Prediksi Bappenas: September 2021 Covid-19 Terkendali, Ekonomi Bisa Tumbuh Lagi .

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menegaskan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2021, Indonesia harus memastikan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi terus berjalan beriringan. Penanganan pandemi perlu difokuskan pada upaya untuk menurunkan tingkat penyebaran Covid-19. Caranya, melalui kerja sama masyarakat, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, dalam meningkatkan jumlah testing dan tracing di seluruh daerah sehingga menurunkan positivity rate dan menurunkan angka reproduksi virus, serta melaksanakan vaksinasi sesuai sasaran yang ditetapkan. 

“Pemulihan ekonomi perlu difokuskan untuk melakukan implementasi program secara tepat dan terukur, meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor. Sehingga dapat melakukan aktivitas ekonomi, melakukan reformasi sistem kesehatan, sistem perlindungan sosial, dan sistem kebencanaan, serta mengembalikan jam kerja pada sektor industri dan pariwisata sambil mendorong investasi padat karya,” ujar Suharso dalam Konferensi Pers Perkembangan Ekonomi Indonesia: Optimisme dengan Kerja Cerdas, Lekas, dan Tuntas, Selasa (9/2).

World Economic Forum menyatakan, swoosh-shaped akan menjadi pola pemulihan ekonomi global. Indonesia diperkirakan akan mengikuti pola tersebut, apabila penanganan Covid-19 dilakukan dengan kerja cerdas dan program pemulihan ekonomi nasional dilakukan konsisten di pusat dan daerah. Penanganan Covid-19 menjadi kunci penting. 

Dari itu, perlu pembentukan kekebalan komunal alias herd immunity. Untuk mencapai itu, diperlukan vaksinasi ke sebanyak 188 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia. Herd immunity ini diperkirakan dicapai pada Maret 2022 atau 15 bulan sejak tahap pertama vaksinasi dimulai pada 14 Januari 2021. Namun, bisa dipercepat jika ketersediaan vaksin bertambah. 

Aktivitas ekonomi pun dapat dimulai sebelum herd immunity tercapai, yaitu ketika Covid-19 terkendali atau kasus terus mengalami penurunan. Dalam kondisi ini, aktivitas ekonomi dan sosial dapat dimulai, dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. 

“Yang sekarang kita perjuangkan, semua daerah berusaha memperlambat pertambahan kasus. Kalau sekarang angka reproduksi adalah 1,2, targetnya harus di bawah 1 atau 0,9. Dengan vaksinasi, laju kasus bisa menurun menjadi 0,9 pada September tahun ini. Mulai September, Covid-19 sudah mulai terkendali dan ekonomi bisa kembali,” tutur Suharso. 

Pembatasan sosial yang menjadi salah satu strategi menurunkan laju penularan telah meningkatkan tren digitalisasi. Saat ini, pertumbuhan tahunan penjualan e-commerce di Indonesia meningkat mencapai 15,4 persen. Perkembangan di Indonesia terlihat dari total penjualan nilai transaksi (Gross Merchandise Value) sektor e-commerce yang meningkat 54,0 persen dari 21,0 miliar dolar AS di 2019 menjadi 32,0 miliar dolar AS di 2020 dan diperkirakan terus meningkat menjadi 83,0 miliar dolar di 2025. 

“Perusahaan yang berhasil bertahan selama pandemi juga merupakan perusahaan yang mulai melakukan digitalisasi. Perusahaan besar, kecil, menengah dan mikro kita lihat melakukan adjustment,” tambah Ketua Umum PPP. 

Hasil survei Bank Dunia dan Kementerian PPN/Bappenas (2020) menunjukkan, yakni 95 persen perusahaan besar dan 75 persen perusahaan kecil telah melakukan upaya digitalisasi melalui internet, media sosial, dan platform digital untuk bertahan selama pandemi. Hasil survei juga menunjukkan, kondisi usaha pada kuartal IV-2020 terlihat lebih baik dari kuartal II-2020. Sebanyak 73 persen perusahaan tetap buka pada Juni 2020 dan Oktober 2020. Bahkan, 16 persen perusahaan yang tutup pada Juni 2020, dapat beroperasi di kuartal IV-2020 sehingga pada Oktober 2020.

Di tengah pandemi, komponen konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif seperti perlengkapan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan. “Untuk keseluruhan 2020, komponen pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan naik 3,09 persen, perumahan dan perlengkapan rumah tangga naik 2,28 persen, serta makanan minuman selain restoran tumbuh 0,51 persen. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh positif karena kebutuhan media digital selama pandemi Covid-19, seperti kegiatan sekolah yang dilakukan secara daring, perusahaan atau kantor yang lebih banyak melakukan work from home, serta e-commerce. Kondisi less-contact economy namun tetap produktif ini diprediksi akan terus berlanjut,” tutup Suharso. [USU]

]]> .
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menegaskan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2021, Indonesia harus memastikan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi terus berjalan beriringan. Penanganan pandemi perlu difokuskan pada upaya untuk menurunkan tingkat penyebaran Covid-19. Caranya, melalui kerja sama masyarakat, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah, dalam meningkatkan jumlah testing dan tracing di seluruh daerah sehingga menurunkan positivity rate dan menurunkan angka reproduksi virus, serta melaksanakan vaksinasi sesuai sasaran yang ditetapkan. 

“Pemulihan ekonomi perlu difokuskan untuk melakukan implementasi program secara tepat dan terukur, meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor. Sehingga dapat melakukan aktivitas ekonomi, melakukan reformasi sistem kesehatan, sistem perlindungan sosial, dan sistem kebencanaan, serta mengembalikan jam kerja pada sektor industri dan pariwisata sambil mendorong investasi padat karya,” ujar Suharso dalam Konferensi Pers Perkembangan Ekonomi Indonesia: Optimisme dengan Kerja Cerdas, Lekas, dan Tuntas, Selasa (9/2).

World Economic Forum menyatakan, swoosh-shaped akan menjadi pola pemulihan ekonomi global. Indonesia diperkirakan akan mengikuti pola tersebut, apabila penanganan Covid-19 dilakukan dengan kerja cerdas dan program pemulihan ekonomi nasional dilakukan konsisten di pusat dan daerah. Penanganan Covid-19 menjadi kunci penting. 

Dari itu, perlu pembentukan kekebalan komunal alias herd immunity. Untuk mencapai itu, diperlukan vaksinasi ke sebanyak 188 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia. Herd immunity ini diperkirakan dicapai pada Maret 2022 atau 15 bulan sejak tahap pertama vaksinasi dimulai pada 14 Januari 2021. Namun, bisa dipercepat jika ketersediaan vaksin bertambah. 

Aktivitas ekonomi pun dapat dimulai sebelum herd immunity tercapai, yaitu ketika Covid-19 terkendali atau kasus terus mengalami penurunan. Dalam kondisi ini, aktivitas ekonomi dan sosial dapat dimulai, dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. 

“Yang sekarang kita perjuangkan, semua daerah berusaha memperlambat pertambahan kasus. Kalau sekarang angka reproduksi adalah 1,2, targetnya harus di bawah 1 atau 0,9. Dengan vaksinasi, laju kasus bisa menurun menjadi 0,9 pada September tahun ini. Mulai September, Covid-19 sudah mulai terkendali dan ekonomi bisa kembali,” tutur Suharso. 

Pembatasan sosial yang menjadi salah satu strategi menurunkan laju penularan telah meningkatkan tren digitalisasi. Saat ini, pertumbuhan tahunan penjualan e-commerce di Indonesia meningkat mencapai 15,4 persen. Perkembangan di Indonesia terlihat dari total penjualan nilai transaksi (Gross Merchandise Value) sektor e-commerce yang meningkat 54,0 persen dari 21,0 miliar dolar AS di 2019 menjadi 32,0 miliar dolar AS di 2020 dan diperkirakan terus meningkat menjadi 83,0 miliar dolar di 2025. 

“Perusahaan yang berhasil bertahan selama pandemi juga merupakan perusahaan yang mulai melakukan digitalisasi. Perusahaan besar, kecil, menengah dan mikro kita lihat melakukan adjustment,” tambah Ketua Umum PPP. 

Hasil survei Bank Dunia dan Kementerian PPN/Bappenas (2020) menunjukkan, yakni 95 persen perusahaan besar dan 75 persen perusahaan kecil telah melakukan upaya digitalisasi melalui internet, media sosial, dan platform digital untuk bertahan selama pandemi. Hasil survei juga menunjukkan, kondisi usaha pada kuartal IV-2020 terlihat lebih baik dari kuartal II-2020. Sebanyak 73 persen perusahaan tetap buka pada Juni 2020 dan Oktober 2020. Bahkan, 16 persen perusahaan yang tutup pada Juni 2020, dapat beroperasi di kuartal IV-2020 sehingga pada Oktober 2020.

Di tengah pandemi, komponen konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif seperti perlengkapan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan. “Untuk keseluruhan 2020, komponen pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan naik 3,09 persen, perumahan dan perlengkapan rumah tangga naik 2,28 persen, serta makanan minuman selain restoran tumbuh 0,51 persen. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh positif karena kebutuhan media digital selama pandemi Covid-19, seperti kegiatan sekolah yang dilakukan secara daring, perusahaan atau kantor yang lebih banyak melakukan work from home, serta e-commerce. Kondisi less-contact economy namun tetap produktif ini diprediksi akan terus berlanjut,” tutup Suharso. [USU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories