Perluas Lahan Pertanian Tebu Erick Patok SGN Kuasai 70% Pasar Gula Nasional

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Perkebunan Nusantara mendirikan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Perusahaan baru ini dipatok dalam enam tahun ke depan menguasai 70 persen pasar gula nasional.

Tak hanya memproduksi gula, SGN diproyeksi memproduksi bioethanol, bahan bakar dengan bahan baku tanaman tebu.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan, di tengah situasi ekonomi dunia yang sulit seperti saat ini, sangat penting menjaga kestabilan pangan dan energi. Oleh sebab itu, Pemerintah merevitalisasi industri gula nasional demi mewujudkan program swasembada gula konsumsi nasional tahun 2028, dan gula konsumsi industri tahun 2030. Hal ini dimulai di kebun tebu Temugiring, milik PTPN (Perkebunan Nusantara) X, Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim).

“Kita harus swasembada, karena kebutuhan gula konsumsi sangat diperlukan. Ada peningkatan (konsumsi) dari 2,7 ton sampai 7 juta ton per tahun,” ujar Erick melalui siaran pers, Jumat (14/10).

Erick menjelaskan, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group, yaitu PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII dan PTPN XIV, awal pekan lalu telah menggabungkan aset-aset perusahaan perkebunan tebu. Lalu membentuk PT SGN sebagai entitas tunggal dari 36 pabrik gula (PG). Sehingga PT SGN akan menjadi perusahaan gula terbesar di Indonesia, dengan proyeksi perluasan lahan hingga 700 ribu hektare (ha) di tahun 2028. Selain itu, SGN akan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi farm maupun off farm.

“Pembentukan SGN membuktikan BUMN siap membangun ekosistem bisnis di tengah ketidakpastian industri pangan dan global,” katanya.

Penanaman lahan akan mulai dilakukan tahun 2023. Dan, akan melibatkan banyak petani. Sehingga, langkah SGN akan turut menggenjot penghasilan petani.

“Pembukaan 700 ribu hektare (oleh BUMN) dan melibatkan petani. Income petani dapat bertambah. Misalnya dari Rp 13 juta terus meningkat menjadi Rp 32 juta,” harapnya.

Dengan luasan lahan tersebut, lanjut Erick, SGN diharapkan mampu menguasai 60-70 persen pasar gula nasional di tahun 2028.

Sebagai informasi, tahun 2021 produksi Gula Kristal Putih (GKP) Nasional sebanyak 2,35 juta ton. Namun kebutuhan konsumsi gula nasional sebesar 3,12 juta ton. Sisa kebutuhan gula nasional terpaksa dipenuhi melalui impor sebesar 1,04 juta ton setara GKP.

 

Mantan bos Inter Milan ini menuturkan, program revitalisasi gula bagian dari strategi Pemerintah melawan resesi. Terlebih, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga selalu menekankan, soal pembangunan ekosistem untuk mengatasi ketergantungan Indonesia terhadap rantai pasok dunia. Bos Mahaka Group ini optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat 5 persen di tahun 2045.

“Kita harus agresif melawan resesi ini. Saya sudah sampaikan 5 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai 2045. Saya yakin ini bisa terjadi,” katanya.

Apalagi, PT SGN tak hanya untuk mewujudkan swasembada gula. Tapi juga diproyeksikan mewujudkan kedaulatan energi melalui bioethanol berbasis tanaman tebu.

Hal ini sejalan dengan peningkatan produktivitas gula di masa mendatang. Sehingga dapat memberi kontribusi nyata terhadap biofuel sebagai Energi Baru Terbarukan (EBT).

Ia juga meyakini, peningkatan produksi bioethanol bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan impor bahan bakar minyak (BBM) ke depannya.

Bahkan, pihaknya sudah lakukan benchmarking dengan negara Brasil, yang berhasil mendorong turunan gula menjadi bioethanol.

“Kalau negara lain bisa, kenapa Indonesia tidak? Jadi, kita targetkan bisa menghasilkan 1,2 juta kiloliter minyak mentah (di tahun 2030). Nantinya, bioethanol dicampur ke BBM. Dan kita bisa menciptakan BBM ramah lingkungan, seperti yang di Brasil,” katanya.

Hal ini penting untuk substitusi kebutuhan impor minyak mentah dan digunakan untuk bauran energi kendaraan yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, negara akan memiliki alternatif energi untuk mengurangi beban ketergantungan impor BBM.

Ia pun menilai, kehadiran PT Pertamina (Persero) menjadi off taker sangat penting guna memastikan kebutuhan petani dan gula nasional berkesinambungan dengan kebutuhan energi nasional.

Untuk mendukung hal tersebut, sambung Erick, PTPN bersinergi dengan Pertamina untuk pilot project pengembangan biofuel.

Menanggapi ini, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat mengatakan, pembentukan PT SGN atau Sugar Co memang sudah lama dinantikan. Sebab, memiliki peranan penting dalam menghidupkan kembali industri gula dalam negeri. Mengingat kebutuhan gula, baik konsumsi maupun industri selama ini masih dipenuhi melalui impor.

 

Ia berharap, dengan mulai dilakukannya revitalisasi pabrik gula benar-benar bisa meningkatkan produksi gula. Meski hal ini tak bisa instan dan membutuhkan waktu.

“Tentu harapannya, program-program yang dicanangkan bisa terealisasi,” kata Budi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Begitu juga terkait PT SGN, yang ditargetkan bisa memproduksi bioethanol berbasis tanaman tebu.

Menurutnya, banyak negara yang mampu mengalihkan penggunaan bahan bakarnya dari BBM ke bahan bakar berbasis tebu. Terlebih bioethanol mampu mengurangi 90 persen emisi atas efek rumah kaca, yang berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim.

Menurutnya, Brazil sebagai barometer penggunaan ethanol berhasil menurunkan impor minyak. Sekaligus memanfaatkan ethanol pada saat harga gula dunia turun.

Sehingga, Sugar Co maupun perusahaan BUMN lain diharapkan bisa mengembangkan produk bioethanol dalam negeri, seiring dengan peningkatan produksi gula ke depannya.

“Banyak (negara) yang berhasil swicth ke ethanol. Di Brasil dan Thailand itu kan banyak produksi gulanya. Di India juga begitu, bahan bakar mahal, lalu di-switch ke ethanol,” tukasnya. ■

]]> Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Perkebunan Nusantara mendirikan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Perusahaan baru ini dipatok dalam enam tahun ke depan menguasai 70 persen pasar gula nasional.

Tak hanya memproduksi gula, SGN diproyeksi memproduksi bioethanol, bahan bakar dengan bahan baku tanaman tebu.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan, di tengah situasi ekonomi dunia yang sulit seperti saat ini, sangat penting menjaga kestabilan pangan dan energi. Oleh sebab itu, Pemerintah merevitalisasi industri gula nasional demi mewujudkan program swasembada gula konsumsi nasional tahun 2028, dan gula konsumsi industri tahun 2030. Hal ini dimulai di kebun tebu Temugiring, milik PTPN (Perkebunan Nusantara) X, Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim).

“Kita harus swasembada, karena kebutuhan gula konsumsi sangat diperlukan. Ada peningkatan (konsumsi) dari 2,7 ton sampai 7 juta ton per tahun,” ujar Erick melalui siaran pers, Jumat (14/10).

Erick menjelaskan, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group, yaitu PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII dan PTPN XIV, awal pekan lalu telah menggabungkan aset-aset perusahaan perkebunan tebu. Lalu membentuk PT SGN sebagai entitas tunggal dari 36 pabrik gula (PG). Sehingga PT SGN akan menjadi perusahaan gula terbesar di Indonesia, dengan proyeksi perluasan lahan hingga 700 ribu hektare (ha) di tahun 2028. Selain itu, SGN akan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi farm maupun off farm.

“Pembentukan SGN membuktikan BUMN siap membangun ekosistem bisnis di tengah ketidakpastian industri pangan dan global,” katanya.

Penanaman lahan akan mulai dilakukan tahun 2023. Dan, akan melibatkan banyak petani. Sehingga, langkah SGN akan turut menggenjot penghasilan petani.

“Pembukaan 700 ribu hektare (oleh BUMN) dan melibatkan petani. Income petani dapat bertambah. Misalnya dari Rp 13 juta terus meningkat menjadi Rp 32 juta,” harapnya.

Dengan luasan lahan tersebut, lanjut Erick, SGN diharapkan mampu menguasai 60-70 persen pasar gula nasional di tahun 2028.

Sebagai informasi, tahun 2021 produksi Gula Kristal Putih (GKP) Nasional sebanyak 2,35 juta ton. Namun kebutuhan konsumsi gula nasional sebesar 3,12 juta ton. Sisa kebutuhan gula nasional terpaksa dipenuhi melalui impor sebesar 1,04 juta ton setara GKP.

 

Mantan bos Inter Milan ini menuturkan, program revitalisasi gula bagian dari strategi Pemerintah melawan resesi. Terlebih, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga selalu menekankan, soal pembangunan ekosistem untuk mengatasi ketergantungan Indonesia terhadap rantai pasok dunia. Bos Mahaka Group ini optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat 5 persen di tahun 2045.

“Kita harus agresif melawan resesi ini. Saya sudah sampaikan 5 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai 2045. Saya yakin ini bisa terjadi,” katanya.

Apalagi, PT SGN tak hanya untuk mewujudkan swasembada gula. Tapi juga diproyeksikan mewujudkan kedaulatan energi melalui bioethanol berbasis tanaman tebu.

Hal ini sejalan dengan peningkatan produktivitas gula di masa mendatang. Sehingga dapat memberi kontribusi nyata terhadap biofuel sebagai Energi Baru Terbarukan (EBT).

Ia juga meyakini, peningkatan produksi bioethanol bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan impor bahan bakar minyak (BBM) ke depannya.

Bahkan, pihaknya sudah lakukan benchmarking dengan negara Brasil, yang berhasil mendorong turunan gula menjadi bioethanol.

“Kalau negara lain bisa, kenapa Indonesia tidak? Jadi, kita targetkan bisa menghasilkan 1,2 juta kiloliter minyak mentah (di tahun 2030). Nantinya, bioethanol dicampur ke BBM. Dan kita bisa menciptakan BBM ramah lingkungan, seperti yang di Brasil,” katanya.

Hal ini penting untuk substitusi kebutuhan impor minyak mentah dan digunakan untuk bauran energi kendaraan yang ramah lingkungan.

Dengan demikian, negara akan memiliki alternatif energi untuk mengurangi beban ketergantungan impor BBM.

Ia pun menilai, kehadiran PT Pertamina (Persero) menjadi off taker sangat penting guna memastikan kebutuhan petani dan gula nasional berkesinambungan dengan kebutuhan energi nasional.

Untuk mendukung hal tersebut, sambung Erick, PTPN bersinergi dengan Pertamina untuk pilot project pengembangan biofuel.

Menanggapi ini, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat mengatakan, pembentukan PT SGN atau Sugar Co memang sudah lama dinantikan. Sebab, memiliki peranan penting dalam menghidupkan kembali industri gula dalam negeri. Mengingat kebutuhan gula, baik konsumsi maupun industri selama ini masih dipenuhi melalui impor.

 

Ia berharap, dengan mulai dilakukannya revitalisasi pabrik gula benar-benar bisa meningkatkan produksi gula. Meski hal ini tak bisa instan dan membutuhkan waktu.

“Tentu harapannya, program-program yang dicanangkan bisa terealisasi,” kata Budi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Begitu juga terkait PT SGN, yang ditargetkan bisa memproduksi bioethanol berbasis tanaman tebu.

Menurutnya, banyak negara yang mampu mengalihkan penggunaan bahan bakarnya dari BBM ke bahan bakar berbasis tebu. Terlebih bioethanol mampu mengurangi 90 persen emisi atas efek rumah kaca, yang berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim.

Menurutnya, Brazil sebagai barometer penggunaan ethanol berhasil menurunkan impor minyak. Sekaligus memanfaatkan ethanol pada saat harga gula dunia turun.

Sehingga, Sugar Co maupun perusahaan BUMN lain diharapkan bisa mengembangkan produk bioethanol dalam negeri, seiring dengan peningkatan produksi gula ke depannya.

“Banyak (negara) yang berhasil swicth ke ethanol. Di Brasil dan Thailand itu kan banyak produksi gulanya. Di India juga begitu, bahan bakar mahal, lalu di-switch ke ethanol,” tukasnya. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories