Polri Koordinasi Dengan Imigrasi Mentor Indra Kenz Diduga Sudah Kabur Ke Luar Negeri

Fakarich Suhartami diduga telah kabur ke luar negeri. Kepolisian menggandeng Imigrasi untuk melacak keberadaan orang yang membantu Indra Kenz menyembunyikan aset hasil penipuan Binomo.

“Namanya (Fakarich) masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian,” kata Kepala Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Gatot Repli H.

Kepolisian pun menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Fakarich. Ia dianggap tidak kooperatif. Lantaran telah dua kali mangkir dari pemeriksaan.

Fakarich hendak dikorek mengenai kasus yang menjerat Indra Kenz. Ia diduga menjadi mentor Indra dalam menjalankan Binomo maupun menyembunyikan hasil penipuan investasi bodong ini.

Pencairan dilakukan di Jakarta maupun Medan. Namun keberadaan Fakarich belum terendus.

Penelusuran jejak Fakarich di dunia maya juga dilakukan tim siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Upaya ini juga belum menemukan titik terang.

Dari sini kecurigaan Fakarich telah kabur ke luar negeri sejak awal Maret. Begitu kasus Indra Kenz mencuat.

“Kita koordinasi dengan Imigrasi untuk memastikan informasi apakah yang bersangkutan sudah melakukan perjalanan ke luar negeri atau belum,” kata Gatot.

Ia mengimbau Fakarich bersikap kooperatif dengan datang ke Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan. Jika terus mangkir, kepolisian bisa menjerat Fakarich sebagai tersangka merintangi penyidikan.

Sebelumnya, Indra Kenz ketahuan menyembunyikan aset di luar negeri.

“Dugaan ada Rp 58 miliar dalam bentuk mata uang kripto di luar negeri,” ungkap Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Whisnu Hermawan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (20/3/2022).

Menurut Whisnu, Indra Kenz berupaya untuk menyembunyikan aset dan mengalihkan ke mata uang kripto. Penyidik Bareskrim telah berkoordinasi dengan marketplace Indodax — yang mentransaksikan mata uang kripto. Alhasil ditemukan dana senilai Rp 200 juta.

 

Penyidik juga berkoordinasi dengan Zenith, salah satu payment gateway yang diduga ada dana Indra Kenz. “Dana sekitar Rp 200 jutaan sudah kami sita,” ujar Whisnu.

Bareskrim terus menelusuri aset-aset Indra Kenz baik dalam negeri maupun di luar negeri. Bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI).

“Kami masih membutuhkan bantuan PPATK, ada beberapa dana di luar negeri kami masih tracing (pelacakan) mudah-mudahan ini bisa diungkap ke mana saja uang tersebut,” kata Whisnu.

Hingga kini penyidik Bareskrim telah menyita aset Indra Kenz berjumlah Rp 55 miliar. Berupa uang tunai Rp1,1 miliar, enam unit bangunan di Tangerang Selatan Sumatera Utara, jam tangan, mobil Tesla, mobil Ferrari, dan beberapa alat komunikasi.

Aset-aset itu menjadi barang bukti kasus penipuan binary option Binomo. Indra merupakan affiliator Binomo.

Menurut Whisnu, pihaknya tidak berhenti sampai di sini. Apa pun modus Indra Kenz untuk menyembunyikan asetnya, penyidik bakal melacak guna memulihkan kerugian para korban.

”Semua terdata. Transfer uang, pindahan uang semua ada riwayat digitalnya kami akan bisa ungkap, kami dibantu teman-teman PPATK, OJK, dan BI,” kata Whisnu.

Menurut Kasubdirektorat II Dittipideksus Bareskrim Polri Komisaris Besar Chandra Sukma Kumara, pengalihan aset ke mata uang kripto menjadi tren untuk menyembunyikan uang hasil kejahatan. Sebab prosesnya tidak njlimet.

“Aset kripto lebih mudah dipindahkan. Pendapatan memang sedikit, tapi lebih mudah ketimbang perbankan. Jadi fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh para pelaku ini,” kata Chandra.

Dalam kasus ini, Indra Kenz dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 28 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara.

Kemudian, Pasal 3, Pasal 5, dan Pasal 10 Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman 20 tahun penjara dan maksimal Rp10 miliar.

Terakhir Pasal 378 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dengqn ancaman hukuman penjara 4 tahun.  [GPG]

]]> Fakarich Suhartami diduga telah kabur ke luar negeri. Kepolisian menggandeng Imigrasi untuk melacak keberadaan orang yang membantu Indra Kenz menyembunyikan aset hasil penipuan Binomo.

“Namanya (Fakarich) masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian,” kata Kepala Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Gatot Repli H.

Kepolisian pun menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Fakarich. Ia dianggap tidak kooperatif. Lantaran telah dua kali mangkir dari pemeriksaan.

Fakarich hendak dikorek mengenai kasus yang menjerat Indra Kenz. Ia diduga menjadi mentor Indra dalam menjalankan Binomo maupun menyembunyikan hasil penipuan investasi bodong ini.

Pencairan dilakukan di Jakarta maupun Medan. Namun keberadaan Fakarich belum terendus.

Penelusuran jejak Fakarich di dunia maya juga dilakukan tim siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Upaya ini juga belum menemukan titik terang.

Dari sini kecurigaan Fakarich telah kabur ke luar negeri sejak awal Maret. Begitu kasus Indra Kenz mencuat.

“Kita koordinasi dengan Imigrasi untuk memastikan informasi apakah yang bersangkutan sudah melakukan perjalanan ke luar negeri atau belum,” kata Gatot.

Ia mengimbau Fakarich bersikap kooperatif dengan datang ke Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan. Jika terus mangkir, kepolisian bisa menjerat Fakarich sebagai tersangka merintangi penyidikan.

Sebelumnya, Indra Kenz ketahuan menyembunyikan aset di luar negeri.

“Dugaan ada Rp 58 miliar dalam bentuk mata uang kripto di luar negeri,” ungkap Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Whisnu Hermawan di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (20/3/2022).

Menurut Whisnu, Indra Kenz berupaya untuk menyembunyikan aset dan mengalihkan ke mata uang kripto. Penyidik Bareskrim telah berkoordinasi dengan marketplace Indodax — yang mentransaksikan mata uang kripto. Alhasil ditemukan dana senilai Rp 200 juta.

 

Penyidik juga berkoordinasi dengan Zenith, salah satu payment gateway yang diduga ada dana Indra Kenz. “Dana sekitar Rp 200 jutaan sudah kami sita,” ujar Whisnu.

Bareskrim terus menelusuri aset-aset Indra Kenz baik dalam negeri maupun di luar negeri. Bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI).

“Kami masih membutuhkan bantuan PPATK, ada beberapa dana di luar negeri kami masih tracing (pelacakan) mudah-mudahan ini bisa diungkap ke mana saja uang tersebut,” kata Whisnu.

Hingga kini penyidik Bareskrim telah menyita aset Indra Kenz berjumlah Rp 55 miliar. Berupa uang tunai Rp1,1 miliar, enam unit bangunan di Tangerang Selatan Sumatera Utara, jam tangan, mobil Tesla, mobil Ferrari, dan beberapa alat komunikasi.

Aset-aset itu menjadi barang bukti kasus penipuan binary option Binomo. Indra merupakan affiliator Binomo.

Menurut Whisnu, pihaknya tidak berhenti sampai di sini. Apa pun modus Indra Kenz untuk menyembunyikan asetnya, penyidik bakal melacak guna memulihkan kerugian para korban.

”Semua terdata. Transfer uang, pindahan uang semua ada riwayat digitalnya kami akan bisa ungkap, kami dibantu teman-teman PPATK, OJK, dan BI,” kata Whisnu.

Menurut Kasubdirektorat II Dittipideksus Bareskrim Polri Komisaris Besar Chandra Sukma Kumara, pengalihan aset ke mata uang kripto menjadi tren untuk menyembunyikan uang hasil kejahatan. Sebab prosesnya tidak njlimet.

“Aset kripto lebih mudah dipindahkan. Pendapatan memang sedikit, tapi lebih mudah ketimbang perbankan. Jadi fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh para pelaku ini,” kata Chandra.

Dalam kasus ini, Indra Kenz dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 28 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara.

Kemudian, Pasal 3, Pasal 5, dan Pasal 10 Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman 20 tahun penjara dan maksimal Rp10 miliar.

Terakhir Pasal 378 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dengqn ancaman hukuman penjara 4 tahun.  [GPG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories