PLTS Atap Di Pesantren Bisa Hemat Tagihan Listrik Hingga 15 Persen

SUN Energy, perusahaan lokal pengembang Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) membuka kerja sama dan diskusi tentang potensi pemanfaatan energi surya untuk menyukseskan program Pesantren Hijau yang dicanangkan Lembaga Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ini merupakan diskusi awal dari kedua belah pihak untuk menjajaki seberapa besar manfaat yang bisa didapatkan, baik dari sisi penghematan listrik maupun dari sisi ilmu pengetahuan, tentang perkembangan teknologi PLTS di Indonesia.

“Prospek Pengembangan energi surya sangat besar. Dari potensi energi surya 207,8 gigawatt (GW), sekarang baru dimanfaatkan kurang dari 200 megawatt (MW). Ini menunjukkan kesenjangan yang sangat besar. Di satu sisi, ini adalah tantangan. Di lain sisi, ini merupakan peluang bagi berbagai pihak untuk berpartisipasi memanfaatkan energi surya,” kata Ketua AESI dalam sambutannya, di diskusi virtual tentang Pesantren Hijau, Kamis (25/2).

Andhika menambahkan, dibanding dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan energi surya. Karena itu, perlu upaya dan dorongan Pemerintah dan pihak-pihak dalam memanfaatkan energi surya. Salah satunya NU melalui pesantren-pesantren dan sekolah yang dimilikinya.

Menurutnya, penerapan energi surya di pesantren dengan menggunakan PLTS dapat mempercepat pencapaian target pemerintah untuk menciptakan 23 persen energi baru terbarukan di tahun 2025. Pemasangan PLTS atap juga sangat mudah, murah, tidak memerlukan area yang luas. 

“Bisa dipasang di grup-grup kecil atau bangunan-bangunan yang tersebar. Pemanfaatan energi surya di pesantren umumnya digunakan untuk penerangan bagi kegiatan belajar-mengajar, maupun untuk pompa air. Terlebih, di masa pandemi ini, PLTS atap cocok digunakan dalam penghematan pembayaran listrik PLN,” terang Andhika.

Hal senada diungkapkan Anggota Komisi VII DPR Syaikhul Islam. Dia menyatakan, PLTS adalah solusi paling efektif untuk memenuhi target 23 persen bauran energi. PLTS harus dikembangkan secara masif karena kemudahan, anugerah matahari yang sangat besar, tidak memerlukan investasi yang mahal, bisa dipasang di mana pun tanpa melihat geografis, termasuk pemasangan PLTS di pesantren.

“Pemanfaatan PLTS di pesantren sangat mendesak. Pesantren bisa menjadi agen perubahan yang bisa mendorong masyarakat agar mereka memanfaatkan energi surya,” ucapnya.

Perwakilan Lembaga Perubahan Iklim PBNU Hijroatul Maghfiroh mengatakan, pihaknya sangat concern terhadap masalah lingkungan. Sebab, lingkungan sangat berpengaruh kepada perubahan iklim. 

Dia menerangkan, peringatan Hari Lahir NU ke-95 tahun ini bisa menjadi momentum bagi pesantren-pesantren menggalakkan kembali program Pesantren Hijau. “Kami telah cukup aktif untuk menerapkan program pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber air. Namun belum sempat mengembangkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Maka dari itu, pertemuan kali ini sungguh bermanfaat bagi Lembaga Perubahan Iklim PBNU dan berharap nantinya dapat benar-benar diterapkan dan menjadi media belajar yang baik bagi para santri,” ucap Hijraotul.

Head of Business Solution SUN Energy I Made Aditya Suryawidya, mengatakan, sekarang ini semakin banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang mempermudah pemanfaatan energi surya. Namun, dia juga mengakui masih ada tantangan dalam implementasi PLTS. 

“Beberapa tantangan yang dihadapi pihak yang dalam pemasangan PLTS adalah seperti investasi, teknis pemasangan, dan lain sebagianya. Di sinilah SUN Energy hadir dalam menciptakan energi surya. SUN Energy menyediakan investasi sebesar 0 persen bagi pesantren yang akan memasang PLTS atap, “ terang Aditya.

Kenapa tidak perlu investasi? Aditya mengatakan, SUN Energy menerapkan skema pembayaran dan penyewaan PLTS. Pelanggan hanya membayar produksi listrik oleh PLTS berdasarkan pemakaian hasil produksi PLTS atap. Menurutnya, dengan menggunakan PLTS atap, pesantren bisa menghemat sebesar 10-15 persen tagihan listrik bulanan. [USU]

]]> SUN Energy, perusahaan lokal pengembang Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) membuka kerja sama dan diskusi tentang potensi pemanfaatan energi surya untuk menyukseskan program Pesantren Hijau yang dicanangkan Lembaga Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ini merupakan diskusi awal dari kedua belah pihak untuk menjajaki seberapa besar manfaat yang bisa didapatkan, baik dari sisi penghematan listrik maupun dari sisi ilmu pengetahuan, tentang perkembangan teknologi PLTS di Indonesia.

“Prospek Pengembangan energi surya sangat besar. Dari potensi energi surya 207,8 gigawatt (GW), sekarang baru dimanfaatkan kurang dari 200 megawatt (MW). Ini menunjukkan kesenjangan yang sangat besar. Di satu sisi, ini adalah tantangan. Di lain sisi, ini merupakan peluang bagi berbagai pihak untuk berpartisipasi memanfaatkan energi surya,” kata Ketua AESI dalam sambutannya, di diskusi virtual tentang Pesantren Hijau, Kamis (25/2).

Andhika menambahkan, dibanding dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan energi surya. Karena itu, perlu upaya dan dorongan Pemerintah dan pihak-pihak dalam memanfaatkan energi surya. Salah satunya NU melalui pesantren-pesantren dan sekolah yang dimilikinya.

Menurutnya, penerapan energi surya di pesantren dengan menggunakan PLTS dapat mempercepat pencapaian target pemerintah untuk menciptakan 23 persen energi baru terbarukan di tahun 2025. Pemasangan PLTS atap juga sangat mudah, murah, tidak memerlukan area yang luas. 

“Bisa dipasang di grup-grup kecil atau bangunan-bangunan yang tersebar. Pemanfaatan energi surya di pesantren umumnya digunakan untuk penerangan bagi kegiatan belajar-mengajar, maupun untuk pompa air. Terlebih, di masa pandemi ini, PLTS atap cocok digunakan dalam penghematan pembayaran listrik PLN,” terang Andhika.

Hal senada diungkapkan Anggota Komisi VII DPR Syaikhul Islam. Dia menyatakan, PLTS adalah solusi paling efektif untuk memenuhi target 23 persen bauran energi. PLTS harus dikembangkan secara masif karena kemudahan, anugerah matahari yang sangat besar, tidak memerlukan investasi yang mahal, bisa dipasang di mana pun tanpa melihat geografis, termasuk pemasangan PLTS di pesantren.

“Pemanfaatan PLTS di pesantren sangat mendesak. Pesantren bisa menjadi agen perubahan yang bisa mendorong masyarakat agar mereka memanfaatkan energi surya,” ucapnya.

Perwakilan Lembaga Perubahan Iklim PBNU Hijroatul Maghfiroh mengatakan, pihaknya sangat concern terhadap masalah lingkungan. Sebab, lingkungan sangat berpengaruh kepada perubahan iklim. 

Dia menerangkan, peringatan Hari Lahir NU ke-95 tahun ini bisa menjadi momentum bagi pesantren-pesantren menggalakkan kembali program Pesantren Hijau. “Kami telah cukup aktif untuk menerapkan program pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber air. Namun belum sempat mengembangkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Maka dari itu, pertemuan kali ini sungguh bermanfaat bagi Lembaga Perubahan Iklim PBNU dan berharap nantinya dapat benar-benar diterapkan dan menjadi media belajar yang baik bagi para santri,” ucap Hijraotul.

Head of Business Solution SUN Energy I Made Aditya Suryawidya, mengatakan, sekarang ini semakin banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang mempermudah pemanfaatan energi surya. Namun, dia juga mengakui masih ada tantangan dalam implementasi PLTS. 

“Beberapa tantangan yang dihadapi pihak yang dalam pemasangan PLTS adalah seperti investasi, teknis pemasangan, dan lain sebagianya. Di sinilah SUN Energy hadir dalam menciptakan energi surya. SUN Energy menyediakan investasi sebesar 0 persen bagi pesantren yang akan memasang PLTS atap, “ terang Aditya.

Kenapa tidak perlu investasi? Aditya mengatakan, SUN Energy menerapkan skema pembayaran dan penyewaan PLTS. Pelanggan hanya membayar produksi listrik oleh PLTS berdasarkan pemakaian hasil produksi PLTS atap. Menurutnya, dengan menggunakan PLTS atap, pesantren bisa menghemat sebesar 10-15 persen tagihan listrik bulanan. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories