Penjajakan Koalisi NasDem, PKS Dan Demokrat Alot Capresnya Sudah Ada Cawapres Belum Deal

Penjajakan koalisi Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat masih alot. Masalah utamanya, soal penentuan calon wakil presiden (cawapres).

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem Willy Aditya mengklaim, progres kerja sama antara Partai NasDem, PKS dan Partai Demokrat mendekati angka 80 persen. Namun, proses nego­siasi masih membutuhkan waktu karena ketiga partai politik belum pernah bekerja sama.

“Tentu ini nggak bisa kawin paksa, proses pembangunan chemistry di dua ranah. Yakni ranah antarpartai, dan ranah antara kandidat (capres-cawapres) den­gan partai,” ujar Willy di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Juru Bicara DPP PKS M Kholid mengungkapkan, salah satu yang belum men­jadi kesepakatan adalah penentuan figur calon wakil presiden (cawapres). Kata dia, masing-masing partai politik berhak mengajukan aspirasinya.

“Yang jadi pekerjaan rumah, kira-kira siapa cawapresnya,” kata Kholid dalam keterangannya, kemarin.

Sementara, Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra ingin agar usulan pengusungan capres-cawapres Partai Demokrat didengarkan. Namun, dia mengakui partainya belum memilih figur capres-cawapres, karena mekanisme itu menjadi ke­wenangan Majelis Tinggi Partai (MTP) Demokrat.

“Kami menghargai dan menghor­mati independensi mekanisme penentuan capres-cawapres dari tiap parpol sahabat calon mitra koalisi,” ujarnya.

Netizen heran dengan koalisi NasDem, Demokrat dan PKS yang belum ada titik temu. Apalagi, yang diributkan justru posisi cawapres, bukan capres Pemilu 2024.

Akun @Margo_Baskoro menduga, sejak awal rencana koalisi tiga partai ini berjalan alot. Sebab, Ketum DPP Partai NasDem Surya Paloh akan berpikir pan­jang ke depan soal penetuan calon wakil presiden (cawapres).

“Ngakak, rebutan cawapres nggak ada yang mau ngalah,” sindir @anony­mous51.

Akun @Ina_Pamungkas juga heran. Kata dia, ketiga parpol yang akan mem­bentuk koalisi malah meributkan po­sisi cawapres, bukannya capres. Kalau capresnya bukan dari parpol mending bubarin aja parpolnya.

“Saat ini penentuan cawapres masih alot, tapi nantinya akan mengerucut pada satu nama pada Pemilu 2024,” ujar @Sugeng_Maulana.

Akun @Arifin mengingatkan masing-masing ketua umum dan elite parpol, jangan mengedepankan ego. Lebih baik, mereka mendengarkan suara rakyat dalam menentukan capres dan cawapres yang dikehendaki rakyat.

 

“Sebaiknya ketiga parpol tersebut melakukan musyawarah untuk mengusul­kan figur, dan jangan sampai ada yang tidak menghargai usulannya,” saran @Muhammad_Makhfudz.

Akun @Timbul_Santoso menyarankan Anies Baswedan menjadi kader Partai NasDem sebagai capres. Sedangkan cawapres diserahkan untuk PKS. Sedangkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) harus bersabar menjadi menteri.

“Nanti dalam Pemilu 2029, AHY baru menjadi cawapres,” usul @Timbul_Santoso.

“Bukannya Anies dan AHY sudah final menjadi capres dan cawapres, karena su­dah banyak dukungan nitizen,” sahut @Muji_handoyo.

Menurut @Sri_hono, meski Demokrat belum ketok palu menentukan cawapres, tapi Majelis Tinggi Demokrat sudah harga mati bahwa cawapresnya adalah AHY. Karena itu, sulit bagi Demokrat berkoalisi.

“Siapapun capres dan cawapres, jangan membawa-bawa politik identitas, karena bisa memecah belah umat karena bisa saling bermusuhan karena beda pilihan,” ujar @Ah_firdaus.

Akun @Jebe_Tam melihat, koalisi NasDem, Demokrat dan PKS memang tidak ada pilihan lagi. Sehingga, tidak tahu ke depannya apakah koalisi ini bisa bertahan atau tidak.

“Koalisi mlaku dewe-dewe, akhire bubrah karena nggak ada kesepakatan di antara mereka,” ujar @Jo_black.

Akun @Doni_Simbara menilai NasDem tidak akan dapat apa-apa bila berkoalisi dengan PKS dan Demokrat. Soalnya, kedua partai tersebut su­dah berjalan bersama sebagai oposisi Pemerintah.

“Jadi, NasDem akan belajar lagi dengan gaya dua partai ini,” kata dia.

Namun, @Giru_Giru curiga, alotnya koalisi ketiga parpol hanya akal-akalan NasDem yang ingin mengulur-ulur waktu. Pada akhirnya, NasDem akan ikut PDIP.

“NasDem akan bangkrut kalau ikut koalisi PKS dan Demokrat,” katanya.

“Koalisi NasDem-PKS dan Demokrat adalah koalisi impian. Top markotop dah,” puji @Bamz2018. [TIF]

]]> Penjajakan koalisi Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat masih alot. Masalah utamanya, soal penentuan calon wakil presiden (cawapres).

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem Willy Aditya mengklaim, progres kerja sama antara Partai NasDem, PKS dan Partai Demokrat mendekati angka 80 persen. Namun, proses nego­siasi masih membutuhkan waktu karena ketiga partai politik belum pernah bekerja sama.

“Tentu ini nggak bisa kawin paksa, proses pembangunan chemistry di dua ranah. Yakni ranah antarpartai, dan ranah antara kandidat (capres-cawapres) den­gan partai,” ujar Willy di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Juru Bicara DPP PKS M Kholid mengungkapkan, salah satu yang belum men­jadi kesepakatan adalah penentuan figur calon wakil presiden (cawapres). Kata dia, masing-masing partai politik berhak mengajukan aspirasinya.

“Yang jadi pekerjaan rumah, kira-kira siapa cawapresnya,” kata Kholid dalam keterangannya, kemarin.

Sementara, Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra ingin agar usulan pengusungan capres-cawapres Partai Demokrat didengarkan. Namun, dia mengakui partainya belum memilih figur capres-cawapres, karena mekanisme itu menjadi ke­wenangan Majelis Tinggi Partai (MTP) Demokrat.

“Kami menghargai dan menghor­mati independensi mekanisme penentuan capres-cawapres dari tiap parpol sahabat calon mitra koalisi,” ujarnya.

Netizen heran dengan koalisi NasDem, Demokrat dan PKS yang belum ada titik temu. Apalagi, yang diributkan justru posisi cawapres, bukan capres Pemilu 2024.

Akun @Margo_Baskoro menduga, sejak awal rencana koalisi tiga partai ini berjalan alot. Sebab, Ketum DPP Partai NasDem Surya Paloh akan berpikir pan­jang ke depan soal penetuan calon wakil presiden (cawapres).

“Ngakak, rebutan cawapres nggak ada yang mau ngalah,” sindir @anony­mous51.

Akun @Ina_Pamungkas juga heran. Kata dia, ketiga parpol yang akan mem­bentuk koalisi malah meributkan po­sisi cawapres, bukannya capres. Kalau capresnya bukan dari parpol mending bubarin aja parpolnya.

“Saat ini penentuan cawapres masih alot, tapi nantinya akan mengerucut pada satu nama pada Pemilu 2024,” ujar @Sugeng_Maulana.

Akun @Arifin mengingatkan masing-masing ketua umum dan elite parpol, jangan mengedepankan ego. Lebih baik, mereka mendengarkan suara rakyat dalam menentukan capres dan cawapres yang dikehendaki rakyat.

 

“Sebaiknya ketiga parpol tersebut melakukan musyawarah untuk mengusul­kan figur, dan jangan sampai ada yang tidak menghargai usulannya,” saran @Muhammad_Makhfudz.

Akun @Timbul_Santoso menyarankan Anies Baswedan menjadi kader Partai NasDem sebagai capres. Sedangkan cawapres diserahkan untuk PKS. Sedangkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) harus bersabar menjadi menteri.

“Nanti dalam Pemilu 2029, AHY baru menjadi cawapres,” usul @Timbul_Santoso.

“Bukannya Anies dan AHY sudah final menjadi capres dan cawapres, karena su­dah banyak dukungan nitizen,” sahut @Muji_handoyo.

Menurut @Sri_hono, meski Demokrat belum ketok palu menentukan cawapres, tapi Majelis Tinggi Demokrat sudah harga mati bahwa cawapresnya adalah AHY. Karena itu, sulit bagi Demokrat berkoalisi.

“Siapapun capres dan cawapres, jangan membawa-bawa politik identitas, karena bisa memecah belah umat karena bisa saling bermusuhan karena beda pilihan,” ujar @Ah_firdaus.

Akun @Jebe_Tam melihat, koalisi NasDem, Demokrat dan PKS memang tidak ada pilihan lagi. Sehingga, tidak tahu ke depannya apakah koalisi ini bisa bertahan atau tidak.

“Koalisi mlaku dewe-dewe, akhire bubrah karena nggak ada kesepakatan di antara mereka,” ujar @Jo_black.

Akun @Doni_Simbara menilai NasDem tidak akan dapat apa-apa bila berkoalisi dengan PKS dan Demokrat. Soalnya, kedua partai tersebut su­dah berjalan bersama sebagai oposisi Pemerintah.

“Jadi, NasDem akan belajar lagi dengan gaya dua partai ini,” kata dia.

Namun, @Giru_Giru curiga, alotnya koalisi ketiga parpol hanya akal-akalan NasDem yang ingin mengulur-ulur waktu. Pada akhirnya, NasDem akan ikut PDIP.

“NasDem akan bangkrut kalau ikut koalisi PKS dan Demokrat,” katanya.

“Koalisi NasDem-PKS dan Demokrat adalah koalisi impian. Top markotop dah,” puji @Bamz2018. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories