Penggunaan BBM Oktan Tinggi Bikin Kesehatan Warga Terjaga

Pengguna kendaraan bermotor diimbau memilih BBM khusus, sesuai petunjuk yang dikeluarkan pabrikan. Selain membuat mesin lebih awet, juga kurangi polusi.

Pengamat otomotif, Anton Fiat mengatakan, pemilik kendaran kadang abai dengan rekomendasi BBM yang di keluarkan pabrikan untuk kendaraannya. Masyarakat lebih memilih BBM oktan rendah yang harganya lebih murah. 

Padahal, di setiap kendaraan ditempeli stiker petunjuk BBM yang wajib digunakan. Misalnya mobil LCGC wajib menggunakan Pertamax cs agar memenuhi standar emisi gas buang kendaraan. Dengan begitu polusi udara bisa dikurangi dan masyarakat makin sehat.

“Tapi harus disosialisasikan dengan baik, jadi pesan yang dituju sampai ke masyarakat,” kata dia ketika dihubungi wartawan, Kamis (1/7).

Karena itu, dia mengajak, pabrikan otomotif untuk bisa mensosialisasikan penggunaan BBM oktan tinggi. Mengingat, penggunaan BBM yang tepat akan membuat mesin kendaraan lebih awet karena pembakarannya bisa lebih optimal, lebih efisien dan tidak menimbulkan kerak pada mesin kendaraan bermotor.

“Kesadaran masyarakat itu perlu digugah. Bagaimana petunjuk yang diterapkan itu bisa sampai, bukan hanya sebagai imbauan atau slogan,” ujarnya. 

Ia mencontohkan, sosialisasi bisa seperti yang saat ini dilakukan PT Pertamina (Persero) yakni dengan memberikan penawaran menarik kepada konsumen. “Kaya diskon dan sebagainya. Kalau menggunakan Pertamax itu menarik, maka masyarakat beralih ke penggunaan BBM yang lebih baik untuk kendaraan,” ucapnya. 

Guru Besar Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Prof Budi Haryanto mengatakan, dengan penggunaan BBM oktan tinggi bisa berkontribusi terhadap perbaikan kualitas udara dan pengurangan risiko timbulnya gangguan kesehatan bagi masyarakat. 

“Kalau kualitas bahan bakar bagus, maka kualitas udara pencemaran berkurang. Artinya, semakin banyak kendaraan memakai BBM berkualitas, otomatis emisi yang keluar di udara juga semakin berkurang,” terangnya. 

Sebaliknya, jika polusi udara tinggi dapat memunculkan penyakit kronis kormobit Covid-19, seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan pada paru-para. Untuk itu, Budi menyambut positif tren peningkatan konsumsi Pertamax series akhir-akhir ini.

“Tren peningkatan konsumsi Pertamax series harus dipertahankan dan selalu ditingkatkan. Ini untuk jangka panjang,” sambungnya.

 

Ia mencontohkan, pada penelitian yang dilakukan Harvard, pasien Covid-19 di wilayah tinggi polusi memiliki risiko kematian 4,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan di wilayah rendah polusi. “Secara teori, ini dikaitkan bahwa banyak kormobit yang diderita orang-orang di daerah tinggi polusi, akibat pencemaran udara tadi,” jelas dia.

Penelitian serupa juga dilakukan di Eropa, antara lain Italia, Prancis, Spanyol, dan Jerman. Dalam hal ini, European Public Health Alliance menyatakan, bahwa polusi udara mengurangi peluang seseorang bertahan hidup dari wabah Covid-19.

Karena itulah, kata Budi, World Health Organization (WHO) mengimbau agar setiap negara memperhatikan faktor risiko polusi udara dan kaitannya terhadap pengendalian Covid-19. “WHO menyebutkan, negara dengan tingkat polusi udara tinggi seperti Indonesia harus mempertimbangkan faktor risiko itu saat penanganan Covid-19,” pungkasnya. [IMA]

]]> Pengguna kendaraan bermotor diimbau memilih BBM khusus, sesuai petunjuk yang dikeluarkan pabrikan. Selain membuat mesin lebih awet, juga kurangi polusi.

Pengamat otomotif, Anton Fiat mengatakan, pemilik kendaran kadang abai dengan rekomendasi BBM yang di keluarkan pabrikan untuk kendaraannya. Masyarakat lebih memilih BBM oktan rendah yang harganya lebih murah. 

Padahal, di setiap kendaraan ditempeli stiker petunjuk BBM yang wajib digunakan. Misalnya mobil LCGC wajib menggunakan Pertamax cs agar memenuhi standar emisi gas buang kendaraan. Dengan begitu polusi udara bisa dikurangi dan masyarakat makin sehat.

“Tapi harus disosialisasikan dengan baik, jadi pesan yang dituju sampai ke masyarakat,” kata dia ketika dihubungi wartawan, Kamis (1/7).

Karena itu, dia mengajak, pabrikan otomotif untuk bisa mensosialisasikan penggunaan BBM oktan tinggi. Mengingat, penggunaan BBM yang tepat akan membuat mesin kendaraan lebih awet karena pembakarannya bisa lebih optimal, lebih efisien dan tidak menimbulkan kerak pada mesin kendaraan bermotor.

“Kesadaran masyarakat itu perlu digugah. Bagaimana petunjuk yang diterapkan itu bisa sampai, bukan hanya sebagai imbauan atau slogan,” ujarnya. 

Ia mencontohkan, sosialisasi bisa seperti yang saat ini dilakukan PT Pertamina (Persero) yakni dengan memberikan penawaran menarik kepada konsumen. “Kaya diskon dan sebagainya. Kalau menggunakan Pertamax itu menarik, maka masyarakat beralih ke penggunaan BBM yang lebih baik untuk kendaraan,” ucapnya. 

Guru Besar Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Prof Budi Haryanto mengatakan, dengan penggunaan BBM oktan tinggi bisa berkontribusi terhadap perbaikan kualitas udara dan pengurangan risiko timbulnya gangguan kesehatan bagi masyarakat. 

“Kalau kualitas bahan bakar bagus, maka kualitas udara pencemaran berkurang. Artinya, semakin banyak kendaraan memakai BBM berkualitas, otomatis emisi yang keluar di udara juga semakin berkurang,” terangnya. 

Sebaliknya, jika polusi udara tinggi dapat memunculkan penyakit kronis kormobit Covid-19, seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan pada paru-para. Untuk itu, Budi menyambut positif tren peningkatan konsumsi Pertamax series akhir-akhir ini.

“Tren peningkatan konsumsi Pertamax series harus dipertahankan dan selalu ditingkatkan. Ini untuk jangka panjang,” sambungnya.

 

Ia mencontohkan, pada penelitian yang dilakukan Harvard, pasien Covid-19 di wilayah tinggi polusi memiliki risiko kematian 4,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan di wilayah rendah polusi. “Secara teori, ini dikaitkan bahwa banyak kormobit yang diderita orang-orang di daerah tinggi polusi, akibat pencemaran udara tadi,” jelas dia.

Penelitian serupa juga dilakukan di Eropa, antara lain Italia, Prancis, Spanyol, dan Jerman. Dalam hal ini, European Public Health Alliance menyatakan, bahwa polusi udara mengurangi peluang seseorang bertahan hidup dari wabah Covid-19.

Karena itulah, kata Budi, World Health Organization (WHO) mengimbau agar setiap negara memperhatikan faktor risiko polusi udara dan kaitannya terhadap pengendalian Covid-19. “WHO menyebutkan, negara dengan tingkat polusi udara tinggi seperti Indonesia harus mempertimbangkan faktor risiko itu saat penanganan Covid-19,” pungkasnya. [IMA]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories