Program Kartu Prakerja Selamatkan Masyarakat Dari Gelombang PHK Saat Pandemi Covid

Peneliti Ahli Utama Kebijakan Publik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syafuan Rozi Soebhan mengapresiasi kesuksesan program kartu Prakerja, karena memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. 

Menurutnya, kartu Prakerja menjadi solusi bagi masyarakat atau pekerja yang terkena dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan perusahan akibat pandemi Covid-19.

“Di masa pandemi masyarakat yang tertekan memerlukan terobosan dan inovasi. Kartu Prakerja menjadi satu-satunya kartu penyelamat ketika banyak masyarakat menganggur, berhenti dan bisa memanfaatkan kartu tersebut,” kata Syafuan Rozi saat dihubungi, Sabtu (18/6).

Menurut Syafuan, ke depan pemanfaatan kartu Prakerja perlu ditambahkan lagi. Selain tempat pelatihan dan permodalan usaha, perlu dipertajam lagi kartu Prakerja ini dihubungkan dengan marketing agar pelatihan dan modal yang didapatkan bisa tersalurkan dengan baik ke pasar. 

Terobosan ini, kata Syafuan, akan linier dengan sistem yang digunakan saat ini yakni aplikasi digital pada kartu Prakerja.

“Nah, perlu dipertajam lagi bagaimana kartu Prakerja itu punya hubungan dengan marketing. Jadi, kalau sudah punya pekerjaan dan sudah dapat modal, bagaimana produk barang dan jasa itu bisa masuk ke pasar. Artinya, era sekarang harus terhubung dengan aplikasi digital,” jelas Syafuan.

Pasalnya, lanjut Syafuan, jika seseorang sudah mendapat pelatihan dan modal namun belum mendapatkan pasar, maka kartu Prakerja yang dimiliki tidak akan berguna. Oleh sebab itu, perlu tambahan pemanfaatan Kartu Prakerja, yakni digital marketing.

“Karena kita sudah masuk di era manfaat dunia digital untuk barang dan jasa,” ujarnya.

Sejauh ini, program Kartu Prakerja berjalan secara bertahap dan sudah memasuki gelombang ke-32. 

Namun, Syafuan menyarankan para penerima Kartu Prakerja di-update kembali kepada orang-orang yang pindah tempat tinggal. Baik dari satu kota ke kota lain di dalam negeri, atau buat orang-orang di luar negeri yang kembali ke Indonesia.

“Saya yakin BPS juga punya data berapa orang yang masih mencari pekerjaan, berapa orang yang migrasi atau pulang dari kota lama ke kota baru, dari tempat lama ke tempat yang baru,” jelasnya.

Sekarang, data itu sangat penting sekali, migrasi orang yang tidak punya pekerjaan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Presiden Jokowi mengatakan, program Kartu Prakerja sukses meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya, kunci kemajuan negara adalah sumber daya manusia, bukan sumber daya alam.

Peningkatan kualitas SDM saat ini juga tidak mungkin dilakukan tanpa memanfaatkan platform digital. 

“Program Kartu Prakerja terbukti bermanfaat kepada masyarakat sampai pelosok. Apalagi tidak ada dana insentif yang melewati pihak lain, tapi dana langsung dari Kementerian Keuangan ke penerima manfaat,” ungkap Presiden Jokowi melalui YouTube Sekretariat Presiden, dikutip Sabtu, (18/6).

Hingga saat ini, 115 juta masyarakat telah mendaftar untuk mengikuti program Kartu Prakerja, tetapi yang terverifikasi sebanyak 84 juta, dan yang diterima sebanyak 12,8 juta.

Kepala Negara pun mengatakan, menurut survei BPS sebanyak 88,9 persen penerima mengaku program Kartu Prakerja telah meningkatkan keterampilan. 

“Tahun depan program akan berjalan, anggaran sudah disiapkan,” tegas Jokowi. ■

 

 

 

]]> Peneliti Ahli Utama Kebijakan Publik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syafuan Rozi Soebhan mengapresiasi kesuksesan program kartu Prakerja, karena memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. 

Menurutnya, kartu Prakerja menjadi solusi bagi masyarakat atau pekerja yang terkena dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan perusahan akibat pandemi Covid-19.

“Di masa pandemi masyarakat yang tertekan memerlukan terobosan dan inovasi. Kartu Prakerja menjadi satu-satunya kartu penyelamat ketika banyak masyarakat menganggur, berhenti dan bisa memanfaatkan kartu tersebut,” kata Syafuan Rozi saat dihubungi, Sabtu (18/6).

Menurut Syafuan, ke depan pemanfaatan kartu Prakerja perlu ditambahkan lagi. Selain tempat pelatihan dan permodalan usaha, perlu dipertajam lagi kartu Prakerja ini dihubungkan dengan marketing agar pelatihan dan modal yang didapatkan bisa tersalurkan dengan baik ke pasar. 

Terobosan ini, kata Syafuan, akan linier dengan sistem yang digunakan saat ini yakni aplikasi digital pada kartu Prakerja.

“Nah, perlu dipertajam lagi bagaimana kartu Prakerja itu punya hubungan dengan marketing. Jadi, kalau sudah punya pekerjaan dan sudah dapat modal, bagaimana produk barang dan jasa itu bisa masuk ke pasar. Artinya, era sekarang harus terhubung dengan aplikasi digital,” jelas Syafuan.

Pasalnya, lanjut Syafuan, jika seseorang sudah mendapat pelatihan dan modal namun belum mendapatkan pasar, maka kartu Prakerja yang dimiliki tidak akan berguna. Oleh sebab itu, perlu tambahan pemanfaatan Kartu Prakerja, yakni digital marketing.

“Karena kita sudah masuk di era manfaat dunia digital untuk barang dan jasa,” ujarnya.

Sejauh ini, program Kartu Prakerja berjalan secara bertahap dan sudah memasuki gelombang ke-32. 

Namun, Syafuan menyarankan para penerima Kartu Prakerja di-update kembali kepada orang-orang yang pindah tempat tinggal. Baik dari satu kota ke kota lain di dalam negeri, atau buat orang-orang di luar negeri yang kembali ke Indonesia.

“Saya yakin BPS juga punya data berapa orang yang masih mencari pekerjaan, berapa orang yang migrasi atau pulang dari kota lama ke kota baru, dari tempat lama ke tempat yang baru,” jelasnya.

Sekarang, data itu sangat penting sekali, migrasi orang yang tidak punya pekerjaan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Presiden Jokowi mengatakan, program Kartu Prakerja sukses meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya, kunci kemajuan negara adalah sumber daya manusia, bukan sumber daya alam.

Peningkatan kualitas SDM saat ini juga tidak mungkin dilakukan tanpa memanfaatkan platform digital. 

“Program Kartu Prakerja terbukti bermanfaat kepada masyarakat sampai pelosok. Apalagi tidak ada dana insentif yang melewati pihak lain, tapi dana langsung dari Kementerian Keuangan ke penerima manfaat,” ungkap Presiden Jokowi melalui YouTube Sekretariat Presiden, dikutip Sabtu, (18/6).

Hingga saat ini, 115 juta masyarakat telah mendaftar untuk mengikuti program Kartu Prakerja, tetapi yang terverifikasi sebanyak 84 juta, dan yang diterima sebanyak 12,8 juta.

Kepala Negara pun mengatakan, menurut survei BPS sebanyak 88,9 persen penerima mengaku program Kartu Prakerja telah meningkatkan keterampilan. 

“Tahun depan program akan berjalan, anggaran sudah disiapkan,” tegas Jokowi. ■

 

 

 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories