Pesan Bamsoet Saat Terima Rektor UT Kualitas Pendidikan Daring Harus Terus Ditingkatkan .

Ketua MPR Bambang Soesatyo menuturkan, guna memeratakan akses pendidikan tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia, diperlukan platform pendidikan yang lebih fleksibel. Kehadiran Universitas Terbuka (UT) yang menawarkan platform pendidikan secara terbuka dan jarak jauh, sangat relevan untuk meningkatkan pemerataan pendidikan tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Seiring perkembangan zaman, ketika kemajuan teknologi mengisi berbagai sektor kehidupan, penerapan sistem pembelajaran jarak jauh berbasis daring (online) semakin menunjukkan relevansinya. Terbukti, peserta didik UT tidak hanya berasal dari Indonesia. Hingga saat ini mahasiswa UT, yang berjumlah jutaan di seluruh Indonesia, tersebar di 43 negara dunia,” ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, saat menerima Rektor UT Prof Ojat Darojat bersama Dekan Fisip UT Sofjan Aripin dan Dosen UT Johnson Rajagukguk, di Jakarta, Selasa (6/4).

Ketua DPR ke-2 ini menegaskan, pola pendidikan berbasis IT dan online harus lebih digalakkan. Sehingga, semua masyarakat Indonesia bisa melek teknologi dan mengakses pendidikan dari mana saja. Terlebih, tingkat penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 64 persen. Artinya, dari total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 268,6 juta jiwa, sebanyak 171,9 juta jiwa di antaranya telah dapat mengakses internet.

“Pola pendidikan era milenial di Indonesia harus terus ditingkatkan lagi dengan pola pendidikan berbasis IT dan online. Dengan sistem online, warga desa bisa menimba ilmu tanpa harus ke kota. Kualitas pembelajaran secara daring ini harus terus ditingkatkan,” kata Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa Indonesia harus menjadi perhatian serius semua pihak. Masih rendahnya kualitas SDM sebagaimana yang terjadi di tahun lalu, tidak boleh terulang kembali di tahun mendatang. 

“Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2019 menempatkan kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia pada peringkat ke-72 dari 77 negara. Selain itu, data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mencatat, setiap tahunnya terdapat 1,8 juta dari total 3,7 juta lulusan pendidikan tingkat menengah yang terpaksa bekerja, tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi,” pungkas Bamsoet. [USU]

]]> .
Ketua MPR Bambang Soesatyo menuturkan, guna memeratakan akses pendidikan tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia, diperlukan platform pendidikan yang lebih fleksibel. Kehadiran Universitas Terbuka (UT) yang menawarkan platform pendidikan secara terbuka dan jarak jauh, sangat relevan untuk meningkatkan pemerataan pendidikan tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Seiring perkembangan zaman, ketika kemajuan teknologi mengisi berbagai sektor kehidupan, penerapan sistem pembelajaran jarak jauh berbasis daring (online) semakin menunjukkan relevansinya. Terbukti, peserta didik UT tidak hanya berasal dari Indonesia. Hingga saat ini mahasiswa UT, yang berjumlah jutaan di seluruh Indonesia, tersebar di 43 negara dunia,” ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, saat menerima Rektor UT Prof Ojat Darojat bersama Dekan Fisip UT Sofjan Aripin dan Dosen UT Johnson Rajagukguk, di Jakarta, Selasa (6/4).

Ketua DPR ke-2 ini menegaskan, pola pendidikan berbasis IT dan online harus lebih digalakkan. Sehingga, semua masyarakat Indonesia bisa melek teknologi dan mengakses pendidikan dari mana saja. Terlebih, tingkat penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 64 persen. Artinya, dari total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 268,6 juta jiwa, sebanyak 171,9 juta jiwa di antaranya telah dapat mengakses internet.

“Pola pendidikan era milenial di Indonesia harus terus ditingkatkan lagi dengan pola pendidikan berbasis IT dan online. Dengan sistem online, warga desa bisa menimba ilmu tanpa harus ke kota. Kualitas pembelajaran secara daring ini harus terus ditingkatkan,” kata Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa Indonesia harus menjadi perhatian serius semua pihak. Masih rendahnya kualitas SDM sebagaimana yang terjadi di tahun lalu, tidak boleh terulang kembali di tahun mendatang. 

“Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2019 menempatkan kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia pada peringkat ke-72 dari 77 negara. Selain itu, data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mencatat, setiap tahunnya terdapat 1,8 juta dari total 3,7 juta lulusan pendidikan tingkat menengah yang terpaksa bekerja, tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi,” pungkas Bamsoet. [USU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories