PPKM Mikro Terbukti, Tekan Covid-19 Dan Dongkrak Ekonomi

Keputusan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang terus memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala Mikro dinilai tepat.

Soalnya, kebijakan menjadi solusi yang moderat dalam penanganan Covid-19. Selain mampu menekan kasus penu­laran Covid-19, kebijakan itu juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Airlangga mengungkap­kan, kebijakan PPKM Mikro mampu menjaga tingkat kesembuhan Indonesia berada di atas standar global. “Tingkat kesembuhan global itu 85 persen tapi Indonesia 91 persen,” ujarnya dalam Media Gathering Perkembangan Perekonomian Terkini dan ke­bijakan PC-PEN yang digelar virtual, kemarin.

Selain angka kesembuhan yang di atas global, kasus penu­laran di Indonesia juga masih ditekan. Kasus aktif di Indonesia sampai Jumat, (23/4) tercatat berada di kisaran 6,2 persen. Sementara standar penularan global 12,75 persen.

Jumlah penularan Covid-19 di tengah masyarakat tidak bisa lepas dari kepatuhan mereka dalam menjalankan protokol kesehatan.

Meski begitu, keberhasilan itu diharapkan tidak membuat semua pihak terlena. Soalnya, penularan masih terus ter­jadi. Jika kepatuhan dan kedi­siplinan menerapkan protokol kesehatan kendor, maka bisa memicu lonjakan.

Airlangga menambahkan, selain PPKM Mikro, pemerin­tah terus melanjutkan program vaksinasi untuk mendorong ter­ciptanya kekebalan kelompok alias herd immunity. Vaksinasi di tiap Provinsi akan terus diak­selerasi. Politisi Partai Golkar ini membeberkan, untuk vak­sinasi dosis ke-2, wilayah Jakarta menjadi daerah dengan persentase realisasi tertinggi, yakni 31, 98 persen.

Sementara daerah dengan persentase realisasi tertinggi penyuntikan vaksin Covid-19 dosis pertama adalah provinsi Bali dengan 94,1 persen dari target vaksinasi tahap 1 dan 2.

 

Airlangga membuktikan, selain mampu menekan Covid-19, PPKM Mikro juga men­dongkrak kinerja ekonomi. Dia menyebut, berbagai data pembiayaan yang ada di per­bankan menunjukkan telah terjadi pergerakan pembiayaan yang cenderung meningkat.

“Lonjakan besar terjadi di bulan April ini sebesar 32,48 persen. Ini sejalan dengan indeks keyakinan konsumen ini dan beriringan dengan pergerakan sektor industri,” beber Airlangga.

Pemerintah, katanya, akan konsisten menjaga keseimbangan antara Program Pengendalian Covid-19, dengan Program Pengungkit Perekonomian yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan ekonomi ini tidak lepas dari insentif pe­merintah yang digelontorkan dunia usaha. Alhasil konsumsi masyarakat terus mengalami peningkatan.

Insentif itu di antaranya, keringanan PPnBM (Pajak Penjualan Atas Barang Mewah) untuk industri otomotif. Sedangkan untuk sektor properti, pemerintah menanggung PPN (pajak pertambahan nilai) di­tanggung pemerintah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sinyal pemulihan ekonomi di kuartal II-2021 terus berlanjut. Dari sisi domes­tik, kondisi ekonomi sepanjang bulan Maret terus membaik.

Berbagai intervensi ekonomi telah dilakukan melalui perbaikan berbagai kebijakan dalam mendukung stabilitas ekonomi dan keuangan.

Leading indicator menunjuk­kan perbaikan di bulan Maret sesuai ekspektasi sebagai efek dari penerapan PSBB di awal pande­mi, antara lain terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (RSI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Penjualan Mobil, Konsumsi Listrik, Google Mobility, PMI, serta Ekspor-Impor.

“Hal ini tak lepas dari kerja keras APBN yang dikelola secara optimal dan akuntabel. Pemerintah terus mendorong belanja produktif dan mempercepat pembiayaan investasi seiring dengan membaiknya penerimaan negara,” ujar Menkeu. [JAR]

]]> Keputusan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang terus memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala Mikro dinilai tepat.

Soalnya, kebijakan menjadi solusi yang moderat dalam penanganan Covid-19. Selain mampu menekan kasus penu­laran Covid-19, kebijakan itu juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Airlangga mengungkap­kan, kebijakan PPKM Mikro mampu menjaga tingkat kesembuhan Indonesia berada di atas standar global. “Tingkat kesembuhan global itu 85 persen tapi Indonesia 91 persen,” ujarnya dalam Media Gathering Perkembangan Perekonomian Terkini dan ke­bijakan PC-PEN yang digelar virtual, kemarin.

Selain angka kesembuhan yang di atas global, kasus penu­laran di Indonesia juga masih ditekan. Kasus aktif di Indonesia sampai Jumat, (23/4) tercatat berada di kisaran 6,2 persen. Sementara standar penularan global 12,75 persen.

Jumlah penularan Covid-19 di tengah masyarakat tidak bisa lepas dari kepatuhan mereka dalam menjalankan protokol kesehatan.

Meski begitu, keberhasilan itu diharapkan tidak membuat semua pihak terlena. Soalnya, penularan masih terus ter­jadi. Jika kepatuhan dan kedi­siplinan menerapkan protokol kesehatan kendor, maka bisa memicu lonjakan.

Airlangga menambahkan, selain PPKM Mikro, pemerin­tah terus melanjutkan program vaksinasi untuk mendorong ter­ciptanya kekebalan kelompok alias herd immunity. Vaksinasi di tiap Provinsi akan terus diak­selerasi. Politisi Partai Golkar ini membeberkan, untuk vak­sinasi dosis ke-2, wilayah Jakarta menjadi daerah dengan persentase realisasi tertinggi, yakni 31, 98 persen.

Sementara daerah dengan persentase realisasi tertinggi penyuntikan vaksin Covid-19 dosis pertama adalah provinsi Bali dengan 94,1 persen dari target vaksinasi tahap 1 dan 2.

 

Airlangga membuktikan, selain mampu menekan Covid-19, PPKM Mikro juga men­dongkrak kinerja ekonomi. Dia menyebut, berbagai data pembiayaan yang ada di per­bankan menunjukkan telah terjadi pergerakan pembiayaan yang cenderung meningkat.

“Lonjakan besar terjadi di bulan April ini sebesar 32,48 persen. Ini sejalan dengan indeks keyakinan konsumen ini dan beriringan dengan pergerakan sektor industri,” beber Airlangga.

Pemerintah, katanya, akan konsisten menjaga keseimbangan antara Program Pengendalian Covid-19, dengan Program Pengungkit Perekonomian yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan ekonomi ini tidak lepas dari insentif pe­merintah yang digelontorkan dunia usaha. Alhasil konsumsi masyarakat terus mengalami peningkatan.

Insentif itu di antaranya, keringanan PPnBM (Pajak Penjualan Atas Barang Mewah) untuk industri otomotif. Sedangkan untuk sektor properti, pemerintah menanggung PPN (pajak pertambahan nilai) di­tanggung pemerintah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, sinyal pemulihan ekonomi di kuartal II-2021 terus berlanjut. Dari sisi domes­tik, kondisi ekonomi sepanjang bulan Maret terus membaik.

Berbagai intervensi ekonomi telah dilakukan melalui perbaikan berbagai kebijakan dalam mendukung stabilitas ekonomi dan keuangan.

Leading indicator menunjuk­kan perbaikan di bulan Maret sesuai ekspektasi sebagai efek dari penerapan PSBB di awal pande­mi, antara lain terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (RSI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Penjualan Mobil, Konsumsi Listrik, Google Mobility, PMI, serta Ekspor-Impor.

“Hal ini tak lepas dari kerja keras APBN yang dikelola secara optimal dan akuntabel. Pemerintah terus mendorong belanja produktif dan mempercepat pembiayaan investasi seiring dengan membaiknya penerimaan negara,” ujar Menkeu. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories