Pilih Pensiun Atau Upskilling ASN Pelaksana Bakal Diganti Robot

Ratusan ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak bisa tidur nyenyak. Mereka harus memilih; pensiun dini atau upskilling.

Kebijakan tersebut merupakan konsekuensi dari Transformasi sistem birokrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). Tujuan uta­manya untuk menciptakan sistem pemerintahan yang lebih efisien.

“Rencana transformasi birokra­si ini sudah direstui Presiden Jokowi,” kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpanrb), Alex Denni.

Dia menjelaskan, dengan rencana transformasi digital ini, pada 5 tahun yang akan datang, ASN dengan posisi pejabat pelaksana akan berkurang sekitar 30-40 persen. Artinya, ratusan ribu PNS yang men­jabat sebagai pelaksana akan terdampak.

“Sekitar 600 ribu dari 1,6 juta yang melakukan pelaksana itu harus bertransformasi, upskill­ing/reskilling melakukan peker­jaan yang lain lebih value added atau by nature yang pensiun tidak diganti,” kata dia.

Alex menambahkan, transformasi digital ini dilakukan demi mencapai 3 agenda. Pertama, transformasi organisasi yang kerap kali digaungkan Presiden Jokowi. Kedua, sistem kerja yang lebih fleksibel dan kolabo­ratif. Ketiga, terkait manusianya sendiri.

“Di era digital, perlu ada perubahan transformasi pemerintahan yang jauh lebih adaptif menyika­pi perubahan. Manajemen sum­ber daya manusia menuju human capital tangguh,” kata dia.

Netizen mengingatkan, di era yang serba digital, seluruh ASN harus menaikkan keahlian (upskilling). Kemampuan ASN yang sekadarnya saja sudah tidak dibutuhkan lagi.

Akun @BetaEpsilonPhi membeberkan data ASN Kemenpan-RB. Kata dia, Jumlah ASN di Indonesia saat ini sebanyak 4.046.187 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 persen atau sekitar 1,5 juta adalah pelaksana.

“PNS yang memiliki jabatan pelaksana ini yang bakal paling rentan untuk digantikan oleh teknologi atau robot,” kata dia.

Akun @kudaliar menimpali. Dia bilang, kiamat PNS terjadi bagi mereka yang tidak bisa up­grade skill. Dia bilang, saat ini semua serba digital. Begitu pun dengan pelayanan publik, sudah seharusnya tidak ketinggalan zaman.

 

“Lebih tepatnya kiamat un­tuk yang masih bercita-cita PNS. Kalau yang sudah PNS ini angin surgawi,” saut @ robi_zamzam.

Menurut @kartininew01, tidak mudah menjadi PNS di era digital dengan segala kemuda­han teknologi informasi saat ini. Karena itu, dia mengingatkan para ASN untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab, inovatif dan kreatif.

“Padahal jabatan PNS pelak­sana merupakan jabatan yang sering disebut sebagai jack of all trades alias kudu bisa sem­barang. Atau bisa menghandel semua pekerjaan yang ada,” ujar @Galihpambaru.

Akun @hiddennyu meng­kritk Pemerintah Pusat belum menyiapkan sistem semua ja­batan dan fungsi PNS di tengah rencana mengurangi jabatan pelaksana. Seharusnya, kata @ albhermanoekan, PNS dihapus dan diganti dengan pegawai yang open recuitment.

“Agar mereka benar-benar profesional. Kemudian transfor­masi digital birokrasi diperce­pat,” saran @albhermanoekan.

Akun @Bareksyudo men­gatakan, ASN dengan jabatan pelaksana paling banyak pada bagian administrasi. Uniknya, kata dia, tetap saja bikin surat-surat kependudukan (KTP, KK) tetap lama.

“Lalu kerjaan mereka nga­pain yaa?” tanya @Bareksyudo. “Nggak masalah pelaksana PNS diganti atau dihilangkan. Kita tunggu saja, kita lihat robotnya bisa gak mengerjakan yang bukan tugas dan fungsinya,” kata @tantra_rifai.

Sementara, @Umbianakan tidak percaya dengan kiamat PNS di Indonesia. Soalnya, kata dia, ta­hun depan saja sudah ada rencana rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). “Kok bisa kiamat, gimana coba?” tanya dia.

“Rencana 4.2 juta PNS ten­aga pelaksana dihapuskan oleh Pemerintah Pusat, maupun di daerah di seluruh Indonesia, maka akan menjadi bertambah banyak lagi pengangguran di seluruh penjuru pelosok negeri,” ujar @Alamalika. [TIF]

]]> Ratusan ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak bisa tidur nyenyak. Mereka harus memilih; pensiun dini atau upskilling.

Kebijakan tersebut merupakan konsekuensi dari Transformasi sistem birokrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). Tujuan uta­manya untuk menciptakan sistem pemerintahan yang lebih efisien.

“Rencana transformasi birokra­si ini sudah direstui Presiden Jokowi,” kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpanrb), Alex Denni.

Dia menjelaskan, dengan rencana transformasi digital ini, pada 5 tahun yang akan datang, ASN dengan posisi pejabat pelaksana akan berkurang sekitar 30-40 persen. Artinya, ratusan ribu PNS yang men­jabat sebagai pelaksana akan terdampak.

“Sekitar 600 ribu dari 1,6 juta yang melakukan pelaksana itu harus bertransformasi, upskill­ing/reskilling melakukan peker­jaan yang lain lebih value added atau by nature yang pensiun tidak diganti,” kata dia.

Alex menambahkan, transformasi digital ini dilakukan demi mencapai 3 agenda. Pertama, transformasi organisasi yang kerap kali digaungkan Presiden Jokowi. Kedua, sistem kerja yang lebih fleksibel dan kolabo­ratif. Ketiga, terkait manusianya sendiri.

“Di era digital, perlu ada perubahan transformasi pemerintahan yang jauh lebih adaptif menyika­pi perubahan. Manajemen sum­ber daya manusia menuju human capital tangguh,” kata dia.

Netizen mengingatkan, di era yang serba digital, seluruh ASN harus menaikkan keahlian (upskilling). Kemampuan ASN yang sekadarnya saja sudah tidak dibutuhkan lagi.

Akun @BetaEpsilonPhi membeberkan data ASN Kemenpan-RB. Kata dia, Jumlah ASN di Indonesia saat ini sebanyak 4.046.187 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 persen atau sekitar 1,5 juta adalah pelaksana.

“PNS yang memiliki jabatan pelaksana ini yang bakal paling rentan untuk digantikan oleh teknologi atau robot,” kata dia.

Akun @kudaliar menimpali. Dia bilang, kiamat PNS terjadi bagi mereka yang tidak bisa up­grade skill. Dia bilang, saat ini semua serba digital. Begitu pun dengan pelayanan publik, sudah seharusnya tidak ketinggalan zaman.

 

“Lebih tepatnya kiamat un­tuk yang masih bercita-cita PNS. Kalau yang sudah PNS ini angin surgawi,” saut @ robi_zamzam.

Menurut @kartininew01, tidak mudah menjadi PNS di era digital dengan segala kemuda­han teknologi informasi saat ini. Karena itu, dia mengingatkan para ASN untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab, inovatif dan kreatif.

“Padahal jabatan PNS pelak­sana merupakan jabatan yang sering disebut sebagai jack of all trades alias kudu bisa sem­barang. Atau bisa menghandel semua pekerjaan yang ada,” ujar @Galihpambaru.

Akun @hiddennyu meng­kritk Pemerintah Pusat belum menyiapkan sistem semua ja­batan dan fungsi PNS di tengah rencana mengurangi jabatan pelaksana. Seharusnya, kata @ albhermanoekan, PNS dihapus dan diganti dengan pegawai yang open recuitment.

“Agar mereka benar-benar profesional. Kemudian transfor­masi digital birokrasi diperce­pat,” saran @albhermanoekan.

Akun @Bareksyudo men­gatakan, ASN dengan jabatan pelaksana paling banyak pada bagian administrasi. Uniknya, kata dia, tetap saja bikin surat-surat kependudukan (KTP, KK) tetap lama.

“Lalu kerjaan mereka nga­pain yaa?” tanya @Bareksyudo. “Nggak masalah pelaksana PNS diganti atau dihilangkan. Kita tunggu saja, kita lihat robotnya bisa gak mengerjakan yang bukan tugas dan fungsinya,” kata @tantra_rifai.

Sementara, @Umbianakan tidak percaya dengan kiamat PNS di Indonesia. Soalnya, kata dia, ta­hun depan saja sudah ada rencana rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). “Kok bisa kiamat, gimana coba?” tanya dia.

“Rencana 4.2 juta PNS ten­aga pelaksana dihapuskan oleh Pemerintah Pusat, maupun di daerah di seluruh Indonesia, maka akan menjadi bertambah banyak lagi pengangguran di seluruh penjuru pelosok negeri,” ujar @Alamalika. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories