Pernah Diservis Di Korsel Nanggala Habiskan Rp 1 Triliun

Kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali ini, ternyata rajin diservis. Pada 2012, Nanggala-402 dibawa ke Korea Selatan. Tak cuma diperbaiki, kapal selam buatan Jerman tahun 1978 itu, juga mendapat pemutakhiran teknologi dalam persenjataan. Di negeri K-Pop itu, Nanggala-402 dipermak selama 2 tahun dengan biaya yang mencapai Rp 1 triliun. 

Informasi ini diungkapkan Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. Kepada wartawan, awalnya politisi PDIP ini mengungkapkan rasa prihatin mendalam atas tenggelamnya Nanggala-402 yang menyebabkan gugurnya 53 pahlawan kusuma bangsa. Dia berharap, setelah kejadian ini, ada evaluasi menyeluruh terhadap alutsista yang dimiliki TNI. 

Untuk Nanggala-402, kata politisi yang akrab disapa Kang TB ini, sebenarnya pernah di-retrofit di Korea Selatan. Retrofit adalah istilah perbaikan dan peremajaan untuk kapal selam. Dalam perbaikan itu, dilakukan penguatan struktur, penambahan komponen, hingga peningkatan kemampuan. Tak cuma itu, dalam retrofit itu, dilakukan pemutakhiran teknologi persenjataan. 

Total biaya perbaikan, sebut Hasanuddin, mencapai 75 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 1,05 triliun. Hasanuddin menduga, dalam perbaikan itu dioprek sistem senjata torpedonya. Ia menduga, yang terjadi pada Nanggala-402 akibat kegagalan dalam proses retrofit tersebut. 

“Saya menduga pada hasil perbaikan ini ada hal-hal atau konstruksi yang tidak tepat, sehingga KRI Nanggala-402 tenggelam. Ini sangat disayangkan,” ucap Hasanuddin, kemarin.

Kakak kandung Jaksa Agung ST Burhanuddin ini kemudian mengungkapkan, insiden yang terjadi pada 2012, tak lama setelah Nanggala-402 dipermak. Saat itu, Nanggala melakukan uji penembakan torpedo, tetapi prosesnya gagal lantaran sistem penutupnya bermasalah. Dalam peristiwa itu, kata Kang TB, tiga prajurit gugur.

Setelah peristiwa tersebut, KRI Nanggala-402 kembali diperbaiki oleh tim dari Korea Selatan. 

Ia juga menyoroti jumlah kru KRI Nanggala-402 yang dianggapnya melebihi kapasitas. Menurutnya, jumlah maksimal kru kapal selam tersebut seharusnya hanya 38 orang. Namun, Nanggala-402 memuat 53 kru atau kelebihan beban 15 orang. 

“Ini ada apa, kok dipaksakan? Saya juga mendapat informasi bahwa saat menyelam KRI Nanggala-402 diduga tak membawa oxygen gel, tapi tetap diperintah untuk berlayar,” ujarnya.

Menutup analisisnya ini, ia meminta, agar kapal selam serupa, yaitu KRI Cakra-401 sebaiknya di-grounded. “Agar jangan ada lagi korban prajurit,” tegasnya. 

 

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispen AL) Laksamana Pertama Julius Widjojono enggan menanggapi dugaan yang disampaikan Kang TB. Kata dia, berbagai dugaan yang disampaikan Kang TB perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui benarkah ada kesalahan struktur dan sebagainya. 

“Nanti hasil penyelidikan akan tahu. Kita tidak boleh menduga-duga,” kata Julius, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Dalam data berbagai sumber disebutkan, Nanggala-402 pernah diperbaiki dua kali. Pertama, dilakukan di Howaldtswerke, Hamburg, Jerman, dan selesai pada 1989. Kedua di di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korsel, yang selesai pada Februari 2012. 

Pada perbaikan ini, sebagian struktur atas kapal diganti dan sistem persenjataan, sonar, radar, kendali tempur, dan propulsi dimutakhirkan. Setelah perbaikan, KRI Nanggala mampu menembakkan empat torpedo secara bersamaan menuju empat target berbeda dan meluncurkan misil antikapal seperti Exocet atau Harpoon. 

Selain itu, kedalaman selamnya bertambah menjadi 257 meter (843 ft) dan kelajuan maksimumnya dinaikkan dari 21,5 knot (39,8 km/jam) menjadi 25 knot (46 km/jam). Sekitar lima tahun kemudian, KRI Nanggala dilengkapi dengan sistem echosounder KULAÇ buatan ASELSAN. 

Pengamat militer ISESS Khairul Fahmi mengatakan, dalam situasi saat ini, semua pihak harus bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan dugaan-dugaan yang justru memperkeruh situasi. Dia percaya yang disampaikan TNI AL, jika kapal meninggalkan pangkalan, artinya dalam kondisi siap berlayar dan bertempur. “Bahwa dalam pelayaran kemudian mengalami keadaan darurat atau bahaya, ada banyak faktor penyebab,” katanya, saat dikontak, tadi malam. 

Menurut dia, untuk saat ini, semua pihak sebaiknya fokus pada upaya pencarian dan pengumpulan informasi yang lebih rinci terkait yang dialami KRI Nanggala. “Tidak perlu berspekulasi sekarang,” ujarnya. [BCG]

]]> Kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali ini, ternyata rajin diservis. Pada 2012, Nanggala-402 dibawa ke Korea Selatan. Tak cuma diperbaiki, kapal selam buatan Jerman tahun 1978 itu, juga mendapat pemutakhiran teknologi dalam persenjataan. Di negeri K-Pop itu, Nanggala-402 dipermak selama 2 tahun dengan biaya yang mencapai Rp 1 triliun. 

Informasi ini diungkapkan Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. Kepada wartawan, awalnya politisi PDIP ini mengungkapkan rasa prihatin mendalam atas tenggelamnya Nanggala-402 yang menyebabkan gugurnya 53 pahlawan kusuma bangsa. Dia berharap, setelah kejadian ini, ada evaluasi menyeluruh terhadap alutsista yang dimiliki TNI. 

Untuk Nanggala-402, kata politisi yang akrab disapa Kang TB ini, sebenarnya pernah di-retrofit di Korea Selatan. Retrofit adalah istilah perbaikan dan peremajaan untuk kapal selam. Dalam perbaikan itu, dilakukan penguatan struktur, penambahan komponen, hingga peningkatan kemampuan. Tak cuma itu, dalam retrofit itu, dilakukan pemutakhiran teknologi persenjataan. 

Total biaya perbaikan, sebut Hasanuddin, mencapai 75 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 1,05 triliun. Hasanuddin menduga, dalam perbaikan itu dioprek sistem senjata torpedonya. Ia menduga, yang terjadi pada Nanggala-402 akibat kegagalan dalam proses retrofit tersebut. 

“Saya menduga pada hasil perbaikan ini ada hal-hal atau konstruksi yang tidak tepat, sehingga KRI Nanggala-402 tenggelam. Ini sangat disayangkan,” ucap Hasanuddin, kemarin.

Kakak kandung Jaksa Agung ST Burhanuddin ini kemudian mengungkapkan, insiden yang terjadi pada 2012, tak lama setelah Nanggala-402 dipermak. Saat itu, Nanggala melakukan uji penembakan torpedo, tetapi prosesnya gagal lantaran sistem penutupnya bermasalah. Dalam peristiwa itu, kata Kang TB, tiga prajurit gugur.

Setelah peristiwa tersebut, KRI Nanggala-402 kembali diperbaiki oleh tim dari Korea Selatan. 

Ia juga menyoroti jumlah kru KRI Nanggala-402 yang dianggapnya melebihi kapasitas. Menurutnya, jumlah maksimal kru kapal selam tersebut seharusnya hanya 38 orang. Namun, Nanggala-402 memuat 53 kru atau kelebihan beban 15 orang. 

“Ini ada apa, kok dipaksakan? Saya juga mendapat informasi bahwa saat menyelam KRI Nanggala-402 diduga tak membawa oxygen gel, tapi tetap diperintah untuk berlayar,” ujarnya.

Menutup analisisnya ini, ia meminta, agar kapal selam serupa, yaitu KRI Cakra-401 sebaiknya di-grounded. “Agar jangan ada lagi korban prajurit,” tegasnya. 

 

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispen AL) Laksamana Pertama Julius Widjojono enggan menanggapi dugaan yang disampaikan Kang TB. Kata dia, berbagai dugaan yang disampaikan Kang TB perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui benarkah ada kesalahan struktur dan sebagainya. 

“Nanti hasil penyelidikan akan tahu. Kita tidak boleh menduga-duga,” kata Julius, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Dalam data berbagai sumber disebutkan, Nanggala-402 pernah diperbaiki dua kali. Pertama, dilakukan di Howaldtswerke, Hamburg, Jerman, dan selesai pada 1989. Kedua di di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korsel, yang selesai pada Februari 2012. 

Pada perbaikan ini, sebagian struktur atas kapal diganti dan sistem persenjataan, sonar, radar, kendali tempur, dan propulsi dimutakhirkan. Setelah perbaikan, KRI Nanggala mampu menembakkan empat torpedo secara bersamaan menuju empat target berbeda dan meluncurkan misil antikapal seperti Exocet atau Harpoon. 

Selain itu, kedalaman selamnya bertambah menjadi 257 meter (843 ft) dan kelajuan maksimumnya dinaikkan dari 21,5 knot (39,8 km/jam) menjadi 25 knot (46 km/jam). Sekitar lima tahun kemudian, KRI Nanggala dilengkapi dengan sistem echosounder KULAÇ buatan ASELSAN. 

Pengamat militer ISESS Khairul Fahmi mengatakan, dalam situasi saat ini, semua pihak harus bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan dugaan-dugaan yang justru memperkeruh situasi. Dia percaya yang disampaikan TNI AL, jika kapal meninggalkan pangkalan, artinya dalam kondisi siap berlayar dan bertempur. “Bahwa dalam pelayaran kemudian mengalami keadaan darurat atau bahaya, ada banyak faktor penyebab,” katanya, saat dikontak, tadi malam. 

Menurut dia, untuk saat ini, semua pihak sebaiknya fokus pada upaya pencarian dan pengumpulan informasi yang lebih rinci terkait yang dialami KRI Nanggala. “Tidak perlu berspekulasi sekarang,” ujarnya. [BCG]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories