Post Title

Partai NasDem resmi mengumumkan Anies Baswedan sebagai calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Deklarasi  capres ini  suatu terobosan politik yang patut diapresiasi oleh para pencinta demokrasi.

Selain menghitung peluang, Partai NasDem juga cermat menyakini bahwa Anies adalah sosok figur yang tepat untuk memimpin Indonesia ke depan.

Sebagai sesama kader HMI, patut memberikan apresiasi pada NasDem dan ucapan selamat pada Anies.  Dan bagi saya, ini bukan hal baru baginya, sebab secara beruntun Anies selalu mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri.  

Tetapi keharuan itu terasa, takala saya menyaksikan momen bahagia Anies berpelukan dengan Surya Paloh seusai Anies menyampaikan pidato kesiapannya menjadi capres dihadapan forum nasdem.  

Mata Anies dan mata Surya Paloh nampak berkaca-kaca, sudah pasti tak sanggup menahan haru, atas adanya momen bersejarah itu.  Tentu saja manusiawi,  dan sebagai manusia kita hanya merencanakan, Allah SWT-lah yang mengatur dan menentukan hasilnya.

Bagi setiap Kader HMI mesti bangga dan patutlah ambil hikmahnya.  Bangga Karena Anies dapat menjadi pembuka jalan dan pemberi contoh menjadi pemimpin yang dikagumi dunia dan diakui eksistensinya oleh rakyat.  

Catatan penting dari proses politik pencapresan Anies bagi HMI adalah adanya hubungan moralitas antara Anies dan HMI (kader & alumni). Ada sentimen emosional yang lahiriah pada proses ke-HMI-an.  Dan hal itu tidak dapat dinafikan oleh karena beda faksi politik sesama kader hijau hitam itu.

Kader HMI danAnies memiliki hubungan secara sikologis.  Meskipun tidak ada keharusan bagi HMI untuk mendukung atau berada dibarisannya Anies.  Tetapi tentu tidak  mesti kader HMI mengambil posisi berlawanan, apalagi dengan berlawanan dengan cara-cara tidak elegan seperti tingkah laku para BUZZER yang secara membabi buta menyerang dan melecehkan Anies. 

Dalam politik praktis, memilih dan mendukung seseorang selalu diukur dengan imbalan politik.  Entah jabatan, uang dan atau kompensasi lainnya.  Disinilah kelemahan Anies, lemah pada orang-orang yang berpolitik hanya untuk cari manfaat  keuntungan sesaat.   

Anies tak dapat memberi hal semacam itu, dia hanya mampu memberi harapan, menjawab tantangan. Hal itupun akan dapat dipahami bila kita punya kesamaan cita-cita. Ada perasaan yang sama dengan Anies yang berkomitmen mendedikasikan diri untuk semata-mata pengabdian nusa dan  bangsa. 

Saya sadari bahwa banyak faksi politik di internal alumni HMI. Oleh karena itu, saya katakan  tidak ada keharusan mendukung Anies, selain jalur perjuangan politik telah meniscayakan menghargai perbedaan, setiap pilihan politik juga bukan karena adanya persamaan warna, ras, agama,  tetapi lebih pada kesamaan pandangan dan cita-cita.  

Tantangan politik yang dihadapi Anies kedepan sungguh amatlah berat, gangguan politik melalui hujatan, hinaan, makian dan kedzoliman akan berlapis-lapis dilancarkan oleh orang-orang yang anti perubahan bangsa kearah yang lebih baik. Miris bila kita hanya terdiam menyaksikan semua itu. tetapi akan lebih sedih bila kita yang waras  membiarkan hal itu terjadi.  Bukankah lebih besar dosanya, jika kita yang tahu kebenarannya lalu berdiam diri menyembunyikan fakta, hanya oleh karena kita  beda kepentingan dengan Anies. 

Perubahan Jakarta sudah membuka mata dunia, aneh bin ajaib kalau anak-anak HMI tidak tahu dan apalagi tak mau mengakuinya.  Bahwa kita setuju, tidak ada yang kebal hukum, semua sama didepan hukum, termasuk Anies. Maka patut kita perjuangkan agar hukum di tegakan seadil-adilnya, dan hukum tidaklah tepat jika dijadikan alat politik dan berdiri menjadi kekuatan politik kelompok tertentu. Sebab hukum harus bekerja untuk melindungi segenap warga negara secara adil dan bermartabat.

HMI semestinya secara moril ikut  menjaga martabat politik bangsa agar adil dan beradab. Itu amanah misi Ke-islaman, Ke Indonesia dan Ke ummatan sebagai doktrin keorganisasian. Bukankan HMI telah sepakat bahwa sesama kader haruslah konsisten pada nilai, selain kita tentu saja saling mewadahi dan memahami kekurangan satu sama lain, meskipun kita berada dalam pilihan politik yang berbeda.  

Bahwa kita sepakat akan berdebat bila ada nilai dan substansi kebangsaan yang secara sengaja dihilangkan oleh penguasa negara, bukan sebaliknya kita berdebat karena beda kepentingan pribadi dan kelompok, dan  disitulah kedewasaan HMI kita dirawat dan dilestarikan.■

Penulis: Wakil Ketua Umum KAHMI Jaya, Muhammad Syukur Mandar
 

]]> Partai NasDem resmi mengumumkan Anies Baswedan sebagai calon presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Deklarasi  capres ini  suatu terobosan politik yang patut diapresiasi oleh para pencinta demokrasi.

Selain menghitung peluang, Partai NasDem juga cermat menyakini bahwa Anies adalah sosok figur yang tepat untuk memimpin Indonesia ke depan.

Sebagai sesama kader HMI, patut memberikan apresiasi pada NasDem dan ucapan selamat pada Anies.  Dan bagi saya, ini bukan hal baru baginya, sebab secara beruntun Anies selalu mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri.  

Tetapi keharuan itu terasa, takala saya menyaksikan momen bahagia Anies berpelukan dengan Surya Paloh seusai Anies menyampaikan pidato kesiapannya menjadi capres dihadapan forum nasdem.  

Mata Anies dan mata Surya Paloh nampak berkaca-kaca, sudah pasti tak sanggup menahan haru, atas adanya momen bersejarah itu.  Tentu saja manusiawi,  dan sebagai manusia kita hanya merencanakan, Allah SWT-lah yang mengatur dan menentukan hasilnya.

Bagi setiap Kader HMI mesti bangga dan patutlah ambil hikmahnya.  Bangga Karena Anies dapat menjadi pembuka jalan dan pemberi contoh menjadi pemimpin yang dikagumi dunia dan diakui eksistensinya oleh rakyat.  

Catatan penting dari proses politik pencapresan Anies bagi HMI adalah adanya hubungan moralitas antara Anies dan HMI (kader & alumni). Ada sentimen emosional yang lahiriah pada proses ke-HMI-an.  Dan hal itu tidak dapat dinafikan oleh karena beda faksi politik sesama kader hijau hitam itu.

Kader HMI danAnies memiliki hubungan secara sikologis.  Meskipun tidak ada keharusan bagi HMI untuk mendukung atau berada dibarisannya Anies.  Tetapi tentu tidak  mesti kader HMI mengambil posisi berlawanan, apalagi dengan berlawanan dengan cara-cara tidak elegan seperti tingkah laku para BUZZER yang secara membabi buta menyerang dan melecehkan Anies. 

Dalam politik praktis, memilih dan mendukung seseorang selalu diukur dengan imbalan politik.  Entah jabatan, uang dan atau kompensasi lainnya.  Disinilah kelemahan Anies, lemah pada orang-orang yang berpolitik hanya untuk cari manfaat  keuntungan sesaat.   

Anies tak dapat memberi hal semacam itu, dia hanya mampu memberi harapan, menjawab tantangan. Hal itupun akan dapat dipahami bila kita punya kesamaan cita-cita. Ada perasaan yang sama dengan Anies yang berkomitmen mendedikasikan diri untuk semata-mata pengabdian nusa dan  bangsa. 

Saya sadari bahwa banyak faksi politik di internal alumni HMI. Oleh karena itu, saya katakan  tidak ada keharusan mendukung Anies, selain jalur perjuangan politik telah meniscayakan menghargai perbedaan, setiap pilihan politik juga bukan karena adanya persamaan warna, ras, agama,  tetapi lebih pada kesamaan pandangan dan cita-cita.  

Tantangan politik yang dihadapi Anies kedepan sungguh amatlah berat, gangguan politik melalui hujatan, hinaan, makian dan kedzoliman akan berlapis-lapis dilancarkan oleh orang-orang yang anti perubahan bangsa kearah yang lebih baik. Miris bila kita hanya terdiam menyaksikan semua itu. tetapi akan lebih sedih bila kita yang waras  membiarkan hal itu terjadi.  Bukankah lebih besar dosanya, jika kita yang tahu kebenarannya lalu berdiam diri menyembunyikan fakta, hanya oleh karena kita  beda kepentingan dengan Anies. 

Perubahan Jakarta sudah membuka mata dunia, aneh bin ajaib kalau anak-anak HMI tidak tahu dan apalagi tak mau mengakuinya.  Bahwa kita setuju, tidak ada yang kebal hukum, semua sama didepan hukum, termasuk Anies. Maka patut kita perjuangkan agar hukum di tegakan seadil-adilnya, dan hukum tidaklah tepat jika dijadikan alat politik dan berdiri menjadi kekuatan politik kelompok tertentu. Sebab hukum harus bekerja untuk melindungi segenap warga negara secara adil dan bermartabat.

HMI semestinya secara moril ikut  menjaga martabat politik bangsa agar adil dan beradab. Itu amanah misi Ke-islaman, Ke Indonesia dan Ke ummatan sebagai doktrin keorganisasian. Bukankan HMI telah sepakat bahwa sesama kader haruslah konsisten pada nilai, selain kita tentu saja saling mewadahi dan memahami kekurangan satu sama lain, meskipun kita berada dalam pilihan politik yang berbeda.  

Bahwa kita sepakat akan berdebat bila ada nilai dan substansi kebangsaan yang secara sengaja dihilangkan oleh penguasa negara, bukan sebaliknya kita berdebat karena beda kepentingan pribadi dan kelompok, dan  disitulah kedewasaan HMI kita dirawat dan dilestarikan.■

Penulis: Wakil Ketua Umum KAHMI Jaya, Muhammad Syukur Mandar
 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories