PMI Manufaktur Naik, Rupiah Makin Perkasa

Pagi ini rupiah kembali perkasa. Rupiah dibuka level Rp 14.250 per dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,21 persen dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.280 per dolar AS.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang saingannya turun 0,203 persen ke level 92,376. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro minus 0,06 persen ke level Rp 16.843, terhadap poundsterling Inggris melemah 0,07 persen ke level Rp 19.592, dan terhadap dolar Australia menguat 0,05 persen ke level Rp 10.470.

Analis Pasar Keuangan, Ariston Tjendra melihat, pelaku pasar saat ini juga cenderung wait and see menunggu sejumlah rilis data perekonomian. Terutama indikator yang ditunggu adalah data sektor pekerjaan AS dan juga US Factory Orders bulan Juli yang diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya.

“Pergerakan rupiah akan bergantung pada respons pelaku pasar terhadap data awal penyerapan tenaga kerja swasta di luar sektor pertanian alias non farm payroll (NFP) di AS,” ujarnya, Kamis (2/9).

Dari dalam negeri dari dalam negeri, IHS Markit melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia masih mengalami kontraksi di bulan Agustus, meski membaik dari bulan sebelumnya. Angka PMI Agustus dilaporkan sebesar 43,7 dari sebelumnya 40,1.

Sepanjang hari ini Ariston memproyeksi rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp 14.250 – Rp 14.350 per dolar AS. [DWI]

]]> Pagi ini rupiah kembali perkasa. Rupiah dibuka level Rp 14.250 per dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,21 persen dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.280 per dolar AS.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang saingannya turun 0,203 persen ke level 92,376. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro minus 0,06 persen ke level Rp 16.843, terhadap poundsterling Inggris melemah 0,07 persen ke level Rp 19.592, dan terhadap dolar Australia menguat 0,05 persen ke level Rp 10.470.

Analis Pasar Keuangan, Ariston Tjendra melihat, pelaku pasar saat ini juga cenderung wait and see menunggu sejumlah rilis data perekonomian. Terutama indikator yang ditunggu adalah data sektor pekerjaan AS dan juga US Factory Orders bulan Juli yang diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya.

“Pergerakan rupiah akan bergantung pada respons pelaku pasar terhadap data awal penyerapan tenaga kerja swasta di luar sektor pertanian alias non farm payroll (NFP) di AS,” ujarnya, Kamis (2/9).

Dari dalam negeri dari dalam negeri, IHS Markit melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia masih mengalami kontraksi di bulan Agustus, meski membaik dari bulan sebelumnya. Angka PMI Agustus dilaporkan sebesar 43,7 dari sebelumnya 40,1.

Sepanjang hari ini Ariston memproyeksi rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp 14.250 – Rp 14.350 per dolar AS. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories