Pesawat Takut Melintas, Makanan Cukup Untuk 3 Hari Pak Mahfud, Tolong Sikat Teroris Papua .

Para pejabat, terutama yang ngurusi keamanan, tolong alihkan perhatian ke Papua. Ada berita, situasi di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, masih mencekam usai diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada Kamis dan Jumat pekan lalu. Warga masih mengungsi dan takut beraktivitas. Sementara, cadangan makanan hanya cukup untuk tiga hari. Pesawat yang membawa bantuan dan mengevakuasi belum berani mendarat karena khawatir ditembak. Menko Polhukam Mahfud MD sebagai komandan keamanan negeri ini diminta segera bergerak menyikat para teroris Papua yang meresahkan tersebut.

Aksi penyerangan dan pembakaran yang dilakukan KKB pada Kamis (8/4) dan Jumat (9/4) malam, membuat Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, mencekam. Akibat serangan itu, dua orang guru meninggal ditembak dan seorang kepala sekolah diculik. Dua orang yang meninggal itu, yakni Oktovianus Rayo yang ditembak Kamis 8 April dan Yonatan Renden ditembak sehari kemudian.

Serangan itu juga menghanguskan 12 ruangan sekolah di SMP dan SMA Negeri Beoga. Tak hanya itu, KKB juga membakar helikopter milik PT Esra Air yang sedang parkir di bandara.

Serangan tersebut membuat guru dan petugas kesehatan, yang kebanyakan pendatang, mengungsi ke Koramil dan Mapolres Beoga. Mereka belum bisa beraktivitas lantaran khawatir ada serangan susulan.

Kondisi yang belum kondusif ini diperparah dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Kapolsek Beoga, Ipda Ali Akbar mengungkapkan, persediaan bahan makanan di Distrik Beoga hanya mencukupi untuk kebutuhan tiga hingga empat hari. Hal ini disebabkan tidak ada pesawat yang terbang ke daerah itu setelah kasus penembakan guru oleh KKB.

Ia menyebut, di Beoga ada 12 warung atau kios besar dan kecil. Namun, persediaan mereka juga mulai menipis.

Pesawat, kata dia, tidak mudah mendarat di Bandara Beoga. Sebab, sebelum mendarat, pesawat harus terbang melintas di sebelah utara, yang saat ini jadi tempat persembunyian KKB. “Pesawat yang terbang rendah saat mau mendarat dapat menjadi sasaran tembak,” kata Ali, kemarin.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mustafa Kamal menerangkan, usai aksi penembakan, warga pendatang langsung mengungsi di pos Polisi dan TNI. “Kebetulan posisinya bersebelahan. Sekarang di sana ada dari Brimob dan TNI,” terang Ahmad, tadi malam.

Sedikitnya, ada 46 warga yang berada di pengungsian yang rencananya akan segera dievakuasi. Namun, belum diketahui kapan evakuasi dilaksanakan, mengingat tak mudah untuk mendaratkan pesawat di Bandara Beoga. Selain rentan ditembak, kondisi cuaca juga belum bersahabat. “Cuaca belum mendukung. Kalau pagi, terlalu dingin dan saat siang awan turun. Informasi cuaca berubah-ubah. Sampai saat ini belum bisa dievakuasi,” ungkapnya.

Pengamat terorisme dan intelijen Stanislaus Riyanta meminta pemerintah, terutama Menko Polhukam Mahfud MD, bertindak tegas ke KKB ini. Menurut Riyanta, aksi yang dilakukan KKB sudah masuk dalam kategori teroris seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Terorisme.

“KKB sudah menggunakan kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan kerusakan fasilitas publik dengan motif ideologi, politik atau gangguan keamanan. Pak Mahfud harus segera menindak mereka,” terangnya, tadi malam. [BCG]

]]> .
Para pejabat, terutama yang ngurusi keamanan, tolong alihkan perhatian ke Papua. Ada berita, situasi di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, masih mencekam usai diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pada Kamis dan Jumat pekan lalu. Warga masih mengungsi dan takut beraktivitas. Sementara, cadangan makanan hanya cukup untuk tiga hari. Pesawat yang membawa bantuan dan mengevakuasi belum berani mendarat karena khawatir ditembak. Menko Polhukam Mahfud MD sebagai komandan keamanan negeri ini diminta segera bergerak menyikat para teroris Papua yang meresahkan tersebut.

Aksi penyerangan dan pembakaran yang dilakukan KKB pada Kamis (8/4) dan Jumat (9/4) malam, membuat Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, mencekam. Akibat serangan itu, dua orang guru meninggal ditembak dan seorang kepala sekolah diculik. Dua orang yang meninggal itu, yakni Oktovianus Rayo yang ditembak Kamis 8 April dan Yonatan Renden ditembak sehari kemudian.

Serangan itu juga menghanguskan 12 ruangan sekolah di SMP dan SMA Negeri Beoga. Tak hanya itu, KKB juga membakar helikopter milik PT Esra Air yang sedang parkir di bandara.

Serangan tersebut membuat guru dan petugas kesehatan, yang kebanyakan pendatang, mengungsi ke Koramil dan Mapolres Beoga. Mereka belum bisa beraktivitas lantaran khawatir ada serangan susulan.

Kondisi yang belum kondusif ini diperparah dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Kapolsek Beoga, Ipda Ali Akbar mengungkapkan, persediaan bahan makanan di Distrik Beoga hanya mencukupi untuk kebutuhan tiga hingga empat hari. Hal ini disebabkan tidak ada pesawat yang terbang ke daerah itu setelah kasus penembakan guru oleh KKB.

Ia menyebut, di Beoga ada 12 warung atau kios besar dan kecil. Namun, persediaan mereka juga mulai menipis.

Pesawat, kata dia, tidak mudah mendarat di Bandara Beoga. Sebab, sebelum mendarat, pesawat harus terbang melintas di sebelah utara, yang saat ini jadi tempat persembunyian KKB. “Pesawat yang terbang rendah saat mau mendarat dapat menjadi sasaran tembak,” kata Ali, kemarin.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Mustafa Kamal menerangkan, usai aksi penembakan, warga pendatang langsung mengungsi di pos Polisi dan TNI. “Kebetulan posisinya bersebelahan. Sekarang di sana ada dari Brimob dan TNI,” terang Ahmad, tadi malam.

Sedikitnya, ada 46 warga yang berada di pengungsian yang rencananya akan segera dievakuasi. Namun, belum diketahui kapan evakuasi dilaksanakan, mengingat tak mudah untuk mendaratkan pesawat di Bandara Beoga. Selain rentan ditembak, kondisi cuaca juga belum bersahabat. “Cuaca belum mendukung. Kalau pagi, terlalu dingin dan saat siang awan turun. Informasi cuaca berubah-ubah. Sampai saat ini belum bisa dievakuasi,” ungkapnya.

Pengamat terorisme dan intelijen Stanislaus Riyanta meminta pemerintah, terutama Menko Polhukam Mahfud MD, bertindak tegas ke KKB ini. Menurut Riyanta, aksi yang dilakukan KKB sudah masuk dalam kategori teroris seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Terorisme.

“KKB sudah menggunakan kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan kerusakan fasilitas publik dengan motif ideologi, politik atau gangguan keamanan. Pak Mahfud harus segera menindak mereka,” terangnya, tadi malam. [BCG]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories