Pengalaman Jalani Vaksinasi Covid Alhamdulillah, Nggak Merasakan Efek Samping Apapun…

Saya satu dari sekitar 30 wartawan yang beruntung menjalani proses vaksinasi Covid-19 duluan di KPK, ketimbang teman-teman wartawan di pos lain, yang masih menunggu giliran. Daftarnya, seminggu sebelumnya, lewat email. Vaksinasinya, Selasa (23/2) kemarin. 

Ketika mendengar kata vaksinasi, yang pertama terlintas di benak saya, mungkin, sama dengan sebagian masyarakat; “aman nggak ya?”.

Apalagi, belakangan saya kerap dilanda sakit. Badan demam, perut tidak enak, dan sedikit batuk. Saya paranoid parah. Dari dugaan Covid, sampai gangguan ginjal, yang saya diagnosis sendiri by Google.

Nyaris saja saya urung ikut vaksinasi karena ini. Tapi istri, dan beberapa rekan kerja, salah satunya Pimred RM.id, mba Hesti, terus menyemangati saya.

Mulailah saya memberanikan diri untuk melakukan tes antigen sekaligus medical check up, hanya sehari sebelum vaksinasi. Alhamdulillah, hasilnya baik. Covid, negatif, hasil medical check up memuaskan. Tak ada masalah kesehatan yang serius, kecuali sedikit kolesterol berlebih.

Meski begitu, tak berarti saya langsung semangat divaksin. Sudah datang ke KPK, Selasa (23/2), saya masih “maju-mundur”. Vaksinasi untuk wartawan dijadwalkan dimulai sejak pukul 9 pagi, hingga 12 siang.

Dalam rentang waktu itu, saya belum memutuskan. Cuma duduk di kantin, sebelah Gedung Penunjang KPK, tempat vaksinasi digelar, sambil tanya teman-teman yang sudah duluan disuntik.

Salah satunya, fotografer Rakyat Merdeka, Tedy Kroen. “Aman bung. Saya nggak apa-apa nih,” kata Tedy, berupaya meyakinkan saya. Tedy, jadi karyawan pertama di Rakyat Merdeka yang melakukan vaksinasi Corona. 

Akhirnya, beberapa menit sebelum pukul 1 siang, saya bersama tiga wartawan yang kesiangan, mendaftar juga. Syukur, masih diterima. Saat itu, para petugas kesehatan dan vaksinatornya sedang istirahat makan siang.

Kondisi lapangan atau hall di lantai 3 Gedung Penunjang, lengang. Hanya kami dan dua pegawai KPK yang saat itu antre menunggu giliran. Saya dapat nomor 268.

Ada empat meja administrasi, empat meja wawancara dan cek tensi darah, serta empat bilik untuk suntik. Pukul 1 tepat, para nakes dan vaksinator sudah kembali. Kami berempat langsung dipanggil.

Tahap pertama, ke meja administrasi. Berdua-berdua. Cuma didata singkat, plus menunjukkan KTP. Hanya memakan waktu sekitar 5 menit di meja ini. Lanjut kemudian ke depan meja wawancara, yang berada persis di depan bilik suntik. Kali ini, sendirian.

Di sini, nakes yang ber-APD lengkap menanyakan beberapa hal soal kondisi kesehatan. Beberapa di antaranya, apakah kita sudah pernah positif terpapar Corona? Kemudian, apakah ada alergi? Serta, ada riwayat sakit apa? Ditanya-tanya sambil diukur tensi darahnya. Hasilnya 110, bagus kata nakes itu.

Di bagian ini saya agak lama karena harus menerangkan soal demam, hingga riwayat penyakit asma yang saya derita. Sekitar 15 menit saya menjalani proses wawancara ini. Ujungnya, setelah menunjukkan hasil tes antigen dan medical check up, akhirnya saya diizinkan untuk disuntik.

Di balik bilik yang ditutup tirai putih ini, ada dua vaksinator, yang juga mengenakan APD lengkap. Tak banyak bicara, salah satu di antaranya langsung menyiapkan alat suntik. “Sakit nggak mba?” tanya saya, agak cemas, ingat imunisasi di Sekolah Dasar alias SD. “Sakit lah mas, namanya disuntik. Mas dicubit sakit nggak?” jawab si vaksinator sambil tertawa kecil.

Tangannya yang dibungkus sarung tangan lateks putih membuka botol vaksin Sinovac. Lalu disedot ke dalam suntikan. Kemudian, tak sampai 30 detik, vaksin sudah berpindah lewat jarum suntik ke lengan kiri saya. Nggak berasa. Soalnya saya fokus berpose dipotret Tedy. Hehehe. Wah, rasanya legaaaaa…

Selesai? Belum. Yang sudah divaksinasi tak boleh langsung turun. Saya dan teman-teman diarahkan ke sebuah ruangan dan disuruh menunggu selama 30 menit.Tujuannya, untuk memastikan tak ada efek samping atau KIPI yang dialami para penerima vaksin dalam rentang waktu itu.

Selama setengah jam, saya tak merasakan efek apapun. Kecuali, lapar. Itu pun karena saya memang belum makan dari pagi. Hahaha. Sementara beberapa teman mengaku lemas dan ngantuk.

Setelah selesai, kami dipanggil kembali ke meja petugas pemantau. Kemudian, kami diberikan kartu vaksinasi. Kartu ini wajib dibawa ketika kami akan melakukan vaksinasi kedua pada 9 Maret mendatang. Sekarang malah nggak sabaran mau langsung divaksinasi tahap kedua.

Tak ada pantangan makan dan minum usai vaksinasi. Tak ada pula efek sampingnya, buat saya. Seharian kerja dari KPK, Alhamdulillah, tak ada efek samping yang terasa. Sampai menulis ini pun, Rabu (24/2), saya masih merasa biasa saja. Jadi sekarang saya pede untuk bilang, jangan takut divaksinasi. InsyaAllah, aman…. Yuk… [OKT]

]]> Saya satu dari sekitar 30 wartawan yang beruntung menjalani proses vaksinasi Covid-19 duluan di KPK, ketimbang teman-teman wartawan di pos lain, yang masih menunggu giliran. Daftarnya, seminggu sebelumnya, lewat email. Vaksinasinya, Selasa (23/2) kemarin. 

Ketika mendengar kata vaksinasi, yang pertama terlintas di benak saya, mungkin, sama dengan sebagian masyarakat; “aman nggak ya?”.

Apalagi, belakangan saya kerap dilanda sakit. Badan demam, perut tidak enak, dan sedikit batuk. Saya paranoid parah. Dari dugaan Covid, sampai gangguan ginjal, yang saya diagnosis sendiri by Google.

Nyaris saja saya urung ikut vaksinasi karena ini. Tapi istri, dan beberapa rekan kerja, salah satunya Pimred RM.id, mba Hesti, terus menyemangati saya.

Mulailah saya memberanikan diri untuk melakukan tes antigen sekaligus medical check up, hanya sehari sebelum vaksinasi. Alhamdulillah, hasilnya baik. Covid, negatif, hasil medical check up memuaskan. Tak ada masalah kesehatan yang serius, kecuali sedikit kolesterol berlebih.

Meski begitu, tak berarti saya langsung semangat divaksin. Sudah datang ke KPK, Selasa (23/2), saya masih “maju-mundur”. Vaksinasi untuk wartawan dijadwalkan dimulai sejak pukul 9 pagi, hingga 12 siang.

Dalam rentang waktu itu, saya belum memutuskan. Cuma duduk di kantin, sebelah Gedung Penunjang KPK, tempat vaksinasi digelar, sambil tanya teman-teman yang sudah duluan disuntik.

Salah satunya, fotografer Rakyat Merdeka, Tedy Kroen. “Aman bung. Saya nggak apa-apa nih,” kata Tedy, berupaya meyakinkan saya. Tedy, jadi karyawan pertama di Rakyat Merdeka yang melakukan vaksinasi Corona. 

Akhirnya, beberapa menit sebelum pukul 1 siang, saya bersama tiga wartawan yang kesiangan, mendaftar juga. Syukur, masih diterima. Saat itu, para petugas kesehatan dan vaksinatornya sedang istirahat makan siang.

Kondisi lapangan atau hall di lantai 3 Gedung Penunjang, lengang. Hanya kami dan dua pegawai KPK yang saat itu antre menunggu giliran. Saya dapat nomor 268.

Ada empat meja administrasi, empat meja wawancara dan cek tensi darah, serta empat bilik untuk suntik. Pukul 1 tepat, para nakes dan vaksinator sudah kembali. Kami berempat langsung dipanggil.

Tahap pertama, ke meja administrasi. Berdua-berdua. Cuma didata singkat, plus menunjukkan KTP. Hanya memakan waktu sekitar 5 menit di meja ini. Lanjut kemudian ke depan meja wawancara, yang berada persis di depan bilik suntik. Kali ini, sendirian.

Di sini, nakes yang ber-APD lengkap menanyakan beberapa hal soal kondisi kesehatan. Beberapa di antaranya, apakah kita sudah pernah positif terpapar Corona? Kemudian, apakah ada alergi? Serta, ada riwayat sakit apa? Ditanya-tanya sambil diukur tensi darahnya. Hasilnya 110, bagus kata nakes itu.

Di bagian ini saya agak lama karena harus menerangkan soal demam, hingga riwayat penyakit asma yang saya derita. Sekitar 15 menit saya menjalani proses wawancara ini. Ujungnya, setelah menunjukkan hasil tes antigen dan medical check up, akhirnya saya diizinkan untuk disuntik.

Di balik bilik yang ditutup tirai putih ini, ada dua vaksinator, yang juga mengenakan APD lengkap. Tak banyak bicara, salah satu di antaranya langsung menyiapkan alat suntik. “Sakit nggak mba?” tanya saya, agak cemas, ingat imunisasi di Sekolah Dasar alias SD. “Sakit lah mas, namanya disuntik. Mas dicubit sakit nggak?” jawab si vaksinator sambil tertawa kecil.

Tangannya yang dibungkus sarung tangan lateks putih membuka botol vaksin Sinovac. Lalu disedot ke dalam suntikan. Kemudian, tak sampai 30 detik, vaksin sudah berpindah lewat jarum suntik ke lengan kiri saya. Nggak berasa. Soalnya saya fokus berpose dipotret Tedy. Hehehe. Wah, rasanya legaaaaa…

Selesai? Belum. Yang sudah divaksinasi tak boleh langsung turun. Saya dan teman-teman diarahkan ke sebuah ruangan dan disuruh menunggu selama 30 menit.Tujuannya, untuk memastikan tak ada efek samping atau KIPI yang dialami para penerima vaksin dalam rentang waktu itu.

Selama setengah jam, saya tak merasakan efek apapun. Kecuali, lapar. Itu pun karena saya memang belum makan dari pagi. Hahaha. Sementara beberapa teman mengaku lemas dan ngantuk.

Setelah selesai, kami dipanggil kembali ke meja petugas pemantau. Kemudian, kami diberikan kartu vaksinasi. Kartu ini wajib dibawa ketika kami akan melakukan vaksinasi kedua pada 9 Maret mendatang. Sekarang malah nggak sabaran mau langsung divaksinasi tahap kedua.

Tak ada pantangan makan dan minum usai vaksinasi. Tak ada pula efek sampingnya, buat saya. Seharian kerja dari KPK, Alhamdulillah, tak ada efek samping yang terasa. Sampai menulis ini pun, Rabu (24/2), saya masih merasa biasa saja. Jadi sekarang saya pede untuk bilang, jangan takut divaksinasi. InsyaAllah, aman…. Yuk… [OKT]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories