Penting, Komunikasi Budaya Dalam Masyarakat

Komunikasi budaya dalam masyarakat sangat penting. Demikian disampaikan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo dalam peluncuran buku “Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antar-Budaya Berbasis Kearifan Lokal untuk Membangun Keharmonisan Relasi Antar-Etnis dan Agama” yang digelar secara virtual, Rabu (24/3).

Acara ini dihadiri juga pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Ilya Revianti Sunarwinadi, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kemasyarakatan (HAAK) Keuskupan Tanjung Karang sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung Romo Philipus Suroyo dan Koordinator Gusdurian Malang Ilmi Najib yang hadir sebagai penanggap. Acara dihadiri kurang lebih 50 orang peserta.

Benny menyatakan apresiasi atas peluncuran buku ini. “Dengan launching buku ini, kita diperkaya dengan teori komunikasi budaya,” ujarnya.

Benny menambahkan, dalam hal bicara tentang kearifan lokal, teori simbolik menjadi penting. “Contohnya, pembangunan rumah menggunakan simbol padi, jenang,” jelasnya.

Selanjutnya, Benny menyampaikan bahwa budaya dibangun dari berbagai level. Atas hal itu, teori komunikasi budaya harus lintas batas dan terkait dengan berbagai ilmu, seperti antropologi dan sosiologi.

Benny melanjutkan, pendekatan komunikasi budaya dibutuhkan dalam pengambilan kebijakan pembangunan. Buku ini mengajak lebih dalam bagaimana interaksi budaya membentuk karakter.

“Satu hal yang perlu diingat adalah interaksi budaya membentuk karakter yang berbeda-beda, namun ada satu titik yang menyamakan yaitu nilai luhur. Setiap orang menghormati kultur budaya lainnya karena adanya nilai luhur,” terang Benny.

Benny menutup tanggapannya dengan menyatakan bahwa buku ini memberikan realitas kepada pembaca bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan pendekatan dengan kekhasan khusus. Yaitu pendekatan budaya yang bukan hanya lewat satu dimensi, tetapi lewat pendekatan dengan pengalaman interaksi. “Semoga buku ini menjadi bagian memperkaya ilmu komunikasi dan mengadakan riset pendekatan budaya.”

Romo Philipus melihat, buku ini sebagai buah karya yang sangat komprehensif. Dia menambahkan bahwa toleransi dibutuhkan, agar semua pihak masyarakat di Indonesia dapat menerima perbedaan dan membiasakan diri dengan budaya masyarakat lainnya, sehingga tercipta perdamaian.

Ilmi Najib menyatakan, adanya komunikasi budaya sebaiknya dikampanyekan kepada generasi-generasi milenial dan yang di atasnya. Sehingga dapat dikenal luas dan tercipta pengertian antarbudaya yang dianut pihak masyarakat Indonesia yang lainnya. [USU]

]]> Komunikasi budaya dalam masyarakat sangat penting. Demikian disampaikan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo dalam peluncuran buku “Mengembangkan Kompetensi Komunikasi Antar-Budaya Berbasis Kearifan Lokal untuk Membangun Keharmonisan Relasi Antar-Etnis dan Agama” yang digelar secara virtual, Rabu (24/3).

Acara ini dihadiri juga pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Ilya Revianti Sunarwinadi, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kemasyarakatan (HAAK) Keuskupan Tanjung Karang sekaligus anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Lampung Romo Philipus Suroyo dan Koordinator Gusdurian Malang Ilmi Najib yang hadir sebagai penanggap. Acara dihadiri kurang lebih 50 orang peserta.

Benny menyatakan apresiasi atas peluncuran buku ini. “Dengan launching buku ini, kita diperkaya dengan teori komunikasi budaya,” ujarnya.

Benny menambahkan, dalam hal bicara tentang kearifan lokal, teori simbolik menjadi penting. “Contohnya, pembangunan rumah menggunakan simbol padi, jenang,” jelasnya.

Selanjutnya, Benny menyampaikan bahwa budaya dibangun dari berbagai level. Atas hal itu, teori komunikasi budaya harus lintas batas dan terkait dengan berbagai ilmu, seperti antropologi dan sosiologi.

Benny melanjutkan, pendekatan komunikasi budaya dibutuhkan dalam pengambilan kebijakan pembangunan. Buku ini mengajak lebih dalam bagaimana interaksi budaya membentuk karakter.

“Satu hal yang perlu diingat adalah interaksi budaya membentuk karakter yang berbeda-beda, namun ada satu titik yang menyamakan yaitu nilai luhur. Setiap orang menghormati kultur budaya lainnya karena adanya nilai luhur,” terang Benny.

Benny menutup tanggapannya dengan menyatakan bahwa buku ini memberikan realitas kepada pembaca bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan pendekatan dengan kekhasan khusus. Yaitu pendekatan budaya yang bukan hanya lewat satu dimensi, tetapi lewat pendekatan dengan pengalaman interaksi. “Semoga buku ini menjadi bagian memperkaya ilmu komunikasi dan mengadakan riset pendekatan budaya.”

Romo Philipus melihat, buku ini sebagai buah karya yang sangat komprehensif. Dia menambahkan bahwa toleransi dibutuhkan, agar semua pihak masyarakat di Indonesia dapat menerima perbedaan dan membiasakan diri dengan budaya masyarakat lainnya, sehingga tercipta perdamaian.

Ilmi Najib menyatakan, adanya komunikasi budaya sebaiknya dikampanyekan kepada generasi-generasi milenial dan yang di atasnya. Sehingga dapat dikenal luas dan tercipta pengertian antarbudaya yang dianut pihak masyarakat Indonesia yang lainnya. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories