Peran Dokter Penting Untuk Cegah Hoaks Vaksin Virus Corona

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih me­nilai, hoaks seputar Covid-19 masih masif beredar di tengah masyarakat. Yang mengkhawatirkan, hoaks membuat orang menolak vaksin Covid-19.

Jika program vaksinasi gagal dilaksanakan, harapan mengendalikan Covid-19 akan sulit diwujudkan. Apalagi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menargetkan pandemi ini bisa dikendalikan pada pertengahan Agustus 2021.

“Dari ilmu yang sudah dida­pat, dari seri-seri webinar, mu­dah-mudahan dapat semakin mudah memberikan pemaha­man kepada masyarakat,” ujar Daeng dalam diskusi virtual Minggu Pagi bersama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), kemarin.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan perlindungan diri di tengah pandemi seperti sekarang. Tidak hanya dari bahaya Covid-19 tapi juga bahaya hoaks.

“Masyarakat butuh pencera­han agar tidak mudah tertipu oleh hoaks. Bagaimana caranya agar masyarakat bisa mem­pelajari informasi yang mereka dapat,” terangnya.

Media sosial (medsos) sering memberikan informasi yang keliru mengikuti tren yang sedang berkembang. Padahal, sudah ada ancaman sanksi hukum bagi penyebarnya. Namun, pidana tak mampu menghentikan masifnya kabar hoaks.

Dalam situasi seperti seka­rang, Daeng menilai, peran dokter sangat penting untuk memberikan penjelasan yang mudah dimengerti masyarakat awam. Jangan sampai hoaks ini malah menghancurkan harapan bersama untuk bebas dari virus.

 

“Saya kira tim advokasi vak­sinasi sekalian senantiasa terus mendampingi masyarakat yang ingin bertanya,” ucap Daeng.

Layanan medsos resmi yang berada di bawah kendali para pengurus organisasi dokter perlu terus aktif. Sigap menerima laporan dari masyarakat dan menjawab pertanyaan ten­tang informasi yang berkem­bang di tengah publik. Hal itu untuk membendung berita bo­hong yang bisa membahayakan masyarakat.

“Kalau ada pertanyaan dari masyarakat yang mungkin belum bisa dijawab, silakan konsultasikan kepada para pakar atau ahli terutama soal vaksinasi. Insya Allah para pakar siap sedia membantu memberikan pencerahan jawa­ban,” terangnya.

Daeng juga mengingatkan agar jawaban yang diberikan kepada masyarakat adalah jawaban yang mudah dipahami.

Terpisah, Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Dedy Permadi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pengelola platform media so­sial untuk melakukan take down terhadap isu hoaks terse­but.

“Banyak postingan yang ter­bukti hoaks Covid-19 telah di­lakukan take down. Penyebaran paling banyak ada di Facebook. Sisanya ada di Instagram, Twitter, YouTube dan TikTok,” kata Dedy, pekan lalu.

Selain itu, dia meminta masyarakat turut berperan aktif dan tidak mudah percaya ter­hadap informasi yang berasal dari media sosial dan pesan singkat WhatsApp.

“Saring terlebih dahulu informasi tersebut. Kalau baik dibagikan, namun apa­bila berita bohong, maka tolak dan langsung laporkan ke aduankonten.id,” ucap dia.

Dedy juga menyampai­kan, masyarakat bisa dengan mudah membuktikan isu terkait vaksin Covid-19 hoaks atau tidak melalui http://sd.id/infovaksin dengan memasuk­kan kata atau kalimat yang ingin dicari. [JAR]

]]> Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih me­nilai, hoaks seputar Covid-19 masih masif beredar di tengah masyarakat. Yang mengkhawatirkan, hoaks membuat orang menolak vaksin Covid-19.

Jika program vaksinasi gagal dilaksanakan, harapan mengendalikan Covid-19 akan sulit diwujudkan. Apalagi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menargetkan pandemi ini bisa dikendalikan pada pertengahan Agustus 2021.

“Dari ilmu yang sudah dida­pat, dari seri-seri webinar, mu­dah-mudahan dapat semakin mudah memberikan pemaha­man kepada masyarakat,” ujar Daeng dalam diskusi virtual Minggu Pagi bersama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), kemarin.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan perlindungan diri di tengah pandemi seperti sekarang. Tidak hanya dari bahaya Covid-19 tapi juga bahaya hoaks.

“Masyarakat butuh pencera­han agar tidak mudah tertipu oleh hoaks. Bagaimana caranya agar masyarakat bisa mem­pelajari informasi yang mereka dapat,” terangnya.

Media sosial (medsos) sering memberikan informasi yang keliru mengikuti tren yang sedang berkembang. Padahal, sudah ada ancaman sanksi hukum bagi penyebarnya. Namun, pidana tak mampu menghentikan masifnya kabar hoaks.

Dalam situasi seperti seka­rang, Daeng menilai, peran dokter sangat penting untuk memberikan penjelasan yang mudah dimengerti masyarakat awam. Jangan sampai hoaks ini malah menghancurkan harapan bersama untuk bebas dari virus.

 

“Saya kira tim advokasi vak­sinasi sekalian senantiasa terus mendampingi masyarakat yang ingin bertanya,” ucap Daeng.

Layanan medsos resmi yang berada di bawah kendali para pengurus organisasi dokter perlu terus aktif. Sigap menerima laporan dari masyarakat dan menjawab pertanyaan ten­tang informasi yang berkem­bang di tengah publik. Hal itu untuk membendung berita bo­hong yang bisa membahayakan masyarakat.

“Kalau ada pertanyaan dari masyarakat yang mungkin belum bisa dijawab, silakan konsultasikan kepada para pakar atau ahli terutama soal vaksinasi. Insya Allah para pakar siap sedia membantu memberikan pencerahan jawa­ban,” terangnya.

Daeng juga mengingatkan agar jawaban yang diberikan kepada masyarakat adalah jawaban yang mudah dipahami.

Terpisah, Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Dedy Permadi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pengelola platform media so­sial untuk melakukan take down terhadap isu hoaks terse­but.

“Banyak postingan yang ter­bukti hoaks Covid-19 telah di­lakukan take down. Penyebaran paling banyak ada di Facebook. Sisanya ada di Instagram, Twitter, YouTube dan TikTok,” kata Dedy, pekan lalu.

Selain itu, dia meminta masyarakat turut berperan aktif dan tidak mudah percaya ter­hadap informasi yang berasal dari media sosial dan pesan singkat WhatsApp.

“Saring terlebih dahulu informasi tersebut. Kalau baik dibagikan, namun apa­bila berita bohong, maka tolak dan langsung laporkan ke aduankonten.id,” ucap dia.

Dedy juga menyampai­kan, masyarakat bisa dengan mudah membuktikan isu terkait vaksin Covid-19 hoaks atau tidak melalui http://sd.id/infovaksin dengan memasuk­kan kata atau kalimat yang ingin dicari. [JAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories