Perpusnas Dorong FPPTI Kawal Merdeka Belajar

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) bekerja,sama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) menggelar webinar nasional dengan tema “Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital Menuju Library Internationalization dan Research University”, Kamis (31/3).

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, dalam sambutannya, meminta FPPTI mengawal program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang sedang dijalankan di Indonesia. Baginya, indoktrinasi dari tenaga pengajar kepada para mahasiswa tidak berakhir pada hasil nilai yang diperoleh, namun harus mampu membuat para mahasiswa memiliki pengetahuan yang lebih dari yang telah diajarkan.

“FPPTI harus mampu menawarkan satu produk pembelajaran kepada para rektor dan mempresentasikannya. Karena Merdeka Belajar harus betul-betul dikawal,” ungkap Syarif Bando.

Sebagai langkah nyata untuk mendukung upaya tersebut, Perpusnas menghadirkan EResources untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Sejak 2009, berbagai macam bahan perpustakaan digital online seperti jurnal, ebook, dan karya-karya referensi online lainnya yang dilanggan mulai dilayankan.

Sekretaris Utama Perpusnas, Sri Sumekar, mengatakan bahwa sumber informasi pengetahuan yang terdapat pada E-Resources dapat ditelusur dengan cepat dan mudah oleh pemustaka/pengguna. Selain itu, juga bersifat multi disiplin, komprehensif, dan sangat luas dalam memberikan dukungan kepada dosen, peneliti, dan mahasiswa. “E-Resources Perpusnas is the power of information and knowledge,” ucapnya.

Sementara itu, Pustakawan Universitas Surabaya, Amirul Ulum, menambahkan bahwa E-Resources Perpusnas mendukung pembelajaran, riset dan MBKM. Karena E-Resources mampu memfasilitasi dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, yang tidak hanya dapat menghasilkan produk maupun jasa, namun juga pemikir ulung.

Amirul menyampaikan, pustakawan dalam hal ini berperan dalam memberikan sosialisasi, edukasi, dan evaluasi secara intensif kepada pemustaka, melakukan pemutakhiran informasi database yang dimiliki Perpusnas serta menindaklanjuti feedback pemanfaatan dari pemustaka.

“Pustakawan tidak akan berada dalam konteks ‘tidak ada kerjaan’ ketika mampu berperan dalam pemanfaatan E-Resources bagi pemustaka atau pengguna,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Pustakawan Universitas Gadjah Mada, Safirotu Khoir, membahas tentang internasionalisasi, yang Indonesia adalah bagian yang sangat penting bagi dunia. Sehingga SDM yang ada di dalamnya perlu berpartisipasi, tidak terkecuali pustakawan. Untuk sampai pada proses internasionalisasi, pustakawan harus mampu mengekspos cerita lokal yang ada menjadi konsumsi global.

“Dunia butuh kita, kita butuh dunia, dengan kata lain kita saling membutuhkan. Dunia mau tahu banget cerita dari Indonesia, untuk itu kita harus berpartisipasi. Masalah bahasa bisa diselesaikan dengan memperbanyak eksposure terhadap bahasa yang ingin digunakan,” jelasnya.

Pustakawan Universitas Diponegoro, Lis Setyowati, memaparkan langkah untuk merealisasikan internasionalisasi perpustakaan dan riset universitas. Perpustakaan perguruan tinggi didorong untuk dapat menyiapkan research support services yang diberikan dalam bentuk tools dan menyelenggarakan pelatihan untuk memperkenalkan tools tersebut kepada para pemustaka.

“Kita pasti sudah sering menggunakan aplikasi untuk kebutuhkan sehari-hari tapi masih banyak juga aplikasi lain yang belum digunakan. Padahal komunikasi antar aplikasi juga dimungkinkan,” pungkas Lis. [USU]

]]> Perpustakaan Nasional (Perpusnas) bekerja,sama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) menggelar webinar nasional dengan tema “Transformasi Perpustakaan dalam Ekosistem Digital Menuju Library Internationalization dan Research University”, Kamis (31/3).

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, dalam sambutannya, meminta FPPTI mengawal program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang sedang dijalankan di Indonesia. Baginya, indoktrinasi dari tenaga pengajar kepada para mahasiswa tidak berakhir pada hasil nilai yang diperoleh, namun harus mampu membuat para mahasiswa memiliki pengetahuan yang lebih dari yang telah diajarkan.

“FPPTI harus mampu menawarkan satu produk pembelajaran kepada para rektor dan mempresentasikannya. Karena Merdeka Belajar harus betul-betul dikawal,” ungkap Syarif Bando.

Sebagai langkah nyata untuk mendukung upaya tersebut, Perpusnas menghadirkan E-Resources untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Sejak 2009, berbagai macam bahan perpustakaan digital online seperti jurnal, ebook, dan karya-karya referensi online lainnya yang dilanggan mulai dilayankan.

Sekretaris Utama Perpusnas, Sri Sumekar, mengatakan bahwa sumber informasi pengetahuan yang terdapat pada E-Resources dapat ditelusur dengan cepat dan mudah oleh pemustaka/pengguna. Selain itu, juga bersifat multi disiplin, komprehensif, dan sangat luas dalam memberikan dukungan kepada dosen, peneliti, dan mahasiswa. “E-Resources Perpusnas is the power of information and knowledge,” ucapnya.

Sementara itu, Pustakawan Universitas Surabaya, Amirul Ulum, menambahkan bahwa E-Resources Perpusnas mendukung pembelajaran, riset dan MBKM. Karena E-Resources mampu memfasilitasi dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, yang tidak hanya dapat menghasilkan produk maupun jasa, namun juga pemikir ulung.

Amirul menyampaikan, pustakawan dalam hal ini berperan dalam memberikan sosialisasi, edukasi, dan evaluasi secara intensif kepada pemustaka, melakukan pemutakhiran informasi database yang dimiliki Perpusnas serta menindaklanjuti feedback pemanfaatan dari pemustaka.

“Pustakawan tidak akan berada dalam konteks ‘tidak ada kerjaan’ ketika mampu berperan dalam pemanfaatan E-Resources bagi pemustaka atau pengguna,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Pustakawan Universitas Gadjah Mada, Safirotu Khoir, membahas tentang internasionalisasi, yang Indonesia adalah bagian yang sangat penting bagi dunia. Sehingga SDM yang ada di dalamnya perlu berpartisipasi, tidak terkecuali pustakawan. Untuk sampai pada proses internasionalisasi, pustakawan harus mampu mengekspos cerita lokal yang ada menjadi konsumsi global.

“Dunia butuh kita, kita butuh dunia, dengan kata lain kita saling membutuhkan. Dunia mau tahu banget cerita dari Indonesia, untuk itu kita harus berpartisipasi. Masalah bahasa bisa diselesaikan dengan memperbanyak eksposure terhadap bahasa yang ingin digunakan,” jelasnya.

Pustakawan Universitas Diponegoro, Lis Setyowati, memaparkan langkah untuk merealisasikan internasionalisasi perpustakaan dan riset universitas. Perpustakaan perguruan tinggi didorong untuk dapat menyiapkan research support services yang diberikan dalam bentuk tools dan menyelenggarakan pelatihan untuk memperkenalkan tools tersebut kepada para pemustaka.

“Kita pasti sudah sering menggunakan aplikasi untuk kebutuhkan sehari-hari tapi masih banyak juga aplikasi lain yang belum digunakan. Padahal komunikasi antar aplikasi juga dimungkinkan,” pungkas Lis. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories