Prof. Tjandra: RI Harus Pimpin Diplomasi Tuberkulosis Internasional Di G20 Dan ASEAN

Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Prof  Tjandra Yoga Aditama menegaskan, tuberkulosis (TB) adalah masalah kesehatan penting dunia.

Memang, kasus TB tidaklah menyebar merata antar negara-negara di dunia. Ada yang masih tinggi, ada juga yang relatif rendah.

Tahun 1988, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan istilah High Burden Country (HBC) atau negara dengan beban tuberkulosis yang tinggi.

Mulanya, pada tahun 1998, hanya disebutkan ada 22 negara HBC yang menyumbang sekitar 80 persen kasus tuberkulosis di dunia.

Dalam perkembangannya, Prof. Tjandra mengatakan masalah bukan hanya tentang jumlah kasus TB saja. Lebih dari itu, juga ada persoalan tuberkulosis bersama infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

“Cukup banyak negara-negara yang harus menghadapi masalah karena infeksi HIV dan juga TB ini. Antara lain, karena gangguan daya tahan tubuh akan amat mempengaruhi terjadinya penyakit,” kata Prof. Tjandra dalam keterangannya, Minggu (7/11).

Selain itu, juga disadari bahwa salah satu masalah yang sulit ditanggulangi adalah jika kuman tuberkulosis sudah kebal/resisten terhadap obat-obat yang ada, tidak dapat dibunuh lagi.

“Kita tahu, tuberkulosis ditangani dengan beberapa obat sekaligus. Kalau kebal, maka disebut sebagai Multi Drug Resistance – MDR,” tutur Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Dengan dua hal ini, maka sejak tahun 2015 dibuatlah tiga daftar. Pertama, negara dengan jumlah kasus tuberkulosis yang tinggi. Kedua, negara dengan jumlah kasus TB dan  HIV yang tinggi. Ketiga, daftar negara dengan jumlah kasus MDR TB yang tinggi, yang masing-masing berisi daftar 30 negara.

Tahun 2021, daftar ketiga sedikit diubah menjadi negara dengan jumlah kasus MDR TB dan juga RR (resisten Rifampisin) yang tinggi.

Tentu bisa saja satu negara hanya ada dalam satu daftar, atau dua daftar dan atau tiga daftar sekaligus.

 

G20 dan ASEAN

Dalam Global TB Report 2021 yang menghimpun data dari 197 negara, dan baru saja diterbitkan pada Oktober ini, dari 30 negara dengan beban jumlah kasus TB yang tinggi maka ada enam negara yang termasuk G20. Yaitu India, China, Indonesia, Afrika Selatan, Rusia dan Brazil.

Dalam daftar tersebut, juga terdapat 5 negara ASEAN, yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Jumlah kasus TB di 30 negara ini mencakup 86 persen dari seluruh estimasi kasus TB dunia. Dua pertiga kasus dunia ada di 8 negara di antara 30 ini. Yaitu India (26 persen), China (8,5 persen), Indonesia (8,4 persen), Filipina (6,0 persen), Pakistan (5,8 persen), Nigeria (4,6 persen), Bangladesh (3,6 persen), dan Afrika Selatan (3,3 persen).

Dengan kata lain, 4 negara G20 dan 2 negara ASEAN.

Dari 30 negara dengan beban masalah TB dan HIV yang tinggi, tercatat  6 negara anggota G20. Yaitu India, Tiongkok, Indonesia, Afrika Selatan, Rusia dan Brazil.

Untuk ASEAN, angkanya sedikit berbeda karena ada 4 negara  Yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Thailand.

Sementara dalam daftar 30 negara dengan beban kasus MDR dan juga RR TB yang tinggi, terdapat 5 negara anggota G20. Yaitu India, Tiongkok, Indonesia, Afrika Selatan dan Rusia.

Untuk negara dengan beban MDR/RR TB tinggi ini ada, ada 4bnegara ASEAN. Yaitu  Indonesia, Myanmar, Filipina dan Vietnam.

“Tadinya, Thailand masuk dalam daftar beban MDR/RR TB ini. Namun, sejak Juni 2021, Thailand berhasil keluar dari daftar ini karena dapat mengendalikan jumlah kasus MDR/RR TB-nya. Meski saat ini juga sedang menangani pandemi Covid-19,” terang Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini.

“Ini adalah suatu prestasi membanggakan, yang patut diikuti negara ASEAN lain juga,” sambungnya.

Dalam Global TB Report 2021 ini, ada 10 negara yang masuk ke dalam ketiga daftar itu. Baik jumlah kasus TB, TB dan HIV, atau MDR/RR TB.

Kesepuluh negara ini adalah India, China, Indonesia, Republik Demokratik Kongo, Mozambik, Myanmar, Nigeria, Filipina, Afrika Selatan dan Zambia.

Artinya, 4 dari negara G20 dan 3 negara dari ASEAN merupakan negara-negara dengan beban TB yang tinggi (high burden countries – HBC) untuk semua aspek TB yang ada.  

 

Kepemimpinan Indonesia

Dari data ini, kita bisa melihat bahwa Indonesia ada dalam semua 3 daftar beban tuberkulosis ini.

Karena itu, amatlah tepat bahwa Presiden sudah mencanangkan eliminasi tuberkulosis di negara kita pada tahun 2030. Di samping telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 67 tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkulosis.

“Kita lihat juga bahwa sebagian negara G20 serta ASEAN ada di dalam daftar ini. Bahkan  informasi dari organisasi internasional Stop TB Partnership menyebutkan, sekitar 50 persen beban kasus TB memang ada di negara G20,” beber Prof. Tjandra.

Masalah tuberkulosis di kawasan ASEAN juga cukup besar. Indonesia menjadi Presidensi G20 di tahun 2022 dan juga akan memegang Keketuaan ASEAN pada tahun sesudahnya, di 2023.

Sehingga, Prof. Tjandra berpendapat, akan amat baik bila negara kita dapat berinisiatif memelopori dan juga memimpin penanggulangan dan diplomasi tuberkulosis internasional di kancah G20 serta ASEAN. Agar dunia dapat mencapai untuk mencapat target 3.3. Sustainable Development Goal – SDG. Menghentikan epidemi tuberkulosis dunia pada tahun 2030, 9 tahun dari sekarang.

“Ini adalah suatu kerja penanggulangan tuberkulosis amat besar bagi dunia, bagi G20, bagi ASEAN dan juga bagi Indonesia. Ini juga menjadi suatu kesempatan emas bagi Indonesia sebagai Presidensi G20 2022 dan Ketua ASEAN 2023, untuk menunjukkan peran besar kita dalam diplomasi kesehatan internasional,” pungkas mantan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan ini. [HES]

]]> Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Prof  Tjandra Yoga Aditama menegaskan, tuberkulosis (TB) adalah masalah kesehatan penting dunia.

Memang, kasus TB tidaklah menyebar merata antar negara-negara di dunia. Ada yang masih tinggi, ada juga yang relatif rendah.

Tahun 1988, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan istilah High Burden Country (HBC) atau negara dengan beban tuberkulosis yang tinggi.

Mulanya, pada tahun 1998, hanya disebutkan ada 22 negara HBC yang menyumbang sekitar 80 persen kasus tuberkulosis di dunia.

Dalam perkembangannya, Prof. Tjandra mengatakan masalah bukan hanya tentang jumlah kasus TB saja. Lebih dari itu, juga ada persoalan tuberkulosis bersama infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

“Cukup banyak negara-negara yang harus menghadapi masalah karena infeksi HIV dan juga TB ini. Antara lain, karena gangguan daya tahan tubuh akan amat mempengaruhi terjadinya penyakit,” kata Prof. Tjandra dalam keterangannya, Minggu (7/11).

Selain itu, juga disadari bahwa salah satu masalah yang sulit ditanggulangi adalah jika kuman tuberkulosis sudah kebal/resisten terhadap obat-obat yang ada, tidak dapat dibunuh lagi.

“Kita tahu, tuberkulosis ditangani dengan beberapa obat sekaligus. Kalau kebal, maka disebut sebagai Multi Drug Resistance – MDR,” tutur Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Dengan dua hal ini, maka sejak tahun 2015 dibuatlah tiga daftar. Pertama, negara dengan jumlah kasus tuberkulosis yang tinggi. Kedua, negara dengan jumlah kasus TB dan  HIV yang tinggi. Ketiga, daftar negara dengan jumlah kasus MDR TB yang tinggi, yang masing-masing berisi daftar 30 negara.

Tahun 2021, daftar ketiga sedikit diubah menjadi negara dengan jumlah kasus MDR TB dan juga RR (resisten Rifampisin) yang tinggi.

Tentu bisa saja satu negara hanya ada dalam satu daftar, atau dua daftar dan atau tiga daftar sekaligus.

 

G20 dan ASEAN

Dalam Global TB Report 2021 yang menghimpun data dari 197 negara, dan baru saja diterbitkan pada Oktober ini, dari 30 negara dengan beban jumlah kasus TB yang tinggi maka ada enam negara yang termasuk G20. Yaitu India, China, Indonesia, Afrika Selatan, Rusia dan Brazil.

Dalam daftar tersebut, juga terdapat 5 negara ASEAN, yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Jumlah kasus TB di 30 negara ini mencakup 86 persen dari seluruh estimasi kasus TB dunia. Dua pertiga kasus dunia ada di 8 negara di antara 30 ini. Yaitu India (26 persen), China (8,5 persen), Indonesia (8,4 persen), Filipina (6,0 persen), Pakistan (5,8 persen), Nigeria (4,6 persen), Bangladesh (3,6 persen), dan Afrika Selatan (3,3 persen).

Dengan kata lain, 4 negara G20 dan 2 negara ASEAN.

Dari 30 negara dengan beban masalah TB dan HIV yang tinggi, tercatat  6 negara anggota G20. Yaitu India, Tiongkok, Indonesia, Afrika Selatan, Rusia dan Brazil.

Untuk ASEAN, angkanya sedikit berbeda karena ada 4 negara  Yaitu Indonesia, Myanmar, Filipina dan Thailand.

Sementara dalam daftar 30 negara dengan beban kasus MDR dan juga RR TB yang tinggi, terdapat 5 negara anggota G20. Yaitu India, Tiongkok, Indonesia, Afrika Selatan dan Rusia.

Untuk negara dengan beban MDR/RR TB tinggi ini ada, ada 4bnegara ASEAN. Yaitu  Indonesia, Myanmar, Filipina dan Vietnam.

“Tadinya, Thailand masuk dalam daftar beban MDR/RR TB ini. Namun, sejak Juni 2021, Thailand berhasil keluar dari daftar ini karena dapat mengendalikan jumlah kasus MDR/RR TB-nya. Meski saat ini juga sedang menangani pandemi Covid-19,” terang Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini.

“Ini adalah suatu prestasi membanggakan, yang patut diikuti negara ASEAN lain juga,” sambungnya.

Dalam Global TB Report 2021 ini, ada 10 negara yang masuk ke dalam ketiga daftar itu. Baik jumlah kasus TB, TB dan HIV, atau MDR/RR TB.

Kesepuluh negara ini adalah India, China, Indonesia, Republik Demokratik Kongo, Mozambik, Myanmar, Nigeria, Filipina, Afrika Selatan dan Zambia.

Artinya, 4 dari negara G20 dan 3 negara dari ASEAN merupakan negara-negara dengan beban TB yang tinggi (high burden countries – HBC) untuk semua aspek TB yang ada.  

 

Kepemimpinan Indonesia

Dari data ini, kita bisa melihat bahwa Indonesia ada dalam semua 3 daftar beban tuberkulosis ini.

Karena itu, amatlah tepat bahwa Presiden sudah mencanangkan eliminasi tuberkulosis di negara kita pada tahun 2030. Di samping telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 67 tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkulosis.

“Kita lihat juga bahwa sebagian negara G20 serta ASEAN ada di dalam daftar ini. Bahkan  informasi dari organisasi internasional Stop TB Partnership menyebutkan, sekitar 50 persen beban kasus TB memang ada di negara G20,” beber Prof. Tjandra.

Masalah tuberkulosis di kawasan ASEAN juga cukup besar. Indonesia menjadi Presidensi G20 di tahun 2022 dan juga akan memegang Keketuaan ASEAN pada tahun sesudahnya, di 2023.

Sehingga, Prof. Tjandra berpendapat, akan amat baik bila negara kita dapat berinisiatif memelopori dan juga memimpin penanggulangan dan diplomasi tuberkulosis internasional di kancah G20 serta ASEAN. Agar dunia dapat mencapai untuk mencapat target 3.3. Sustainable Development Goal – SDG. Menghentikan epidemi tuberkulosis dunia pada tahun 2030, 9 tahun dari sekarang.

“Ini adalah suatu kerja penanggulangan tuberkulosis amat besar bagi dunia, bagi G20, bagi ASEAN dan juga bagi Indonesia. Ini juga menjadi suatu kesempatan emas bagi Indonesia sebagai Presidensi G20 2022 dan Ketua ASEAN 2023, untuk menunjukkan peran besar kita dalam diplomasi kesehatan internasional,” pungkas mantan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan ini. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories