Pengamat: Ketua Umum Partai Berpeluang Jadi Capres 2024

Hasil survei Indikator Politik Indonesia menyebutkan sejumlah tokoh masuk dalam bursa Calon Presiden (Capres) 2024 di mata anak muda. Meski demikian, dari nama-nama yang muncul tersebut, sosok ketua umum partai politik dinilai paling berpeluang untuk maju dalam kontestasi pilpres mendatang.

Merujuk hasil survei Indikator Politik Indonesia, setidaknya ada empat ketua umum partai masuk dalam bursa calon presiden di mata pemilih muda. Mereka adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Selain nama ketua umum partai, sejumlah nama kepala daerah juga muncul dalam survei ini. Di antaranya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Pengamat politik Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) Suciliani Octavia menyatakan, jika berbicara peluang pencalonan, nama ketua umum partai memiliki tiket lebih besar dibandingkan sosok yang bukan elite partai. Sebab, hanya melalui partai politiklah calon presiden dapat diajukan.

Perempuan yang kerap dipanggil Suci ini menjelaskan, tidak adanya jalur persorangan dalam pemilihan presiden menjadikan partai politik sebagai pemilik tiket satu satunya untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden. “Meskipun calon dengan popularitas dan elektabilitas tinggi, jika tidak didukung partai, peluangnya di pemilu 2024 akan pupus,” ungkap Suci.

Artinya, peluang sejumlah nama, meskipun elektabilitasnya masih di papan tengah maupun bawah, selama ia berada dalam kursi kekuasaan partai, akan menjadi penentu bandul politik di 2024. Suci juga menambahkan, meski aspek elektabilitas figur penting namun pada Pilpres 2024 nanti predisksinya tetap ditentukan oleh faktor partai-partai besar atau faktor koalisi partai-partai.

Hal ini disebabkan belum adanya figur populer yang muncul secara kuat sebagaimana misalnya figur Jokowi saat Pilpres 2014 lalu.

“Pilpres 2024 bisa saja muncul kandidat kejutan yang tidak disangka. Namun figur Jokowi masih sangat populer saat ini, selain figur Prabowo. Namun secara keseluruhan nama-nama yang muncul tidak sekuat ketika dulu Jokowi muncul di Pilpres 2014. Artinya faktor Ketua Umum partai atau koalisi partai-partai dalam mendukung figur tertentu akan sangat menentukan,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat politik yang juga Executive Director Poldata Indonesia, Fajar Arif Budiman. Fajar menyebutkan masih sangat dini menilai nama-nama kandidat capres yang berkembang saat ini.

Apalagi jika ukurannya anak muda. Mereka punya kecenderungan lebih rasional dalam menentukan pilihan politik. Oleh karena itu, terkait pilihan politik anak muda terhadap partai politik, akan cenderung pada seberapa banyak idealisme anak muda diakomodir oleh figur atau partai tertentu, apakah melalui program atau figur.

“Partai yang menurut mereka prospektif dan atraktif akan mendapat perhatian utama. Ini kesempatan bagi para ketua umum yang jeli melihat peluang ini. Anak muda hari-hari ini dan situasi seperti ini butuh semacam kepastian sosial ekonomi”, ungkap Fajar.

Fajar menyatakan, belum tentu anak muda mendukung partai politik yang sibuk mencitrakan dirinya sebagai partai anak muda. Kenyataannya banyak anak muda tidak memilih partai tersebut. Hal ini tercermin dari hasil Pemilu 2019 lalu. [TIF]

]]> Hasil survei Indikator Politik Indonesia menyebutkan sejumlah tokoh masuk dalam bursa Calon Presiden (Capres) 2024 di mata anak muda. Meski demikian, dari nama-nama yang muncul tersebut, sosok ketua umum partai politik dinilai paling berpeluang untuk maju dalam kontestasi pilpres mendatang.

Merujuk hasil survei Indikator Politik Indonesia, setidaknya ada empat ketua umum partai masuk dalam bursa calon presiden di mata pemilih muda. Mereka adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Selain nama ketua umum partai, sejumlah nama kepala daerah juga muncul dalam survei ini. Di antaranya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Pengamat politik Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) Suciliani Octavia menyatakan, jika berbicara peluang pencalonan, nama ketua umum partai memiliki tiket lebih besar dibandingkan sosok yang bukan elite partai. Sebab, hanya melalui partai politiklah calon presiden dapat diajukan.

Perempuan yang kerap dipanggil Suci ini menjelaskan, tidak adanya jalur persorangan dalam pemilihan presiden menjadikan partai politik sebagai pemilik tiket satu satunya untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden. “Meskipun calon dengan popularitas dan elektabilitas tinggi, jika tidak didukung partai, peluangnya di pemilu 2024 akan pupus,” ungkap Suci.

Artinya, peluang sejumlah nama, meskipun elektabilitasnya masih di papan tengah maupun bawah, selama ia berada dalam kursi kekuasaan partai, akan menjadi penentu bandul politik di 2024. Suci juga menambahkan, meski aspek elektabilitas figur penting namun pada Pilpres 2024 nanti predisksinya tetap ditentukan oleh faktor partai-partai besar atau faktor koalisi partai-partai.

Hal ini disebabkan belum adanya figur populer yang muncul secara kuat sebagaimana misalnya figur Jokowi saat Pilpres 2014 lalu.

“Pilpres 2024 bisa saja muncul kandidat kejutan yang tidak disangka. Namun figur Jokowi masih sangat populer saat ini, selain figur Prabowo. Namun secara keseluruhan nama-nama yang muncul tidak sekuat ketika dulu Jokowi muncul di Pilpres 2014. Artinya faktor Ketua Umum partai atau koalisi partai-partai dalam mendukung figur tertentu akan sangat menentukan,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat politik yang juga Executive Director Poldata Indonesia, Fajar Arif Budiman. Fajar menyebutkan masih sangat dini menilai nama-nama kandidat capres yang berkembang saat ini.

Apalagi jika ukurannya anak muda. Mereka punya kecenderungan lebih rasional dalam menentukan pilihan politik. Oleh karena itu, terkait pilihan politik anak muda terhadap partai politik, akan cenderung pada seberapa banyak idealisme anak muda diakomodir oleh figur atau partai tertentu, apakah melalui program atau figur.

“Partai yang menurut mereka prospektif dan atraktif akan mendapat perhatian utama. Ini kesempatan bagi para ketua umum yang jeli melihat peluang ini. Anak muda hari-hari ini dan situasi seperti ini butuh semacam kepastian sosial ekonomi”, ungkap Fajar.

Fajar menyatakan, belum tentu anak muda mendukung partai politik yang sibuk mencitrakan dirinya sebagai partai anak muda. Kenyataannya banyak anak muda tidak memilih partai tersebut. Hal ini tercermin dari hasil Pemilu 2019 lalu. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories