Presiden Ukraina Titip Pesan Dunia Harus Waspada, Putin Bisa Nekat Pakai Senjata Nuklir Atau Kimia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengingatkan seluruh negara di dunia, untuk mewaspadai kemungkinan Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan senjata nuklir taktis dalam perang di negaranya.

Dalam sebuah wawancara eksklusif CNN International dari Kantor Presiden di Kiev pada Jumat (14/4), Zelensky mengatakan, Putin bisa saja beralih ke senjata nuklir atau kimia. Karena dia tidak menghargai nyawa rakyat Ukraina. 

“Seluruh negara harus khawatir. Bisa saja, itu menjadi kenyataan,” tegas Zelensky.

Dalam kesempatan tersebut, Zelensky juga berbicara soal tenggelamnya kapal Rusia, korban yang ditanggung militernya, serta kerugian emosional rakyat Ukraina akibat perang.

Selama perang 50 hari yang berlangsung sejak 24 Februari, Zelensky tetap berada di Ukraina.

Pasukan Ukraina telah menolak upaya Kremlin untuk merebut Kiev. Saat ini, Rusia fokus perang di wilayah timur dan selatan Ukraina. Kemungkinan eskalasi yang signifikan dalam pertempuran mendatang, juga terus diantisipasi pasukan Zelensky.

Pada saat yang sama, Rusia menembakkan rudal jelajah ke pinggiran Kiev, dan mempertahankan kemampuan untuk melumpuhkan Ibu Kota Ukraina dengan persenjataan jarak jauh.

Sebelumnya, para pejabat AS telah memperingatkan kemungkinan Putin, untuk beralih ke penggunaan senjata nuklir taktis di Ukraina, jika terus tersudut.

Kemungkinan itu, kata Direktur CIA Bill Burns, telah diamati dengan sangat seksama. Namun, AS belum melihat tanda-tanda Rusia sedang bersiap untuk mengambil langkah seperti itu.

“Mengingat potensi keputusasaan Presiden Putin dan kepemimpinan Rusia, serta kemunduran mereka secara militer, tidak ada dari kita yang dapat menganggap enteng ancaman tersebut. Potensi penggunaan senjata nuklir taktis atau senjata nuklir hasil rendah, tentu saja ada,” beber Burns dalam sambutan publik di Georgia Tech, Kamis (14/4).

Moskva, salah satu kapal perang Angkatan Laut Rusia yang paling penting tenggelam di Laut Hitam pada pekan ini. Ukraina menyebut pemicu tenggelamnya Moskva adalah serangan rudal yang dilancarkan negaranya.

Sementara Rusia, mengklaim peristiwa itu terjadi karena kebakaran yang disebabkan oleh meledaknya amunisi.

Pernyataan Ukraina terkait tenggelamnya Moskva didukung pejabat senior pertahanan AS, yang menyebut dua rudal Neptunus Ukraina sebagai pemicu.

 

Zelensky memaparkan, pejabat Ukraina memperkirakan sekitar 2.500 hingga 3.000 tentara Ukraina tewas dalam perang.

Dia pun lantas membandingkan angka tersebut dengan apa yang dikatakannya sebagai jumlah korban Rusia. Yang berkisar antara 19.000 hingga 20.000 (Rusia telah mengakui 1.351 korban militer).

Zelensky juga menjelaskan, jumlah tentara Ukraina yang terluka telah mencapai angka 10 ribu. Sulit menyebut, berapa yang akan selamat. 

“Korban sipil lebih sulit dihitung. Sangat sulit untuk berbicara tentang warga sipil. Karena kami tidak tahu, berapa banyak warga tewas di kota-kota besar yang diblokir seperti Kherson, Berdyansk, Mariupol, dan Volnovakha,” papar  Zelensky.

Ditanya tentang video mengerikan yang dirilis minggu ini, yang menunjukkan kematian dan kehancuran di negaranya, termasuk seorang wanita Ukraina yang menemukan mayat putranya di dalam sumur, Zelensky mengaku pilu.

“Ini sangat menyakitkan bagi saya. Sebagai seorang ayah, saya tidak bisa menontonnya,” ungkapnya.

“Sebagai seorang presiden, saya harus menyaksikan betapa banyak orang yang telah meninggal dan kehilangan orang yang mereka cintai. Sementara ada jutaan orang yang ingin hidup,” pungkas Zelensky. [HES]

]]> Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengingatkan seluruh negara di dunia, untuk mewaspadai kemungkinan Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan senjata nuklir taktis dalam perang di negaranya.

Dalam sebuah wawancara eksklusif CNN International dari Kantor Presiden di Kiev pada Jumat (14/4), Zelensky mengatakan, Putin bisa saja beralih ke senjata nuklir atau kimia. Karena dia tidak menghargai nyawa rakyat Ukraina. 

“Seluruh negara harus khawatir. Bisa saja, itu menjadi kenyataan,” tegas Zelensky.

Dalam kesempatan tersebut, Zelensky juga berbicara soal tenggelamnya kapal Rusia, korban yang ditanggung militernya, serta kerugian emosional rakyat Ukraina akibat perang.

Selama perang 50 hari yang berlangsung sejak 24 Februari, Zelensky tetap berada di Ukraina.

Pasukan Ukraina telah menolak upaya Kremlin untuk merebut Kiev. Saat ini, Rusia fokus perang di wilayah timur dan selatan Ukraina. Kemungkinan eskalasi yang signifikan dalam pertempuran mendatang, juga terus diantisipasi pasukan Zelensky.

Pada saat yang sama, Rusia menembakkan rudal jelajah ke pinggiran Kiev, dan mempertahankan kemampuan untuk melumpuhkan Ibu Kota Ukraina dengan persenjataan jarak jauh.

Sebelumnya, para pejabat AS telah memperingatkan kemungkinan Putin, untuk beralih ke penggunaan senjata nuklir taktis di Ukraina, jika terus tersudut.

Kemungkinan itu, kata Direktur CIA Bill Burns, telah diamati dengan sangat seksama. Namun, AS belum melihat tanda-tanda Rusia sedang bersiap untuk mengambil langkah seperti itu.

“Mengingat potensi keputusasaan Presiden Putin dan kepemimpinan Rusia, serta kemunduran mereka secara militer, tidak ada dari kita yang dapat menganggap enteng ancaman tersebut. Potensi penggunaan senjata nuklir taktis atau senjata nuklir hasil rendah, tentu saja ada,” beber Burns dalam sambutan publik di Georgia Tech, Kamis (14/4).

Moskva, salah satu kapal perang Angkatan Laut Rusia yang paling penting tenggelam di Laut Hitam pada pekan ini. Ukraina menyebut pemicu tenggelamnya Moskva adalah serangan rudal yang dilancarkan negaranya.

Sementara Rusia, mengklaim peristiwa itu terjadi karena kebakaran yang disebabkan oleh meledaknya amunisi.

Pernyataan Ukraina terkait tenggelamnya Moskva didukung pejabat senior pertahanan AS, yang menyebut dua rudal Neptunus Ukraina sebagai pemicu.

 

Zelensky memaparkan, pejabat Ukraina memperkirakan sekitar 2.500 hingga 3.000 tentara Ukraina tewas dalam perang.

Dia pun lantas membandingkan angka tersebut dengan apa yang dikatakannya sebagai jumlah korban Rusia. Yang berkisar antara 19.000 hingga 20.000 (Rusia telah mengakui 1.351 korban militer).

Zelensky juga menjelaskan, jumlah tentara Ukraina yang terluka telah mencapai angka 10 ribu. Sulit menyebut, berapa yang akan selamat. 

“Korban sipil lebih sulit dihitung. Sangat sulit untuk berbicara tentang warga sipil. Karena kami tidak tahu, berapa banyak warga tewas di kota-kota besar yang diblokir seperti Kherson, Berdyansk, Mariupol, dan Volnovakha,” papar  Zelensky.

Ditanya tentang video mengerikan yang dirilis minggu ini, yang menunjukkan kematian dan kehancuran di negaranya, termasuk seorang wanita Ukraina yang menemukan mayat putranya di dalam sumur, Zelensky mengaku pilu.

“Ini sangat menyakitkan bagi saya. Sebagai seorang ayah, saya tidak bisa menontonnya,” ungkapnya.

“Sebagai seorang presiden, saya harus menyaksikan betapa banyak orang yang telah meninggal dan kehilangan orang yang mereka cintai. Sementara ada jutaan orang yang ingin hidup,” pungkas Zelensky. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories