Post Title

Duet Ganjar Pranowo-Erick Thohir berhasil meraih elektabilitas tertinggi dalam simulasi 3 pasangan Capres-Cawapres 2024, yang dirilis Poltracking Indonesia hari ini, dengan angka 27,6 persen.

Membalap Prabowo-Puan yang hanya mengantongi angka 20,7 persen. Serta Anies Baswedan-AHY 17,9 persen.

Namun, jika pasangan duet Anies diganti dengan Sandiaga Uno, elektabilitas Ganjar-Erick turun sedikit ke angka 26,4 persen.

Prabowo-Puan juga begitu. Susut sedikit jadi 19,8 persen karena pergantian sosok cawapres untuk Anies.

Sedangkan Anies, naik 18,9 persen begitu dipasangkan dengan Sandi.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR menjelaskan, ketiga nama capres yang disimulasikan dalam pasangan duet itu merupakan figur kuat capres, dengan angka elektabilitas di atas 10 persen.

“Mereka adalah Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan,” kata Hanta Yuda dalam keterangannya, Kamis (9/6).

Sementara pada figur calon wakil presiden, terdapat lima nama yang selalu konsisten berada dalam lima besar elektabilitas, dengan angka di atas 5 persen.  Yakni, Sandiaga Salahuddin Uno, Erick Thohir, Agus Harimurti Yudhoyono, Ridwan Kamil dan Puan Maharani.

Mengingat pelaksanaan pilpres yang masih cukup jauh hingga 2024, Hanta menilai, berbagai dinamika, peristiwa, dan momentum politik yang berpotensi mengubah peta politik elektoral ke depan, bukanlah hal yang mustahil.

Calon presiden dalam desain penyerentakan pemilu presiden dan pemilu legislatif secara teoretik (coattail effect) atau efek ekor jas, dapat berimplikasi pada suara partai pendukung/pengusung capres.

“Kesalahan partai dalam mengusung capres dengan tingkat elektabilitas rendah, akan berdampak pada disinsentif suara partai. Sehingga wajar, jika figur dengan tingkat keterpilihan tinggi sebagai capres, menjadi daya tarik partai dan koalisi,” terangnya.

Desain pencalonan berpasangan antara capres dan cawapres, membuka ruang bagi pentingnya memperhatikan figur cawapres.

“Figur cawapres yang kuat secara elektoral juga berimplikasi bagi bekerjanya “efek ekor jas” sebagaimana figur capres karena model pencalonan berpasangan,” pungkas Hanta Yuda. ■

]]> Duet Ganjar Pranowo-Erick Thohir berhasil meraih elektabilitas tertinggi dalam simulasi 3 pasangan Capres-Cawapres 2024, yang dirilis Poltracking Indonesia hari ini, dengan angka 27,6 persen.

Membalap Prabowo-Puan yang hanya mengantongi angka 20,7 persen. Serta Anies Baswedan-AHY 17,9 persen.

Namun, jika pasangan duet Anies diganti dengan Sandiaga Uno, elektabilitas Ganjar-Erick turun sedikit ke angka 26,4 persen.

Prabowo-Puan juga begitu. Susut sedikit jadi 19,8 persen karena pergantian sosok cawapres untuk Anies.

Sedangkan Anies, naik 18,9 persen begitu dipasangkan dengan Sandi.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR menjelaskan, ketiga nama capres yang disimulasikan dalam pasangan duet itu merupakan figur kuat capres, dengan angka elektabilitas di atas 10 persen.

“Mereka adalah Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan,” kata Hanta Yuda dalam keterangannya, Kamis (9/6).

Sementara pada figur calon wakil presiden, terdapat lima nama yang selalu konsisten berada dalam lima besar elektabilitas, dengan angka di atas 5 persen.  Yakni, Sandiaga Salahuddin Uno, Erick Thohir, Agus Harimurti Yudhoyono, Ridwan Kamil dan Puan Maharani.

Mengingat pelaksanaan pilpres yang masih cukup jauh hingga 2024, Hanta menilai, berbagai dinamika, peristiwa, dan momentum politik yang berpotensi mengubah peta politik elektoral ke depan, bukanlah hal yang mustahil.

Calon presiden dalam desain penyerentakan pemilu presiden dan pemilu legislatif secara teoretik (coattail effect) atau efek ekor jas, dapat berimplikasi pada suara partai pendukung/pengusung capres.

“Kesalahan partai dalam mengusung capres dengan tingkat elektabilitas rendah, akan berdampak pada disinsentif suara partai. Sehingga wajar, jika figur dengan tingkat keterpilihan tinggi sebagai capres, menjadi daya tarik partai dan koalisi,” terangnya.

Desain pencalonan berpasangan antara capres dan cawapres, membuka ruang bagi pentingnya memperhatikan figur cawapres.

“Figur cawapres yang kuat secara elektoral juga berimplikasi bagi bekerjanya “efek ekor jas” sebagaimana figur capres karena model pencalonan berpasangan,” pungkas Hanta Yuda. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories