Penganggur Makin Banyak

Pandemi Covid-19 menyebabkan dunia usaha babak belur. Bahkan, tidak sedikit yang gulung tikar. Sedangkan yang masih bisa bertahan, terus mengurangi jumlah karyawan.

Sejak awal Pandemi Maret 2020 lalu, yang paling terpukul, industri pariwisata. Puluhan destinasi wisata di Jawa, Bali dan NTB sepi pengunjung. Ratusan hotel mati suri. Akibatnya, ribuan karyawan kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal pekan ini menunjukkan jumlah penduduk miskin per September 2020 mencapai 27,55 juta orang, atau naik 1,13 juta orang dari Maret 2020.

Kemiskinan bertambah antara lain, karena 29,12 juta penduduk usia kerja terdampak Pandemi, termasuk 2,56 juta orang menjadi penganggur. Akibatnya, per Agustus 2020 jumlah penganggur mencapai 9,77 juta orang.

Supaya kehidupan orang miskin dan penganggur tak semakin memburuk, untuk mereka mesti disiapkan lapangan kerja. Sebab, bantuan sosial saja tidak cukup.

Salah satu solusi yang paling memungkinkan,mereka ditampung di proyek-proyek padat karya.

Oleh karena itu, kita berharap Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan BUMN Karya sesegera mungkin menyiapkan proyek padat karya.

 

Proyek-proyek tersebut mesti dibuat tersebar di desa-desa dan perkampungan padat penduduk. Proyek yang layak dikerjakan antara lain, perbaikan saluran irigasi, jalan desa dan infrastruktur sanitasi.

Supaya lebih banyak lagi penganggur bisa ditampung, pembangunan jalan kabupaten dan provinsi sebaiknya juga dilaksanakan dengan proyek padat karya.

Pandemi Covid-19 diperkirakan baru akan berakhir pertengahan tahun 2022. Karena masa Pandemi ini masih panjang, maka proyek-proyek padat karya mesti disiapkan minimal untuk satu tahun ke depan.

Kalau para penganggur bisa bekerja di proyek padat karya dengan upah Rp 100 ribu per hari atau Rp 2,5 juta per bulan, mereka akan tertolong. Para penganggur bisa membeli beras dan lauk pauk untuk makan sehari-hari.

Oleh karena itu, kita berharap pihak Kemenkeu mendukung penuh anggaran proyek padat karya.

Kita pun berharap, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota ikut aktif membuat proyek-proyek padat karya. Bisa dalam bentuk proyek perbaikan sanitasi kota, saluran air maupun fasilitas umum untuk rakyat kecil.

Ke depan diharapkan setiap keluarga miskin sedikitnya bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 2,5 juta per bulan.

Pandemi memang telah merusak hampir semua sendi kehidupan masyarakat. Tapi agar orang miskin dan para penganggur bisa selamat dari ancaman kelaparan, maka jalan pintas yang bisa ditempuh adalah membuat sebanyak mungkin proyek padat karya.

Dan, supaya anggaran yang dikucurkan tidak bocor, pihak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mesti proaktif mengawasi proyek proyek padat karya. (*)

]]> Pandemi Covid-19 menyebabkan dunia usaha babak belur. Bahkan, tidak sedikit yang gulung tikar. Sedangkan yang masih bisa bertahan, terus mengurangi jumlah karyawan.

Sejak awal Pandemi Maret 2020 lalu, yang paling terpukul, industri pariwisata. Puluhan destinasi wisata di Jawa, Bali dan NTB sepi pengunjung. Ratusan hotel mati suri. Akibatnya, ribuan karyawan kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal pekan ini menunjukkan jumlah penduduk miskin per September 2020 mencapai 27,55 juta orang, atau naik 1,13 juta orang dari Maret 2020.

Kemiskinan bertambah antara lain, karena 29,12 juta penduduk usia kerja terdampak Pandemi, termasuk 2,56 juta orang menjadi penganggur. Akibatnya, per Agustus 2020 jumlah penganggur mencapai 9,77 juta orang.

Supaya kehidupan orang miskin dan penganggur tak semakin memburuk, untuk mereka mesti disiapkan lapangan kerja. Sebab, bantuan sosial saja tidak cukup.

Salah satu solusi yang paling memungkinkan,mereka ditampung di proyek-proyek padat karya.

Oleh karena itu, kita berharap Kementerian PUPR, Kementerian Perhubungan dan BUMN Karya sesegera mungkin menyiapkan proyek padat karya.

 

Proyek-proyek tersebut mesti dibuat tersebar di desa-desa dan perkampungan padat penduduk. Proyek yang layak dikerjakan antara lain, perbaikan saluran irigasi, jalan desa dan infrastruktur sanitasi.

Supaya lebih banyak lagi penganggur bisa ditampung, pembangunan jalan kabupaten dan provinsi sebaiknya juga dilaksanakan dengan proyek padat karya.

Pandemi Covid-19 diperkirakan baru akan berakhir pertengahan tahun 2022. Karena masa Pandemi ini masih panjang, maka proyek-proyek padat karya mesti disiapkan minimal untuk satu tahun ke depan.

Kalau para penganggur bisa bekerja di proyek padat karya dengan upah Rp 100 ribu per hari atau Rp 2,5 juta per bulan, mereka akan tertolong. Para penganggur bisa membeli beras dan lauk pauk untuk makan sehari-hari.

Oleh karena itu, kita berharap pihak Kemenkeu mendukung penuh anggaran proyek padat karya.

Kita pun berharap, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota ikut aktif membuat proyek-proyek padat karya. Bisa dalam bentuk proyek perbaikan sanitasi kota, saluran air maupun fasilitas umum untuk rakyat kecil.

Ke depan diharapkan setiap keluarga miskin sedikitnya bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 2,5 juta per bulan.

Pandemi memang telah merusak hampir semua sendi kehidupan masyarakat. Tapi agar orang miskin dan para penganggur bisa selamat dari ancaman kelaparan, maka jalan pintas yang bisa ditempuh adalah membuat sebanyak mungkin proyek padat karya.

Dan, supaya anggaran yang dikucurkan tidak bocor, pihak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mesti proaktif mengawasi proyek proyek padat karya. (*)
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories