Presidennya Kabur Dengan Pesawat Militer Sri Lanka Darurat Nasional

Presiden Sri Lanka Nandasena Gotabaya Rajapaksa akhirnya melarikan diri ke Maladewa. Keadaan itu membuat aparat keamanan setempat mengumumkan keadaan darurat nasional.

Parlemen Sri Lanka memastikan, Rajapaksa akan tetap mengundurkan diri dari jabatannya, Rabu (13/7) waktu setempat, meski telah mengasingkan diri ke luar negeri.

Rajapaksa, istrinya, dan seorang pengawalnya termasuk di antara empat penumpang di pesawat militer Antonov-32, kabur menuju Maladewa. Pesawat itu lepas landas dari Bandara Internasional Bandaranaike, Colombo.

“Paspor mereka dicap dan mereka naik pesawat khusus angkatan udara,” kata seorang pejabat Imigrasi. Seorang sumber Pemerintah yang dekat dengan Rajapaksa mengatakan, saat ini dia berada di Male, Ibu Kota Maladewa. Dari sana, Rajapaksa diperkirakan akan melanjutkan perjalanan ke negara-negara Asia lainnya.

Juru Bicara Perdana Menteri (PM), Dinouk Colombage menjelaskan, keadaan darurat diberlakukan untuk menangani situasi di Sri Lanka. Dengan keadaan darurat, pihak keamanan juga memberlakukan jam malam tanpa batas di seluruh Provinsi Barat, yang meliputi Ibu Kota Sri Lanka, Colombo, demi menahan unjuk rasa yang makin meluas.

Rajapaksa kabur setelah rumah dinasnya diduduki massa pada akhir pekan lalu. Ia kabur ke luar negeri, untuk menghindari kemungkinan ditangkap setelah membuat situasi Sri Lanka kian buruk dan kini dicap sebagai negara bangkrut.

 

Pada April lalu, pemerintah Sri Lanka gagal membayar utang luar negeri sebesar 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 764 triliun. Pemerintah salah urus hingga praktik korupsi yang diperparah dengan pandemi Covid-19, membuat krisis ekonomi Sri Lanka terus memburuk.  Negara di Asia Selatan itu mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM) serta gas.

Selain Rajapaksa, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe juga telah menyatakan akan mengundurkan diri. Namun, ia tak menjelaskan detail kapan akan melakukannya.

Kemarin, massa kembali beraksi, mengepung Kantor PM Sri Lanka. Polisi meresponsnya dengan menembakkan gas air mata untuk menahan mereka agar tidak menyerbu kompleks itu.

“Ada protes yang berlangsung di luar kantor PM di Colombo dan kami membutuhkan jam malam untuk mengatasi situasi,” kata seorang perwira polisi, dilansir Channel News Asia, kemarin.

Perwira itu menambahkan, dia diberikan wewenang penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan. Termasuk menindak para demonstran yang dianggap mengganggu fungsi negara.

Jika Rajapaksa mengundurkan diri sebagai Presiden Sri Lanka, itu akan menjadikan PM Wickremesinghe sebagai penjabat Presiden kendati dia mau mengundurkan diri. Jika itu terjadi, maka Ketua Parlemen akan jadi penjabat Presiden sampai digelarnya pemilu, yang sesuai konstitusi.

Namun para demonstran tidak setuju dengan naiknya Wickremesinghe sebagai Presiden. Mereka menganggap Wickremesinghe bersekutu dengan Rajapaksa.

Salah satu koordinator demonstrasi, Buddhi Prabowo Karunaratne menegaskan, pihaknya akan mengambil alih parlemen atau gedung Pemerintah lainnya jika Rajapaksa dan Wickremesinghe tidak mundur.

“Kami sangat menentang Pemerintah Gota-Ranil. Keduanya harus mundur,” tegas Karunaratne. ■ 

]]> Presiden Sri Lanka Nandasena Gotabaya Rajapaksa akhirnya melarikan diri ke Maladewa. Keadaan itu membuat aparat keamanan setempat mengumumkan keadaan darurat nasional.

Parlemen Sri Lanka memastikan, Rajapaksa akan tetap mengundurkan diri dari jabatannya, Rabu (13/7) waktu setempat, meski telah mengasingkan diri ke luar negeri.

Rajapaksa, istrinya, dan seorang pengawalnya termasuk di antara empat penumpang di pesawat militer Antonov-32, kabur menuju Maladewa. Pesawat itu lepas landas dari Bandara Internasional Bandaranaike, Colombo.

“Paspor mereka dicap dan mereka naik pesawat khusus angkatan udara,” kata seorang pejabat Imigrasi. Seorang sumber Pemerintah yang dekat dengan Rajapaksa mengatakan, saat ini dia berada di Male, Ibu Kota Maladewa. Dari sana, Rajapaksa diperkirakan akan melanjutkan perjalanan ke negara-negara Asia lainnya.

Juru Bicara Perdana Menteri (PM), Dinouk Colombage menjelaskan, keadaan darurat diberlakukan untuk menangani situasi di Sri Lanka. Dengan keadaan darurat, pihak keamanan juga memberlakukan jam malam tanpa batas di seluruh Provinsi Barat, yang meliputi Ibu Kota Sri Lanka, Colombo, demi menahan unjuk rasa yang makin meluas.

Rajapaksa kabur setelah rumah dinasnya diduduki massa pada akhir pekan lalu. Ia kabur ke luar negeri, untuk menghindari kemungkinan ditangkap setelah membuat situasi Sri Lanka kian buruk dan kini dicap sebagai negara bangkrut.

 

Pada April lalu, pemerintah Sri Lanka gagal membayar utang luar negeri sebesar 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 764 triliun. Pemerintah salah urus hingga praktik korupsi yang diperparah dengan pandemi Covid-19, membuat krisis ekonomi Sri Lanka terus memburuk.  Negara di Asia Selatan itu mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM) serta gas.

Selain Rajapaksa, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe juga telah menyatakan akan mengundurkan diri. Namun, ia tak menjelaskan detail kapan akan melakukannya.

Kemarin, massa kembali beraksi, mengepung Kantor PM Sri Lanka. Polisi meresponsnya dengan menembakkan gas air mata untuk menahan mereka agar tidak menyerbu kompleks itu.

“Ada protes yang berlangsung di luar kantor PM di Colombo dan kami membutuhkan jam malam untuk mengatasi situasi,” kata seorang perwira polisi, dilansir Channel News Asia, kemarin.

Perwira itu menambahkan, dia diberikan wewenang penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan. Termasuk menindak para demonstran yang dianggap mengganggu fungsi negara.

Jika Rajapaksa mengundurkan diri sebagai Presiden Sri Lanka, itu akan menjadikan PM Wickremesinghe sebagai penjabat Presiden kendati dia mau mengundurkan diri. Jika itu terjadi, maka Ketua Parlemen akan jadi penjabat Presiden sampai digelarnya pemilu, yang sesuai konstitusi.

Namun para demonstran tidak setuju dengan naiknya Wickremesinghe sebagai Presiden. Mereka menganggap Wickremesinghe bersekutu dengan Rajapaksa.

Salah satu koordinator demonstrasi, Buddhi Prabowo Karunaratne menegaskan, pihaknya akan mengambil alih parlemen atau gedung Pemerintah lainnya jika Rajapaksa dan Wickremesinghe tidak mundur.

“Kami sangat menentang Pemerintah Gota-Ranil. Keduanya harus mundur,” tegas Karunaratne. ■ 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories