Post Title

Peringatan Hari Habitat Dunia (HHD) setiap 3 Oktober dan Hari Kota Dunia (HKD) setiap 31 Oktober tahun ini, merupakan rangkaian acara bertema nasional, “Kolaborasi pentahelix dalam pembangunan permukiman dan perumahan perkotaan menuju nol kumuh”.

Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Diana Kusumastuti, pada konferensi pers Senin, 3 Oktober lalu. Nol kumuh, jelasnya, juga berarti menciptakan permukiman dan perumahan yang nyaman dan sehat. Termasuk, tidak ada lagi masalah air bersih dan sanitasi.

Bahkan, kata Diana, juga telah tersedia TPS3R, atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle, yang juga melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya. Mungkin nanti sampah itu, contohnya, bisa dijadikan kompos. Atau mungkin sampah-sampah plastiknya diolah menjadi biji plastik, dan sebagainya.

“Ini bentuk kreativitas masyarakat yang harusnya selalu diberikan edukasi. Lingkungan dan masyarakat yang bagus, menuju kota yang sehat. Itu harapan kita,” jelas alumni Program Magister Studi Pembangunan, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Di antara contoh capaian kolaborasi Kementerian PUPR dengan Pemda/Pemprov terkait pengelolaan sampah ini, Diana mencontohkan, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Regional Banjarbakula, di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Banjarbakula adalah singkatan sejumlah wilayah, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tanah Laut.

 

Melalui Balai Prasarana Permukiman (BPPW) Kalsel, Kementerian PUPR akhirnya menuntaskan pembangunan TPA Sampah Regional ini. TPA ini memiliki kapasitas 640.000 ton atau 275 ton/hari, menggunakan sistem sanitary landfill dengan umur layanan hingga tujuh tahun.

Menurut Kepala BPPW Kalsel, Teuku Davis Hamid, TPA Regional ini melayani Kota Banjarmasin sebesar 105 ton/hari, Kota Banjarbaru 90 ton/hari, Kabupaten Banjar 60 ton/hari, Kabupaten Barito Kuala 10 ton/hari dan Kabupaten Tanah Laut 10 ton/hari

“Ini satu-satunya TPA Sampah Regional di Kalimantan,” ungkapnya, kepada wartawan, termasuk Rakyat Merdeka & RM.id, di Banjarbaru, Rabu (5/10).

Pembangunan TPA Sampah Regional Banjarbakula ini, jelas Davis, dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2017-2018, dengan nilai Rp 150 miliar.

Sementara Lembaga Pengelola TPA Sampah Regional Banjarbakula dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis Provinsi Daerah (UPTD) TPA Sampah, Dinas Lingkungan Hidup, Kalimantan Selatan.

 

“TPA ini memberikan manfaat untuk meningkatkan pelayanan pengelolaan sampah di kawasan Banjarbakula, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Barito Kuala,” terangnya.

Adapun penggunaan sistem sanitary landfill di TPA ini, jelas Davis, tujuannya agar membuat kawasan di sekitar tidak tercemar dan berbau akibat timbunan sampah. Cara kerja sistem sanitary landfill ini, bebernya, sampah yang masuk adalah sampah sisa atau 30% dari sampah awal yang telah dipilih. Sampah kemudian dilapisi tanah.

“Beda dengan sistem open dumping, sampah hanya dibuang begitu saja tidak diproses lebih lanjut,” contoh David, membandingkan.

Sementara cairan atau air lindi sampah basah, lanjutnya, juga diolah dulu, hingga menjadi air bersih yang tidak mengandung zat kimia yang bisa mencemari lingkungan.

Selain itu, masih menurut David, TPA ini juga dilengkapi area pencucian armada unit truck, yang membuat lingkungan sekitar lebih bersih. “Truck yang keluar dari TPA ini sudah bersih lagi, karena ketika mereka keluar, dicuci dulu truck-nya,” tutupnya. (*)

]]> Peringatan Hari Habitat Dunia (HHD) setiap 3 Oktober dan Hari Kota Dunia (HKD) setiap 31 Oktober tahun ini, merupakan rangkaian acara bertema nasional, “Kolaborasi pentahelix dalam pembangunan permukiman dan perumahan perkotaan menuju nol kumuh”.

Hal ini ditegaskan Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Diana Kusumastuti, pada konferensi pers Senin, 3 Oktober lalu. Nol kumuh, jelasnya, juga berarti menciptakan permukiman dan perumahan yang nyaman dan sehat. Termasuk, tidak ada lagi masalah air bersih dan sanitasi.

Bahkan, kata Diana, juga telah tersedia TPS3R, atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle, yang juga melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya. Mungkin nanti sampah itu, contohnya, bisa dijadikan kompos. Atau mungkin sampah-sampah plastiknya diolah menjadi biji plastik, dan sebagainya.

“Ini bentuk kreativitas masyarakat yang harusnya selalu diberikan edukasi. Lingkungan dan masyarakat yang bagus, menuju kota yang sehat. Itu harapan kita,” jelas alumni Program Magister Studi Pembangunan, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Di antara contoh capaian kolaborasi Kementerian PUPR dengan Pemda/Pemprov terkait pengelolaan sampah ini, Diana mencontohkan, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Regional Banjarbakula, di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Banjarbakula adalah singkatan sejumlah wilayah, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tanah Laut.

 

Melalui Balai Prasarana Permukiman (BPPW) Kalsel, Kementerian PUPR akhirnya menuntaskan pembangunan TPA Sampah Regional ini. TPA ini memiliki kapasitas 640.000 ton atau 275 ton/hari, menggunakan sistem sanitary landfill dengan umur layanan hingga tujuh tahun.

Menurut Kepala BPPW Kalsel, Teuku Davis Hamid, TPA Regional ini melayani Kota Banjarmasin sebesar 105 ton/hari, Kota Banjarbaru 90 ton/hari, Kabupaten Banjar 60 ton/hari, Kabupaten Barito Kuala 10 ton/hari dan Kabupaten Tanah Laut 10 ton/hari

“Ini satu-satunya TPA Sampah Regional di Kalimantan,” ungkapnya, kepada wartawan, termasuk Rakyat Merdeka & RM.id, di Banjarbaru, Rabu (5/10).

Pembangunan TPA Sampah Regional Banjarbakula ini, jelas Davis, dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2017-2018, dengan nilai Rp 150 miliar.

Sementara Lembaga Pengelola TPA Sampah Regional Banjarbakula dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis Provinsi Daerah (UPTD) TPA Sampah, Dinas Lingkungan Hidup, Kalimantan Selatan.

 

“TPA ini memberikan manfaat untuk meningkatkan pelayanan pengelolaan sampah di kawasan Banjarbakula, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Barito Kuala,” terangnya.

Adapun penggunaan sistem sanitary landfill di TPA ini, jelas Davis, tujuannya agar membuat kawasan di sekitar tidak tercemar dan berbau akibat timbunan sampah. Cara kerja sistem sanitary landfill ini, bebernya, sampah yang masuk adalah sampah sisa atau 30% dari sampah awal yang telah dipilih. Sampah kemudian dilapisi tanah.

“Beda dengan sistem open dumping, sampah hanya dibuang begitu saja tidak diproses lebih lanjut,” contoh David, membandingkan.

Sementara cairan atau air lindi sampah basah, lanjutnya, juga diolah dulu, hingga menjadi air bersih yang tidak mengandung zat kimia yang bisa mencemari lingkungan.

Selain itu, masih menurut David, TPA ini juga dilengkapi area pencucian armada unit truck, yang membuat lingkungan sekitar lebih bersih. “Truck yang keluar dari TPA ini sudah bersih lagi, karena ketika mereka keluar, dicuci dulu truck-nya,” tutupnya. (*)
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories