-19. Apakah saya antivaxxer???????? JELAS TIDAK. Saya peneliti RnD di bidang vaksin dan saya mendukung pelaksanan penelitian berkualitas di Indonesia,” tegasnya. [SAR]

]]> .
Ahli Biologi Molekuler Dr. Ines Atmosukarto meminta konsentrasi penanganan pandemi Covid di Tanah Air, tidak buyar oleh berita-berita tentang pengembangan vaksin Covid-19 Nusantara, yang antara lain diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Mari kita tidak terdistraksi dengan polemik vaksin nusantara,” ajak Ines lewat akun Twitternya, Jumat (19/2).

Peneliti Australian National University yang juga bos Lipotek – perusahaan startup bioteknologi yang berpusat di Canberra, Australia – memberikan 4 catatan penting terkait penanganan Covid di Tanah Air.

Pertama, pelaporan data yang mengalami kendala. Kedua, logistik pelaksanaan vaksinasi, yang juga terkait persiapan pemerintah untuk vaksinasi selanjutnya. Ketiga, upaya memasifkan 3T (testing, tracing, dan treatment) terkait jumlah tes yang cenderung menurun.

Keempat, capaian vaksinasi yang masih rendah. Asal tahu saja, sejak digulirkan pada 13 Januari 2021, program vaksinasi Covid dosis pertama baru menjangkau 1.164.144 orang.

Kelima, rencana vaksin gotong royong atau vaksin mandiri yang berpeluang mengancam target populasi prioritas poin 2 dan 3. Terkait hal ini, Ines meminta masyarakat umum yang ingin divaksin, agar bersabar menunggu vaksinasi pada kelompok prioritas selesai.

“Program Vaksin Mandiri berpeluang mengancam proses prioritisasi vaksinasi di masa pandemi. Sebelum vaksinasi pada kelompok prioritas 1 – 3 terselesaikan, diskusi vaksin berbayar berpeluang mengancam efektivitas strategi vaksinasi nasional. Mbok ya sabar kenapa sih,” cuit Ines.

 

Kritik Vaksin Terawan

Sebelumnya, Ines mempertanyakan strategi ilmiah vaksin Nusantara Terawan yang berbasis sel dendritik, untuk virus saluran pernafasan di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, pendekatan sel dendritik, sudah diteliti sejak tahun 2000-an untuk imunoterapi kanker.

“Proses vaksin sel dendritik mahal, dan tidak relevan utk vaksinasi terhadap virus saluran pernafasan,” kritiknya.

Saat ini, kata Ines, yang kita perlukan adalah penelitian yang fokus pada desain vaksin dan penelitian, sehingga xapat menghasilkan vaksin yang bagus terhadap semua varian.

“Sekarang, sudah ada 6 vaksin yang disuntik langsung, yang dapat memicu respon imun yang baik. Untuk apa menggunakan pendekatan berbelit2, kalau suntikan langsung cukup?” tukasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ines juga menegaskan, dirinya bukanlah kelompok anti vaksin. Ia mendukung penelitian berkualitas di Indonesia.

“Banyak yang bertanya kenapa saya kritik vaksin dendritik untuk Covid-19. Apakah saya anti-vaxxer???????? JELAS TIDAK. Saya peneliti RnD di bidang vaksin dan saya mendukung pelaksanan penelitian berkualitas di Indonesia,” tegasnya. [SAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories