Program PEN Dinilai Efektif Tingkatkan Ketahanan Ekonomi

Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 23 Tahun 2020.

Kepala Departemen Ekonomi Centre of Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) efektif membantu perbaikan ekonomi tengah krisis pandemi.

Menurut Yose, berbagai stimulus yang diberikan dalam program PEN secara tidak langsung mampu meningkatkan ketahanan ekonomi secara keseluruhan.

“Pertumbuhan ekonomi alami peningkatan dan semakin menguat pada kuartal II-2021. Hal ini tercermin dari PMI (Purchasing Manager’s Index) Manufaktur yang terus meningkat ke level 55,3 di Mei 2021 dibandingkan pada April 2021. Melalui program PEN, pertumbuhan ekonomi semakin bergerak ke arah positif,” ujar Yose, Kamis (3/6). 

Terkait dengan PEN, Yose menyoroti pemberian bantuan sosial (bansos) yang dinilai efektif meningkatkan permintaan terhadap perekonomian. Ia menyebut, pemberian bansos harus terus dilakukan hingga akhir tahun ini.

“Pemberian bansos ini harus dilakukan sampai konsumsi masyarakat sudah mulai berjalan stabil sehingga dunia usaha juga telah meningkatkan produksinya yang secara tidak langsung lapangan kerja kembali tersedia,” sarannya.

Selain itu, dia juga memandang, pemerintah perlu memiliki strategi yang tepat untuk menentukan stimulus yang dapat mempengaruhi pengeluaran masyarakat secara langsung. “Saya kira pemberian bansos ini merupakan salah satu program yang cukup efektif dalam PEN,” jelas Yose.

Hal senada diungkapkan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah. Dia mengatakan, berbagai stimulus yang diberikan pemerintah melalui program PEN telah mampu membangun ketahanan ekonomi dan masyarakat dalam menghadapi pandemi.

“Program PEN sangat membantu ekonomi masyarakat untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19. Meski PEN tidak mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung tetapi ekonomi masyarakat sangat terbantu dengan adanya berbagai stimulus yang diberikan,” jelas Piter.

Namun demikian, kata Piter, pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Sehingga kemungkinan adanya lonjakan kasus Covid-19 dapat terjadi sewaktu-waktu dan dapat berdampak besar terhadap perekonomian nasional.

“Hal ini perlu diwaspadai dengan pelaksanaan vaksinasi yang merata dan menyeluruh terhadap kelompok rentan. Selain itu, dalam sisi ekonomi, pemerintah perlu mempertahankan stimulus yang telah terbukti berpengaruh terhadap ketahanan dan pertumbuhan ekonomi,” tutupnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan realisasi PEN hingga 11 Mei 2021 mencapai Rp172,35 triliun.

Angka tersebut setara dengan 24 persen dari total pagu anggaran sebesar Rp 669,4 Triliun. Lebih rinci, realisasi PEN tersebut meliputi Program Kesehatan sebesar Rp 24,9 triliun atau 14,2 persen dari pagu. Realiasi Program Prioritas mencapai Rp 21,8 triliun atau Rp 17,6 persen dari pagu.

Sedangkan realisasi Program Dukungan UMKM dan Korporasi mencapai Rp 42,03 triliun atau 21,7 persen dari pagu dan Program Insentif Usaha sebesar Rp 26,83 triliun atau 47,2 persen dari pagu. [TIF]

]]> Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 23 Tahun 2020.

Kepala Departemen Ekonomi Centre of Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) efektif membantu perbaikan ekonomi tengah krisis pandemi.

Menurut Yose, berbagai stimulus yang diberikan dalam program PEN secara tidak langsung mampu meningkatkan ketahanan ekonomi secara keseluruhan.

“Pertumbuhan ekonomi alami peningkatan dan semakin menguat pada kuartal II-2021. Hal ini tercermin dari PMI (Purchasing Manager’s Index) Manufaktur yang terus meningkat ke level 55,3 di Mei 2021 dibandingkan pada April 2021. Melalui program PEN, pertumbuhan ekonomi semakin bergerak ke arah positif,” ujar Yose, Kamis (3/6). 

Terkait dengan PEN, Yose menyoroti pemberian bantuan sosial (bansos) yang dinilai efektif meningkatkan permintaan terhadap perekonomian. Ia menyebut, pemberian bansos harus terus dilakukan hingga akhir tahun ini.

“Pemberian bansos ini harus dilakukan sampai konsumsi masyarakat sudah mulai berjalan stabil sehingga dunia usaha juga telah meningkatkan produksinya yang secara tidak langsung lapangan kerja kembali tersedia,” sarannya.

Selain itu, dia juga memandang, pemerintah perlu memiliki strategi yang tepat untuk menentukan stimulus yang dapat mempengaruhi pengeluaran masyarakat secara langsung. “Saya kira pemberian bansos ini merupakan salah satu program yang cukup efektif dalam PEN,” jelas Yose.

Hal senada diungkapkan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah. Dia mengatakan, berbagai stimulus yang diberikan pemerintah melalui program PEN telah mampu membangun ketahanan ekonomi dan masyarakat dalam menghadapi pandemi.

“Program PEN sangat membantu ekonomi masyarakat untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19. Meski PEN tidak mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung tetapi ekonomi masyarakat sangat terbantu dengan adanya berbagai stimulus yang diberikan,” jelas Piter.

Namun demikian, kata Piter, pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Sehingga kemungkinan adanya lonjakan kasus Covid-19 dapat terjadi sewaktu-waktu dan dapat berdampak besar terhadap perekonomian nasional.

“Hal ini perlu diwaspadai dengan pelaksanaan vaksinasi yang merata dan menyeluruh terhadap kelompok rentan. Selain itu, dalam sisi ekonomi, pemerintah perlu mempertahankan stimulus yang telah terbukti berpengaruh terhadap ketahanan dan pertumbuhan ekonomi,” tutupnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan realisasi PEN hingga 11 Mei 2021 mencapai Rp172,35 triliun.

Angka tersebut setara dengan 24 persen dari total pagu anggaran sebesar Rp 669,4 Triliun. Lebih rinci, realisasi PEN tersebut meliputi Program Kesehatan sebesar Rp 24,9 triliun atau 14,2 persen dari pagu. Realiasi Program Prioritas mencapai Rp 21,8 triliun atau Rp 17,6 persen dari pagu.

Sedangkan realisasi Program Dukungan UMKM dan Korporasi mencapai Rp 42,03 triliun atau 21,7 persen dari pagu dan Program Insentif Usaha sebesar Rp 26,83 triliun atau 47,2 persen dari pagu. [TIF]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories