Pencegahan Kasus Covid-19 Harus Dioptimalkan Doni: Pengabdian Kita Jangan Setengah Hati!

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 kian fokus menekan virus Corona. Tak cuma mencegah penularannya, tapi juga berupaya agar pasien Covid-19 tidak meninggal.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengingatkan, seluruh pasukan penanganan Covid-19 di semua lapisan bekerja maksimal dan ikhlas.

Satgas di daerah harus meningkatkan pengawasan dan menekan kasus penularan. Kerja sama serta keterbukaan dari level terkecil sangat dibutuhkan.

“Tugas ini adalah tugas kemanusiaan, dharma bakti kita untuk negara, untuk masyarakat Indonesia. Tanpa ada kerja sama dan motivasi yang didasari dengan keikhlasan, nantinya akan sangat sulit,” ujar Doni dalam Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 secara virtual, tadi malam.

Dalam upaya pencegahan, maka semua arahan dari Satgas pusat untuk penanganan Covid-19 segera diimplementasikan. Upaya 3T, yakni testing, tracing dan treatment sangat harus digenjot. “Jika ada kendala segera komunikasikan,” tegas Doni.

Namun demikian, Doni menegaskan, dalam menjalankan tugas itu, harus didasari pada keikhlasan. Jangan sekadar formalitas atau dilakukan setengah hati. Sebab, tugas ini adalah tugas kemanusiaan.

“Kalau kita bekerja setengah hati, maka bisa dikatakan hasil tidak akan optimal,” ucap mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus itu.

“Tetapi kalau kita lakukan dengan tulus dan ikhlas, saya yakin seberat apa pun pasti akan bisa kita atasi,” imbuh Doni.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini juga mengingatkan seluruh Satgas untuk selalu siap dan stand by. Sebab, penanganan Covid-19 tidak pernah kenal waktu.

“Virus tidak mengenal siapa yang akan terpapar. Hari ini orangnya sehat, besok bisa jadi terpapar. Karena pandemi ini ancaman serius yang sudah terjadi di seluruh dunia,” ujar Doni, mengingatkan.

 

Menurutnya, sejak awal pandemi Covid-19, tidak ada negara yang siap menghadapi virus ini. Negara yang dikenal kuat pun tetap susah payah mengendalikan Covid-19.

“Korban berjatuhan. Karenanya, kita perlu belajar dari pengalaman yang sudah berjalan lebih dari setahun menangani Covid-19,” katanya.

Dia juga kembali meminta seluruh daerah fokus pada pencegahan. Saat memberikan arahan tersebut, Doni memang berkali-kali mengucapkan kata ‘pencegahan’.

“Penanganan Covid-19 harus kita optimalkan upaya pencegahan, pencegahan dan pencegahan. Karena ini penting dan Bapak Presiden juga sering menyampaikan ini,” tegasnya.

Untuk mencegah kasus ini meningkat, khususnya usai libur Lebaran, maka yang perlu dilakukan adalah sosialisasi pence­gahan. Cara itu, diingatkan Doni, tidak cukup hanya dikatakan sekali saja.

“Harus setiap hari, setiap jam, setiap menit terus mengingatkan dan saling mengingatkan,” seloroh Doni.

Jika kasus tidak dicegah, akan meningkat lebih tinggi sehingga energi yang akan dikeluarkan negara beserta rakyatnya akan lebih besar lagi.

Doni menyadari, upaya pencegahan ini harus dilakukan bersama. Kerja keras membangun kesadaran tidak hanya untuk individu, tetapi harus mem­bentuk kedisiplinan protokol kesehatan secara kolektif.

“Terima kasih atas kerja keras dan pengabdian yang luar biasa dari seluruh unsur dalam kolaborasi pentahelix berbasis komunitas,” ucap Doni.

Terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menetapkan pedoman pemeriksaan, pelacakan, karantina dan isolasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan RINomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

 

Budi Gunadi menegaskan, 3T merupakan satu proses rangkaian kegiatan berkesinambungan yang akan berhasil dilakukan jika dilakukan dengan cepat dan disiplin.

“Rangkaian proses ini membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaannya dan koordinasi antara unit pemerintah pada berbagai level,” ujar Budi Gunadi dalam keterangannya, kemarin.

Menurut dia, pemeriksaan harus ditingkatkan lebih dari satu orang per 1.000 penduduk setiap minggu jika ositivity rate masih tinggi.

Dalam hal deteksi Covid-19, pemeriksaan laboratorium diprioritaskan untuk kasus suspek, kontak erat, tenaga kesehatan dan masyarakat yang tinggal di fasilitas tertutup, sehingga memiliki risiko penularan tinggi.

Selanjutnya, pelacakan dilakukan oleh Puskesmas dan jejaringnya terhadap kontak erat dari kasus konfirmasi positif Covis-19.

Menurutnya, dalam melaksanakan pelacakan, Puskesmas dan jejaringnya dapat melibatkan tracer dari tenaga kesehatan maupun nonkesehatan.

Terkait karantina, kata Budi, dilakukan sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat atau memenuhi kriteria kasus suspek yang tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Karantina harus dimulai setelah seseorang diinformasikan tentang statusnya sebagai seorang kontak erat.

Idealnya, dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat dan dalam waktu tidak lebih dari 48 jam sejak kasus indeks terkonfirmasi. [JAR]

]]> Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 kian fokus menekan virus Corona. Tak cuma mencegah penularannya, tapi juga berupaya agar pasien Covid-19 tidak meninggal.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengingatkan, seluruh pasukan penanganan Covid-19 di semua lapisan bekerja maksimal dan ikhlas.

Satgas di daerah harus meningkatkan pengawasan dan menekan kasus penularan. Kerja sama serta keterbukaan dari level terkecil sangat dibutuhkan.

“Tugas ini adalah tugas kemanusiaan, dharma bakti kita untuk negara, untuk masyarakat Indonesia. Tanpa ada kerja sama dan motivasi yang didasari dengan keikhlasan, nantinya akan sangat sulit,” ujar Doni dalam Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Covid-19 secara virtual, tadi malam.

Dalam upaya pencegahan, maka semua arahan dari Satgas pusat untuk penanganan Covid-19 segera diimplementasikan. Upaya 3T, yakni testing, tracing dan treatment sangat harus digenjot. “Jika ada kendala segera komunikasikan,” tegas Doni.

Namun demikian, Doni menegaskan, dalam menjalankan tugas itu, harus didasari pada keikhlasan. Jangan sekadar formalitas atau dilakukan setengah hati. Sebab, tugas ini adalah tugas kemanusiaan.

“Kalau kita bekerja setengah hati, maka bisa dikatakan hasil tidak akan optimal,” ucap mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus itu.

“Tetapi kalau kita lakukan dengan tulus dan ikhlas, saya yakin seberat apa pun pasti akan bisa kita atasi,” imbuh Doni.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini juga mengingatkan seluruh Satgas untuk selalu siap dan stand by. Sebab, penanganan Covid-19 tidak pernah kenal waktu.

“Virus tidak mengenal siapa yang akan terpapar. Hari ini orangnya sehat, besok bisa jadi terpapar. Karena pandemi ini ancaman serius yang sudah terjadi di seluruh dunia,” ujar Doni, mengingatkan.

 

Menurutnya, sejak awal pandemi Covid-19, tidak ada negara yang siap menghadapi virus ini. Negara yang dikenal kuat pun tetap susah payah mengendalikan Covid-19.

“Korban berjatuhan. Karenanya, kita perlu belajar dari pengalaman yang sudah berjalan lebih dari setahun menangani Covid-19,” katanya.

Dia juga kembali meminta seluruh daerah fokus pada pencegahan. Saat memberikan arahan tersebut, Doni memang berkali-kali mengucapkan kata ‘pencegahan’.

“Penanganan Covid-19 harus kita optimalkan upaya pencegahan, pencegahan dan pencegahan. Karena ini penting dan Bapak Presiden juga sering menyampaikan ini,” tegasnya.

Untuk mencegah kasus ini meningkat, khususnya usai libur Lebaran, maka yang perlu dilakukan adalah sosialisasi pence­gahan. Cara itu, diingatkan Doni, tidak cukup hanya dikatakan sekali saja.

“Harus setiap hari, setiap jam, setiap menit terus mengingatkan dan saling mengingatkan,” seloroh Doni.

Jika kasus tidak dicegah, akan meningkat lebih tinggi sehingga energi yang akan dikeluarkan negara beserta rakyatnya akan lebih besar lagi.

Doni menyadari, upaya pencegahan ini harus dilakukan bersama. Kerja keras membangun kesadaran tidak hanya untuk individu, tetapi harus mem­bentuk kedisiplinan protokol kesehatan secara kolektif.

“Terima kasih atas kerja keras dan pengabdian yang luar biasa dari seluruh unsur dalam kolaborasi pentahelix berbasis komunitas,” ucap Doni.

Terpisah, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menetapkan pedoman pemeriksaan, pelacakan, karantina dan isolasi melalui Keputusan Menteri Kesehatan RINomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

 

Budi Gunadi menegaskan, 3T merupakan satu proses rangkaian kegiatan berkesinambungan yang akan berhasil dilakukan jika dilakukan dengan cepat dan disiplin.

“Rangkaian proses ini membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaannya dan koordinasi antara unit pemerintah pada berbagai level,” ujar Budi Gunadi dalam keterangannya, kemarin.

Menurut dia, pemeriksaan harus ditingkatkan lebih dari satu orang per 1.000 penduduk setiap minggu jika ositivity rate masih tinggi.

Dalam hal deteksi Covid-19, pemeriksaan laboratorium diprioritaskan untuk kasus suspek, kontak erat, tenaga kesehatan dan masyarakat yang tinggal di fasilitas tertutup, sehingga memiliki risiko penularan tinggi.

Selanjutnya, pelacakan dilakukan oleh Puskesmas dan jejaringnya terhadap kontak erat dari kasus konfirmasi positif Covis-19.

Menurutnya, dalam melaksanakan pelacakan, Puskesmas dan jejaringnya dapat melibatkan tracer dari tenaga kesehatan maupun nonkesehatan.

Terkait karantina, kata Budi, dilakukan sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat atau memenuhi kriteria kasus suspek yang tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Karantina harus dimulai setelah seseorang diinformasikan tentang statusnya sebagai seorang kontak erat.

Idealnya, dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat dan dalam waktu tidak lebih dari 48 jam sejak kasus indeks terkonfirmasi. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories