Pimpinan KPK: OTT Tergantung Kecerobohan Koruptor Pakai Ponsel

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata menyatakan, banyaknya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan komisi antirasuah tergantung dari kecerobohan koruptor dalam menggunakan ponselnya.

“OTT ini tergantung pada kecerobohan dari pengguna HP tersebut, ketidakhati-hatian mereka, sehingga mereka kelepasan ngomong dan kemudian bisa diikuti dan seterusnya,” ujarnya saat konferensi pers, di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (24/8).

Dalam proses penyadapan para penyidik bergiliran melacak ratusan nomor handphone selama 24 jam “Sekali kita bisa lakukan, sampai ratusan nomor, sekarang nggak mungkin,” tuturnya, menjelaskan alasan menurunnya OTT.

Sumber Daya Manusia (SDM) di KPK, juga terbatas untuk melacak ratusan nomor handphone. “Karena paling berapa, hanya 10 orang. Kalau dia sampai memonitor 50 nomor aja sudah kewalahan jadi nggak memungkinkan untuk melakukan penyadapan dengan jumlah nomor yang banyak,” ucap Alex, sapaan akrabnya.

Tak hanya itu, menurut Alex, menurunnya OTT juga disebabkan karena operasi senyap itu bersumber dari informasi dari masyarakat.

“OTT berkurang apa sebabnya? Kembali lagi saya sampaikan, OTT itu kan murni informasi dari masyarakat yang kemudian kita olah kemudian kita lakukan tapping,” tandasnya. [OKT]

]]> Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata menyatakan, banyaknya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan komisi antirasuah tergantung dari kecerobohan koruptor dalam menggunakan ponselnya.

“OTT ini tergantung pada kecerobohan dari pengguna HP tersebut, ketidakhati-hatian mereka, sehingga mereka kelepasan ngomong dan kemudian bisa diikuti dan seterusnya,” ujarnya saat konferensi pers, di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (24/8).

Dalam proses penyadapan para penyidik bergiliran melacak ratusan nomor handphone selama 24 jam “Sekali kita bisa lakukan, sampai ratusan nomor, sekarang nggak mungkin,” tuturnya, menjelaskan alasan menurunnya OTT.

Sumber Daya Manusia (SDM) di KPK, juga terbatas untuk melacak ratusan nomor handphone. “Karena paling berapa, hanya 10 orang. Kalau dia sampai memonitor 50 nomor aja sudah kewalahan jadi nggak memungkinkan untuk melakukan penyadapan dengan jumlah nomor yang banyak,” ucap Alex, sapaan akrabnya.

Tak hanya itu, menurut Alex, menurunnya OTT juga disebabkan karena operasi senyap itu bersumber dari informasi dari masyarakat.

“OTT berkurang apa sebabnya? Kembali lagi saya sampaikan, OTT itu kan murni informasi dari masyarakat yang kemudian kita olah kemudian kita lakukan tapping,” tandasnya. [OKT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories