Positivity Rate Tembus 38,34 Persen, Karena Jumlah Tes Berkurang .

Angka positivity rate hari ini Selasa (16/2) mencapai 38,34 persen. Ini merupakan nilai positivity rate tertinggi, sejak pandemi mewabah di Tanah Air 2 Maret 2020. Mengungguli nilai positivity rate pada 31 Januari 2021, yang besarnya 36,1 persen.

Apakah angka yang tinggi ini menggambarkan tingginya kasus, atau karena jumlah tes bekurang? Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai jumlah kasus harian yang rendah belakangan ini sekadar artificial data.

“Bisa jadi datanya belum terbaharui semua. Atau memang karena sengaja diturunkan jumlah tesnya. Sehingga wajar positivity rate tinggi,” kata Tri Yunis kepada RM.id, Selasa (16/2).

Diketahui, selama sepekan terakhir, jumlah kasus harian cenderung melandai. Angkanya tidak mencapai 10.000 orang per hari. Bahkan, kasus harian bertahan di angka 6.000-an orang. Rata-rata kasus harian dalam seminggu terakhir (8-14 Feb) turun 25 persen dari minggu sebelumnya (1-7 Feb), namun jumlah orang diperiksa dalam seminggu terakhir juga turun 20 persen dari minggu sebelumnya.

Tingkat positivitas tes Covid-19 di Indonesia paruh pertama bulan Feb 2021: 26,88 persen. Minggu I (1-7 Feb): 11.360/ 41.019 atau 27,7 persen dan Minggu II (8-14 Feb): 8.519/32.934 atau 25,87 persen.

“Ya biasa dan wajar saja. Karena menang tesnya berkurang. Seharusnya jangan berkurang, supaya tahu kondisi yang sebenarnya,” imbau Tri Yunis.

Dia menyatakan, perlu ada penjelasan dari pemerintah mengapa kasus harian terus berkurang hingga mengurangi keterisian rumah sakit. Apakah karena PPKM berjalan efektif atau ada alasan lainnya.

Tri juga menegaskan, vaksinasi bukan alasan penurunan kasus harian. Sebab, jumlah warga yang divaksinasi masih jauh lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk menciptakan herd immunity. “Vaksinasi 10 juta saja belum ada dampaknya, ini baru 1 juta,” kata dia.

Hanya saja, Tri Yunis memprediksi, lonjakan kasus tak akan terlalu tinggi pascalibur panjang Imlek akhir pekan kemarin. “Sepetinya pemerintah dan masyarakat belajar dari libur panjang sebelumnya. Meski meningkat, pergerakan orang tak terlampau banyak. Sehingga tak akan meledak seperti libur panjang yang lalu,” pungkasnya.

Untuk informasi, total kasus positif Covid-19 per Selasa (16/2) mencapai 1.233.959. Naik 10.029 kasus dibanding kemarin. Jumlah kasus baru sebanyak 10.029 ini diperoleh dari hasil tes PCR terhadap 28.167 spesimen, dari 26.156 orang yang dites. Dari data tersebut, dapat dihitung nilai persentase kasus positif atau positivity rate, yang besarnya 38,34 persen. Angka ini nyaris 8 kali lipat standar maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang besarnya hanya 5 persen.

Sementara nilai positivity rate dalam sepekan terakhir, mencapai 28,21 persen. Atau nyaris 6 kali lipat standar maksimal WHO. Dalam 7 hari terakhir, rata-rata harian total spesimen yang diuji berjumlah 46.291, dari 29.971 orang yang diperiksa. Sedangkan nilai positivity rate secara keseluruhan mencapai 18,36 persen, dengan total kasus positif 1.233.959 dari  6.721.920 orang yang diuji. 

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengakui, tingkat pengujian individu di Indonesia memang menurun dalam beberapa hari terakhir.

Alasannya banyak laboratorium yang tutup selama libur panjang perayaan Imlek dan akhir pekan 12-14 Februari 2021. “Salah satu penyebab utamanya adalah libur panjang sehingga banyak laboratorium swasta yang tidak beroperasi,” kata Wiku.

Berdasarkan data harian Satgas Covid-19, penurunan tes terlihat dari jumlah spesimen yang diperiksa selama 3-4 hari terakhir. Pada Kamis (11/2), jumlah spesimen yang diperiksa mencapai 71.511 spesimen atau tidak berbeda jauh dengan Rabu (10/2) yang sebanyak 70.312 spesimen. Namun, pada Jumat (12/2), jumlah spesimen yang diperiksa menurun menjadi 53.957 spesimen.

Kemudian, Sabtu (13/2) jumlah spesimen yang diperiksa kembali menurun menjadi 37.816 spesimen dan pada Ahad (14/2) jumlah spesimen yang diperiksa sebesar 35.894 spesimen. Penurunan berlanjut pada Senin (15/2), dengan jumlah spesimen yang diperiksa sebesar 26.378, dan Selasa (16/2) sebanyak 28.167 spesimen.

“Untuk menyikapi ini pemerintah melalui Kemenkes dan satgas menggencarkan metode skrining dengan swab test antigen secara nasional di 514 kabupaten kota serta lebih dari 10 ribu puskesmas. Kemenkes pun terus menganalisa kemungkinan faktor lainnya,” paparnya. [FAQ]

]]> .
Angka positivity rate hari ini Selasa (16/2) mencapai 38,34 persen. Ini merupakan nilai positivity rate tertinggi, sejak pandemi mewabah di Tanah Air 2 Maret 2020. Mengungguli nilai positivity rate pada 31 Januari 2021, yang besarnya 36,1 persen.

Apakah angka yang tinggi ini menggambarkan tingginya kasus, atau karena jumlah tes bekurang? Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai jumlah kasus harian yang rendah belakangan ini sekadar artificial data.

“Bisa jadi datanya belum terbaharui semua. Atau memang karena sengaja diturunkan jumlah tesnya. Sehingga wajar positivity rate tinggi,” kata Tri Yunis kepada RM.id, Selasa (16/2).

Diketahui, selama sepekan terakhir, jumlah kasus harian cenderung melandai. Angkanya tidak mencapai 10.000 orang per hari. Bahkan, kasus harian bertahan di angka 6.000-an orang. Rata-rata kasus harian dalam seminggu terakhir (8-14 Feb) turun 25 persen dari minggu sebelumnya (1-7 Feb), namun jumlah orang diperiksa dalam seminggu terakhir juga turun 20 persen dari minggu sebelumnya.

Tingkat positivitas tes Covid-19 di Indonesia paruh pertama bulan Feb 2021: 26,88 persen. Minggu I (1-7 Feb): 11.360/ 41.019 atau 27,7 persen dan Minggu II (8-14 Feb): 8.519/32.934 atau 25,87 persen.

“Ya biasa dan wajar saja. Karena menang tesnya berkurang. Seharusnya jangan berkurang, supaya tahu kondisi yang sebenarnya,” imbau Tri Yunis.

Dia menyatakan, perlu ada penjelasan dari pemerintah mengapa kasus harian terus berkurang hingga mengurangi keterisian rumah sakit. Apakah karena PPKM berjalan efektif atau ada alasan lainnya.

Tri juga menegaskan, vaksinasi bukan alasan penurunan kasus harian. Sebab, jumlah warga yang divaksinasi masih jauh lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk menciptakan herd immunity. “Vaksinasi 10 juta saja belum ada dampaknya, ini baru 1 juta,” kata dia.

Hanya saja, Tri Yunis memprediksi, lonjakan kasus tak akan terlalu tinggi pascalibur panjang Imlek akhir pekan kemarin. “Sepetinya pemerintah dan masyarakat belajar dari libur panjang sebelumnya. Meski meningkat, pergerakan orang tak terlampau banyak. Sehingga tak akan meledak seperti libur panjang yang lalu,” pungkasnya.

Untuk informasi, total kasus positif Covid-19 per Selasa (16/2) mencapai 1.233.959. Naik 10.029 kasus dibanding kemarin. Jumlah kasus baru sebanyak 10.029 ini diperoleh dari hasil tes PCR terhadap 28.167 spesimen, dari 26.156 orang yang dites. Dari data tersebut, dapat dihitung nilai persentase kasus positif atau positivity rate, yang besarnya 38,34 persen. Angka ini nyaris 8 kali lipat standar maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang besarnya hanya 5 persen.

Sementara nilai positivity rate dalam sepekan terakhir, mencapai 28,21 persen. Atau nyaris 6 kali lipat standar maksimal WHO. Dalam 7 hari terakhir, rata-rata harian total spesimen yang diuji berjumlah 46.291, dari 29.971 orang yang diperiksa. Sedangkan nilai positivity rate secara keseluruhan mencapai 18,36 persen, dengan total kasus positif 1.233.959 dari  6.721.920 orang yang diuji. 

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengakui, tingkat pengujian individu di Indonesia memang menurun dalam beberapa hari terakhir.

Alasannya banyak laboratorium yang tutup selama libur panjang perayaan Imlek dan akhir pekan 12-14 Februari 2021. “Salah satu penyebab utamanya adalah libur panjang sehingga banyak laboratorium swasta yang tidak beroperasi,” kata Wiku.

Berdasarkan data harian Satgas Covid-19, penurunan tes terlihat dari jumlah spesimen yang diperiksa selama 3-4 hari terakhir. Pada Kamis (11/2), jumlah spesimen yang diperiksa mencapai 71.511 spesimen atau tidak berbeda jauh dengan Rabu (10/2) yang sebanyak 70.312 spesimen. Namun, pada Jumat (12/2), jumlah spesimen yang diperiksa menurun menjadi 53.957 spesimen.

Kemudian, Sabtu (13/2) jumlah spesimen yang diperiksa kembali menurun menjadi 37.816 spesimen dan pada Ahad (14/2) jumlah spesimen yang diperiksa sebesar 35.894 spesimen. Penurunan berlanjut pada Senin (15/2), dengan jumlah spesimen yang diperiksa sebesar 26.378, dan Selasa (16/2) sebanyak 28.167 spesimen.

“Untuk menyikapi ini pemerintah melalui Kemenkes dan satgas menggencarkan metode skrining dengan swab test antigen secara nasional di 514 kabupaten kota serta lebih dari 10 ribu puskesmas. Kemenkes pun terus menganalisa kemungkinan faktor lainnya,” paparnya. [FAQ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories