PM Albanese Temui Jokowi Hari Ini Negeri Kanguru Bakal Investasi Rp 2 Triliun

Perdana Menteri (PM) Australia baru Anthony Albanese melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, hari ini dan besok. Negeri Kanguru menargetkan kerja sama berbagai bidang kedua negara meningkat. Terutama, soal ekonomi.

Albanese berangkat dari Negeri Kanguru kemarin siang. Ia akan berada di Indonesia hingga Selasa (7/6). Dalam kunjungannya ini, ia berusaha merevitalisasi era baru bagi hubungan diplomatik Australia dengan Indonesia.

Albanese ingin meningkatkan hubungan dengan tetangga terdekat sebagai prioritas dari fokus baru pemerintahnya pada kebijakan luar negeri. Untuk menunjukkan komitmennya itu, Albanese mengunjungi Indonesia, dua pekan setelah dilantik sebagai PM ke-31 Australia.

Dalam keterangan resmi Kedutaan Besar Australia, kemarin, PM Albanese akan didampingi Menteri Luar Negeri Penny Wong, Menteri Perdagangan Don Farrell, Menteri Perindustrian Ed Husic dan Anggota Parlemen Luke Gosling. Delegasi tingkat tinggi pemimpin bisnis Australia juga turut bergabung dalam kunjungan ini.

Pada Senin siang ini, Albanese akan melakukan Pertemuan Pemimpin Tahunan dengan Presiden Widodo di Jakarta. Keduanya akan membahas perdagangan dan investasi bilateral, kerja sama di bidang iklim dan energi, serta kepentingan regional dan global.

“Hal yang penting dalam kunjungan ini adalah keinginan kedua belah pihak untuk membuka potensi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia,” terang keterangan Kedubes Australia.

Albanese juga akan mengumumkan suntikan dana infrastruktur dan iklim sebesar 200 juta dolar Australia atau sekitar Rp 2 triliun dengan Indonesia.

Selama kunjungannya di Jakarta, PM Albanese juga akan bertemu dengan Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi untuk membahas komitmen Pemerintah Australia terhadap Asia Tenggara dan sentralitas ASEAN.

“Indonesia adalah salah satu tetangga terdekat kami, itulah sebabnya saya berkomitmen untuk berkunjung secepatnya,” ujar PM Albanese sebelum berangkat ke Jakarta.

“Kedua negara kita memiliki sejarah panjang kerja sama dan persahabatan. Pemerintahan saya akan bekerja sama dengan Indonesia untuk memperdalam hal ini,” sambungnya.

Sementara itu, Menlu Wong menegaskan keseriusan Negeri Kanguru dalam menjalin kerja sama lebih erat dengan negaranegara di Asia Tenggara.

“Kedatangan ini menunjukkan betapa pentingnya kemitraan kami dengan Indonesia. Kita memiliki minat yang sama dalam mempromosikan kehidupan yang lebih sejahtera, stabil dan wilayah yang aman, di mana kedaulatan dihormati,” ujar Wong.

Menteri Perindustrian dan Ilmu Pengetahuan Ed Husic menambahkan bahwa industri Australia akan sangat diuntungkan dari kemitraan yang kembali dihidupkan dengan Indonesia.

“Bekerja dengan Indonesia adalah inti dari Rencana Diversifikasi Perdagangan Pemerintah Albanese, yang akan memberi peluang baru bagi bisnis kedua negara,” terangnya dikutip keterangan Kedubes Australia.

Sebelumnya, kepada ABC News, Sabtu (4/6), Profesor emeritus Damien Kingsbury dari Universitas Deakin Victoria mengatakan, hubungan dengan Indonesia secara historis dipandang sebagai yang paling penting bagi Australia di kawasan ini.

“Ada teori dalam hubungan internasional Australia bahwa jika kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita dengan Indonesia, kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita dengan siapa pun,” katanya.

“Jadi ini pertemuan penting. Saya pikir itu menandakan bahwa pemerintah ini memang ingin memiliki hubungan baik di kawasan dan khususnya dengan Indonesia,” imbuhnya.

Indonesia telah dipandang sebagai tujuan tradisional bagi PM Australia sejak Paul Keating melakukan kunjungan luar negeri pertamanya pada 1992.

Sejak itu, John Howard, Kevin Rudd, Tony Abbott, Malcolm Turnbull, dan Scott Morrison semuanya melakukan perjalanan serupa.

Kunjungan Albanese juga menandai kunjungan PM Australia ke Indonesia sejak Morrison menghadiri pelantikan Jokowi, Oktober 2019.

Indonesia adalah mitra dagang terbesar ke-14 Australia. Hubungan bilateral juga mencakup kerja sama strategis dan keamanan, kerja sama maritim, serta kemitraan kontra-terorisme, menghentikan penyelundupan manusia, pembangunan dan pendidikan.■ 

]]> Perdana Menteri (PM) Australia baru Anthony Albanese melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, hari ini dan besok. Negeri Kanguru menargetkan kerja sama berbagai bidang kedua negara meningkat. Terutama, soal ekonomi.

Albanese berangkat dari Negeri Kanguru kemarin siang. Ia akan berada di Indonesia hingga Selasa (7/6). Dalam kunjungannya ini, ia berusaha merevitalisasi era baru bagi hubungan diplomatik Australia dengan Indonesia.

Albanese ingin meningkatkan hubungan dengan tetangga terdekat sebagai prioritas dari fokus baru pemerintahnya pada kebijakan luar negeri. Untuk menunjukkan komitmennya itu, Albanese mengunjungi Indonesia, dua pekan setelah dilantik sebagai PM ke-31 Australia.

Dalam keterangan resmi Kedutaan Besar Australia, kemarin, PM Albanese akan didampingi Menteri Luar Negeri Penny Wong, Menteri Perdagangan Don Farrell, Menteri Perindustrian Ed Husic dan Anggota Parlemen Luke Gosling. Delegasi tingkat tinggi pemimpin bisnis Australia juga turut bergabung dalam kunjungan ini.

Pada Senin siang ini, Albanese akan melakukan Pertemuan Pemimpin Tahunan dengan Presiden Widodo di Jakarta. Keduanya akan membahas perdagangan dan investasi bilateral, kerja sama di bidang iklim dan energi, serta kepentingan regional dan global.

“Hal yang penting dalam kunjungan ini adalah keinginan kedua belah pihak untuk membuka potensi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia,” terang keterangan Kedubes Australia.

Albanese juga akan mengumumkan suntikan dana infrastruktur dan iklim sebesar 200 juta dolar Australia atau sekitar Rp 2 triliun dengan Indonesia.

Selama kunjungannya di Jakarta, PM Albanese juga akan bertemu dengan Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi untuk membahas komitmen Pemerintah Australia terhadap Asia Tenggara dan sentralitas ASEAN.

“Indonesia adalah salah satu tetangga terdekat kami, itulah sebabnya saya berkomitmen untuk berkunjung secepatnya,” ujar PM Albanese sebelum berangkat ke Jakarta.

“Kedua negara kita memiliki sejarah panjang kerja sama dan persahabatan. Pemerintahan saya akan bekerja sama dengan Indonesia untuk memperdalam hal ini,” sambungnya.

Sementara itu, Menlu Wong menegaskan keseriusan Negeri Kanguru dalam menjalin kerja sama lebih erat dengan negaranegara di Asia Tenggara.

“Kedatangan ini menunjukkan betapa pentingnya kemitraan kami dengan Indonesia. Kita memiliki minat yang sama dalam mempromosikan kehidupan yang lebih sejahtera, stabil dan wilayah yang aman, di mana kedaulatan dihormati,” ujar Wong.

Menteri Perindustrian dan Ilmu Pengetahuan Ed Husic menambahkan bahwa industri Australia akan sangat diuntungkan dari kemitraan yang kembali dihidupkan dengan Indonesia.

“Bekerja dengan Indonesia adalah inti dari Rencana Diversifikasi Perdagangan Pemerintah Albanese, yang akan memberi peluang baru bagi bisnis kedua negara,” terangnya dikutip keterangan Kedubes Australia.

Sebelumnya, kepada ABC News, Sabtu (4/6), Profesor emeritus Damien Kingsbury dari Universitas Deakin Victoria mengatakan, hubungan dengan Indonesia secara historis dipandang sebagai yang paling penting bagi Australia di kawasan ini.

“Ada teori dalam hubungan internasional Australia bahwa jika kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita dengan Indonesia, kita tidak bisa memperbaiki hubungan kita dengan siapa pun,” katanya.

“Jadi ini pertemuan penting. Saya pikir itu menandakan bahwa pemerintah ini memang ingin memiliki hubungan baik di kawasan dan khususnya dengan Indonesia,” imbuhnya.

Indonesia telah dipandang sebagai tujuan tradisional bagi PM Australia sejak Paul Keating melakukan kunjungan luar negeri pertamanya pada 1992.

Sejak itu, John Howard, Kevin Rudd, Tony Abbott, Malcolm Turnbull, dan Scott Morrison semuanya melakukan perjalanan serupa.

Kunjungan Albanese juga menandai kunjungan PM Australia ke Indonesia sejak Morrison menghadiri pelantikan Jokowi, Oktober 2019.

Indonesia adalah mitra dagang terbesar ke-14 Australia. Hubungan bilateral juga mencakup kerja sama strategis dan keamanan, kerja sama maritim, serta kemitraan kontra-terorisme, menghentikan penyelundupan manusia, pembangunan dan pendidikan.■ 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories