Penguatan Literasi Perlu Intervensi dan Kolaborasi Semua Pihak

Penguatan kegemaran membaca dipercaya akan menjadikan suatu bangsa maju dan berkembang. Sayangnya, kegemaran tersebut belum tumbuh subur di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk menghidupkan iklim literasi. Padahal, di era saat ini, keunggulan dan produktivitas individu ditentukan dari seberapa banyak kualitas dan pemahaman yang dimiliki dari hasil membaca. 

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando pada kegiatan talk show “Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan Pengukuhan Bunda Literasi Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung, Selasa (15/6). 

Syarif menerangkan, dengan kegemaran membaca, sumber daya manusia akan lebih unggul. Keunggulan ini kemudian mendorong negara menjadi maju. Dia lalu mencontohkan negara-negara lain yang maju karena kegeramaran membacanya baik. “Singapura, Jepang, dan Korea, secara sumber daya alam memiliki keterbatasan, namun memiliki sumber daya manusia yang unggul dan produktif,” ujarnya.

Selanjutnya, Syarid memaparkan beberapa persoalan literasi di Indonesia, dengan rendahnya budaya baca masih menjadi masalah utama. Untuk itu, diperlukan peran berbagai pihak, terutama pemerintah, akademisi, dan semua pihak, untuk dapat bahu-membahu mengatasi hal tersebut.

“Persoalan budaya baca dan literasi Indonesia terletak pada sisi hulu literasi. Sehingga memerlukan intervensi penguatan peran melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari eksekutif, yudikatif, legislatif, BUMN/BUMD, TNI/Polri, akademisi, pengusaha rekaman/penerbit, penerjemah, dan pengarang,” tambah Syarif.

Sekretaris Daerah Lampung Fahrizal Darminto menyampaikan hal serupa. Dia mengakui, persoalan literasi selama ini karena sebagian masyarakat belum memiliki budaya baca yang baik. Ditambah ketersediaan sumber bahan bacaan serta kemudahan untuk mengaksesnya. 

Fahrizal menambahkan, faktor keluarga dan lingkungan memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan budaya baca. “Budaya baca harus dikenalkan sejak usia dini, sehingga kebiasaan baik ini akan terbawa manfaatnya hingga mereka dewasa dan menjadi generasi sadar literasi,” ucapnya.

Di acara itu, Syarif didampingi Fahrizal dan Bunda Literasi Lampung Riana Sari Arinal mengukuhkan delapan Bunda Literasi Kabupaten/Kota. Pengukuhan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan promosi budaya baca. Bunda Literasi dipercaya akan terus menjadi daya dorong dalam menciptakan inovasi kegiatan literasi di wilayah masing-masing

Bunda Lampung Riana berharap, program ini bisa diselaraskan dengan program yang ada dalam Tim Penggerak PKK. “Kita bisa berdayakan kader-kader di PKK dengan mengajak peran serta lingkungan keluarga terutama para ibu seperti mengadakan program membaca dan mendongeng bersama,” katanya.

Talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) juga menghadirkan narasumber Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay dan Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Nasrullah Yusuf. Pada kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Perpusnas dengan Pemprov Lampung, Universitas Lampung, Institut Maritim Prasetiya Mandiri, Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, Universitas Tulang Bawang, STIKes Panca Bhakti, Universitas Nahdlatul Ulama, dan Universitas Muhammadiyah Lampung. [USU]

]]> Penguatan kegemaran membaca dipercaya akan menjadikan suatu bangsa maju dan berkembang. Sayangnya, kegemaran tersebut belum tumbuh subur di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk menghidupkan iklim literasi. Padahal, di era saat ini, keunggulan dan produktivitas individu ditentukan dari seberapa banyak kualitas dan pemahaman yang dimiliki dari hasil membaca. 

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando pada kegiatan talk show “Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan Pengukuhan Bunda Literasi Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung, Selasa (15/6). 

Syarif menerangkan, dengan kegemaran membaca, sumber daya manusia akan lebih unggul. Keunggulan ini kemudian mendorong negara menjadi maju. Dia lalu mencontohkan negara-negara lain yang maju karena kegeramaran membacanya baik. “Singapura, Jepang, dan Korea, secara sumber daya alam memiliki keterbatasan, namun memiliki sumber daya manusia yang unggul dan produktif,” ujarnya.

Selanjutnya, Syarid memaparkan beberapa persoalan literasi di Indonesia, dengan rendahnya budaya baca masih menjadi masalah utama. Untuk itu, diperlukan peran berbagai pihak, terutama pemerintah, akademisi, dan semua pihak, untuk dapat bahu-membahu mengatasi hal tersebut.

“Persoalan budaya baca dan literasi Indonesia terletak pada sisi hulu literasi. Sehingga memerlukan intervensi penguatan peran melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari eksekutif, yudikatif, legislatif, BUMN/BUMD, TNI/Polri, akademisi, pengusaha rekaman/penerbit, penerjemah, dan pengarang,” tambah Syarif.

Sekretaris Daerah Lampung Fahrizal Darminto menyampaikan hal serupa. Dia mengakui, persoalan literasi selama ini karena sebagian masyarakat belum memiliki budaya baca yang baik. Ditambah ketersediaan sumber bahan bacaan serta kemudahan untuk mengaksesnya. 

Fahrizal menambahkan, faktor keluarga dan lingkungan memiliki peranan penting dalam menumbuhkembangkan budaya baca. “Budaya baca harus dikenalkan sejak usia dini, sehingga kebiasaan baik ini akan terbawa manfaatnya hingga mereka dewasa dan menjadi generasi sadar literasi,” ucapnya.

Di acara itu, Syarif didampingi Fahrizal dan Bunda Literasi Lampung Riana Sari Arinal mengukuhkan delapan Bunda Literasi Kabupaten/Kota. Pengukuhan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan promosi budaya baca. Bunda Literasi dipercaya akan terus menjadi daya dorong dalam menciptakan inovasi kegiatan literasi di wilayah masing-masing

Bunda Lampung Riana berharap, program ini bisa diselaraskan dengan program yang ada dalam Tim Penggerak PKK. “Kita bisa berdayakan kader-kader di PKK dengan mengajak peran serta lingkungan keluarga terutama para ibu seperti mengadakan program membaca dan mendongeng bersama,” katanya.

Talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) juga menghadirkan narasumber Ketua DPRD Lampung Mingrum Gumay dan Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Nasrullah Yusuf. Pada kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Perpusnas dengan Pemprov Lampung, Universitas Lampung, Institut Maritim Prasetiya Mandiri, Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya, Universitas Tulang Bawang, STIKes Panca Bhakti, Universitas Nahdlatul Ulama, dan Universitas Muhammadiyah Lampung. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories