Pemulihan Ekonomi Akibat Pandemi Tak Selama Krisis 98 Senyum Sri Mulyani Mengembang

Pukulan pandemi Covid-19 terhadap ekonomi tidak sedalam yang ditakutkan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim, pemulihan ekonomi akibat Covid-19 ini, tidak akan lebih lama ketimbang dampak krisis 1998.

Hal itu disampaikan Sri Mulyani dalam Mandiri Investment Forum 2022, kemarin. Di acara itu, Sri Mulyani mengenang krisis moneter alias krismon yang menghantam Indonesia pada 1998. Saat itu, proses pemulihan membutuhkan waktu lama. Untuk mengembalikan Gross Domestic Product (GDP) ke posisi sebelum krisis, memakan waktu hingga 5 tahun. Sedangkan sektor manufakturnya perlu 3 tahun.

Sedangkan untuk krisis akibat pandemi, meski durasinya lebih lama dan banyak memakan korban, ternyata pemulihannya cepat. Dalam hitungan Sri Mulyani, hanya butuh waktu 2 tahun untuk mengembalikan posisi GDP seperti sebelum pandemi. Untuk sektor manufaktur, bahkan lebih cepat lagi, hanya butuh lima kuartal alias 15 bulan.

“Pandemi, meskipun menciptakan shock yang besar, namun proses pemulihan dari GDP hanya butuh 2 tahun saja atau kurang,” ucap Sri Mulyani, tersenyum. Senyumnya begitu mengambang.

Pemulihan yang signifikan ini diklaim tak lepas dari kebijakan pendukung dan instrumen yang dikeluarkan pemerintah. Dari sisi geografis, pemulihan juga diklaim cukup merata di seluruh wilayah. Seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua. Hanya Bali yang masih menderita, karena daerah ini sangat tergantung dari sektor pariwisata.

Meski begitu, kata Sri Mulyani, Pemerintah tidak hanya berusaha memulihkan di sisi angka, namun juga pada kualitas pertumbuhan. Dengan kata lain, pemulihan ekonomi harus disertai penurunan tingkat pengangguran, kemiskinan, dan gini rasio. Ketiga indikator tersebut menunjukkan kualitas pertumbuhan.

Sejauh ini, kualitas pertumbuhan Indonesia cukup baik. Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan gini ratio. “Pertumbuhan itu bisa menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, dan menciptakan pembangunan dan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat. Serta tidak menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara kaya dan miskin,” terang perempuan yang beberapa kali mendapat predikat Menteri Keuangan Terbaik dunia ini.

 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, ekonomi di kuartal IV-2021 tumbuh 5,02 persen, naik 1,06 persen per kuartal. Sementara, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 mencapai 3,69 persen. Penopang pertumbuhan ini didominasi konsumsi rumah tangga yang tumbuh 3,55 persen.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengamini pernyataan Sri Mulyani. Ia sepakat, pemulihan setelah pandemi bisa lebih cepat dari krisis 1998, karena kedalaman krisisnya tidak separah 23 tahun silam.

Jika ekonomi tahun 2020 hanya minus 2 persen, di 1998 mencapai minus 13 persen. Pada 2021, ekonominya sudah tumbuh 3,69 persen. Sedangkan di 1999, pertumbuhannya hanya 0,79 persen.

“Tapi, apakah tidak sampai dua tahun sudah pulih? Itu masih sangat besar ketidakpastiannya. Sebab, pandeminya juga belum berakhir. Jadi, pemulihannya bisa lebih dari dua tahun,” ulas Faisal, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Terlebih, lanjut dia, tantangan di sektor ekonomi sebelum pandemi saja sudah banyak. Karena itu, Pemerintah perlu memerhatikan kebijakan yang diterbitkan. Seperti kebijakan fiskal dan moneter. Jika cenderung ketat, pemulihan ekonomi otomatis lambat.

Anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno mengakui, dari segi kelembagaan, koordinasi lintas sektor dan kebijakan fiskal maupun moneter saat ini jauh lebih baik dibanding 1998. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan juga sudah tersedia. Komunikasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sudah dilembagakan.

Hanya saja, kata Hendrawan, sekuat apa pun ekonomi domestik ingin pulih, masih tergantung aspek internal. Karena itu, arus investasi ke sektor riil harus digenjot dan kurs dijaga. “Bila ekonomi tumbuh karena inflasi, terus suku bunga naik, pertumbuhan tidak akan maksimal,” terang politisi PDIP ini. [MEN]

]]> Pukulan pandemi Covid-19 terhadap ekonomi tidak sedalam yang ditakutkan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim, pemulihan ekonomi akibat Covid-19 ini, tidak akan lebih lama ketimbang dampak krisis 1998.

Hal itu disampaikan Sri Mulyani dalam Mandiri Investment Forum 2022, kemarin. Di acara itu, Sri Mulyani mengenang krisis moneter alias krismon yang menghantam Indonesia pada 1998. Saat itu, proses pemulihan membutuhkan waktu lama. Untuk mengembalikan Gross Domestic Product (GDP) ke posisi sebelum krisis, memakan waktu hingga 5 tahun. Sedangkan sektor manufakturnya perlu 3 tahun.

Sedangkan untuk krisis akibat pandemi, meski durasinya lebih lama dan banyak memakan korban, ternyata pemulihannya cepat. Dalam hitungan Sri Mulyani, hanya butuh waktu 2 tahun untuk mengembalikan posisi GDP seperti sebelum pandemi. Untuk sektor manufaktur, bahkan lebih cepat lagi, hanya butuh lima kuartal alias 15 bulan.

“Pandemi, meskipun menciptakan shock yang besar, namun proses pemulihan dari GDP hanya butuh 2 tahun saja atau kurang,” ucap Sri Mulyani, tersenyum. Senyumnya begitu mengambang.

Pemulihan yang signifikan ini diklaim tak lepas dari kebijakan pendukung dan instrumen yang dikeluarkan pemerintah. Dari sisi geografis, pemulihan juga diklaim cukup merata di seluruh wilayah. Seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua. Hanya Bali yang masih menderita, karena daerah ini sangat tergantung dari sektor pariwisata.

Meski begitu, kata Sri Mulyani, Pemerintah tidak hanya berusaha memulihkan di sisi angka, namun juga pada kualitas pertumbuhan. Dengan kata lain, pemulihan ekonomi harus disertai penurunan tingkat pengangguran, kemiskinan, dan gini rasio. Ketiga indikator tersebut menunjukkan kualitas pertumbuhan.

Sejauh ini, kualitas pertumbuhan Indonesia cukup baik. Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi mampu mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan gini ratio. “Pertumbuhan itu bisa menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, dan menciptakan pembangunan dan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat. Serta tidak menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara kaya dan miskin,” terang perempuan yang beberapa kali mendapat predikat Menteri Keuangan Terbaik dunia ini.

 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, ekonomi di kuartal IV-2021 tumbuh 5,02 persen, naik 1,06 persen per kuartal. Sementara, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 mencapai 3,69 persen. Penopang pertumbuhan ini didominasi konsumsi rumah tangga yang tumbuh 3,55 persen.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengamini pernyataan Sri Mulyani. Ia sepakat, pemulihan setelah pandemi bisa lebih cepat dari krisis 1998, karena kedalaman krisisnya tidak separah 23 tahun silam.

Jika ekonomi tahun 2020 hanya minus 2 persen, di 1998 mencapai minus 13 persen. Pada 2021, ekonominya sudah tumbuh 3,69 persen. Sedangkan di 1999, pertumbuhannya hanya 0,79 persen.

“Tapi, apakah tidak sampai dua tahun sudah pulih? Itu masih sangat besar ketidakpastiannya. Sebab, pandeminya juga belum berakhir. Jadi, pemulihannya bisa lebih dari dua tahun,” ulas Faisal, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Terlebih, lanjut dia, tantangan di sektor ekonomi sebelum pandemi saja sudah banyak. Karena itu, Pemerintah perlu memerhatikan kebijakan yang diterbitkan. Seperti kebijakan fiskal dan moneter. Jika cenderung ketat, pemulihan ekonomi otomatis lambat.

Anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno mengakui, dari segi kelembagaan, koordinasi lintas sektor dan kebijakan fiskal maupun moneter saat ini jauh lebih baik dibanding 1998. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan juga sudah tersedia. Komunikasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sudah dilembagakan.

Hanya saja, kata Hendrawan, sekuat apa pun ekonomi domestik ingin pulih, masih tergantung aspek internal. Karena itu, arus investasi ke sektor riil harus digenjot dan kurs dijaga. “Bila ekonomi tumbuh karena inflasi, terus suku bunga naik, pertumbuhan tidak akan maksimal,” terang politisi PDIP ini. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories