Pemprov DKI Mau Bikin Rumah Panggung Warga Cipinang Ngeluh, Tiga Kali Banjir Nggak Ada Solusi

Hujan deras yang terjadi selama dua hari (Rabu-Kamis) membuat wilayah Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, kebanjiran. Hingga April, kawasan yang diklaim Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ini bebas banjir, ternyata sudah tiga kali terendam air.

Kali ini banjir menggenang di dua RW. Yakni di RW 03 dan 04. Sejumlah RT di dua wilayah itu juga terdampak banjir. Banjir kemarin disebabkan hujan dengan intensitas tinggi, bukan kiriman air dari daerah lain.

Hujan deras sejak Rabu siang (14/4) dan berhenti sebelum buka puasa membuat air sungai naik dan meluber ke permukiman. Namun, pada Kamis dini hari (15/4), banjir sudah mulai surut.

“Jam 10 malam itu banjir, sempat sepinggang orang dewasa,” tutur Adi, warga RW 04, Rabu (14/4).

Setelah surut, banjir menyisakan lumpur di dalam rumah warga di lima RT, yakni RT 10 hingga RT 14 di RW 03. Warga pun langsung mengeluarkan lumpur dari dalam rumah. Petugas kebersihan turut membantu. Mengangkut sampah yang menghalangi Kali Sunter.

Tercatat, 10 RT terendam banjir di Cipinang Melayu ini. Ada 25 keluarga yang sempat mengungsi. Ketua RW 03 Lukman Suprapto mengakui, banjir melanda lima RT di wilayahnya dengan ketinggian maksimal 80 centimeter. Tapi ada juga yang mecapai 1 meter, yakni di RT 10.

Warga pun sempat mengungsi di Masjid Jami Al-Muqorrobin di Cipinang Melayu saat air mulai meluber. Setelah surut, pagi harinya, warga yang sempat mengungsi, kembali ke rumah. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dan Lembaga Musyawarah Kelurahan Cipinang Melayu juga membuka tenda darurat.

Warga berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya solusi banjir langganan di wilayah mereka. Agar Kali Sunter tak meluap setiap kali hujan dengan intensitas tinggi.

“Air masuk sampai semeter. Saya terpaksa mengungsi sampai pagi di kantor RW. Semoga banjir tak kembali datang setiap hujan deras. Semoga ada solusinya. Soalnya ini sudah tiga kali selama tahun 2021,” curhat Yanti, warga RT 10, RW 03, Cipinang Melayu ini.

Di wilayah ini masih mengandalkan pompa untuk menyedot air hujan yang meluber keluar sungai. Ada lima pompa air yang dioperasikan untuk menyedot banjir di RW 04. Banjir pun berhasil surut dini hari.

Pusat pompa berada di RT 01, wilayah yang dekat dengan bendungan dan langsung dibuang ke Kalimalang. Jika wilayah ini surut, otomatis RT lain ikut surut karena di RT 01 inilah muaranya.

Kepala Seksi Operasional Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur, Gatot Sulaiman juga menambahkan, total ada 9 unit mobil pemadam dengan 45 personel diterjunkan ke Cipinang Melayu untuk menyedot air.

Dari catatannya, awal penyedotan dilakukan pada pukul 19.00 WIB. Sekitar pukul 02.00 WIB sudah tidak ada genangan di Cipinang Melayu.

 

Gatot mengatakan, proses penyedotan sempat terkendala akses menuju ke lokasi banjir dengan kondisi lalu lintas yang padat.

Total ada 45 personel yang dikerahkan untuk menyedot banjir akibat luapan Kali Sunter di wilayah Cipinang Melayu tersebut. “Kita kerahkan satu unit light rescue dan delapan unit quick response,” ujar Gatot.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota dan jajarannya telah mengantisipasi datangnya banjir setelah perkiraan cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Petugas gerak cepat menangani banjir dan genangan di berbagai jalan dan wilayah,” kata Riza di Balai Kota.

Menurutnya, Pemprov, Badan Penanggulangan Banjir Daerah (BPBD), semua sudah menyiapkan upaya early warning system, memberitahukan, sosialisasi, menyiapkan semua perangkat pendukung dalam rangka pencegahan, pengurangan, mitigasi dan sebagainya.

Selain itu, Riza menyebut, kontur tanah di sejumlah wilayah Ibu Kota rendah, akhirnya banjir pun tak terhindarkan saat hujan dengan intensitas tinggi. Seperti kontur tanah rendah di Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Salah satu penyebab kontur tanah rendah di Cipinang Melayu karena proyek pengerukan tanah. Wilayah Cipinang Melayu dikeruk untuk pembangunan Gelora Bung Karno (GBK).

“Zaman dulu waktu kita bangun GBK diuruk. Uruknya dari mana, dari tempat-tempat Kalibata dan sebagainya, sehingga menjadi kubangan,” beber Riza.

Kubangan di Cipinang Melayu ini lantas diokupasi warga untuk mendirikan permukiman. Sebab, warga kesulitan mencari lahan hunian di Jakarta.

Banjir lalu rutin menerjang kawasan bekas kubangan yang kini berdiri rumah-rumah warga. “Kalau hujan, ya banjir lah, namanya kubangan,” tegas politisi Partai Gerindra ini.

Riza mengaku telah meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk mencari solusi terbaik di wilayah langganan banjir. Salah satu solusi yang direncanakan adalah membangun rumah susun panggung. Konsep rumah susun ini dibangun bertingkat dengan ruang kosong di sisi terbawah atau basement.

Ruang ini, menurut Riza, bisa menjadi tempat bermain anak atau aktivitas lainnya saat kondisi normal. Namun, fungsinya berubah menjadi tempat penampungan air ketika banjir datang. [FAQ]

]]> Hujan deras yang terjadi selama dua hari (Rabu-Kamis) membuat wilayah Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, kebanjiran. Hingga April, kawasan yang diklaim Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ini bebas banjir, ternyata sudah tiga kali terendam air.

Kali ini banjir menggenang di dua RW. Yakni di RW 03 dan 04. Sejumlah RT di dua wilayah itu juga terdampak banjir. Banjir kemarin disebabkan hujan dengan intensitas tinggi, bukan kiriman air dari daerah lain.

Hujan deras sejak Rabu siang (14/4) dan berhenti sebelum buka puasa membuat air sungai naik dan meluber ke permukiman. Namun, pada Kamis dini hari (15/4), banjir sudah mulai surut.

“Jam 10 malam itu banjir, sempat sepinggang orang dewasa,” tutur Adi, warga RW 04, Rabu (14/4).

Setelah surut, banjir menyisakan lumpur di dalam rumah warga di lima RT, yakni RT 10 hingga RT 14 di RW 03. Warga pun langsung mengeluarkan lumpur dari dalam rumah. Petugas kebersihan turut membantu. Mengangkut sampah yang menghalangi Kali Sunter.

Tercatat, 10 RT terendam banjir di Cipinang Melayu ini. Ada 25 keluarga yang sempat mengungsi. Ketua RW 03 Lukman Suprapto mengakui, banjir melanda lima RT di wilayahnya dengan ketinggian maksimal 80 centimeter. Tapi ada juga yang mecapai 1 meter, yakni di RT 10.

Warga pun sempat mengungsi di Masjid Jami Al-Muqorrobin di Cipinang Melayu saat air mulai meluber. Setelah surut, pagi harinya, warga yang sempat mengungsi, kembali ke rumah. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dan Lembaga Musyawarah Kelurahan Cipinang Melayu juga membuka tenda darurat.

Warga berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya solusi banjir langganan di wilayah mereka. Agar Kali Sunter tak meluap setiap kali hujan dengan intensitas tinggi.

“Air masuk sampai semeter. Saya terpaksa mengungsi sampai pagi di kantor RW. Semoga banjir tak kembali datang setiap hujan deras. Semoga ada solusinya. Soalnya ini sudah tiga kali selama tahun 2021,” curhat Yanti, warga RT 10, RW 03, Cipinang Melayu ini.

Di wilayah ini masih mengandalkan pompa untuk menyedot air hujan yang meluber keluar sungai. Ada lima pompa air yang dioperasikan untuk menyedot banjir di RW 04. Banjir pun berhasil surut dini hari.

Pusat pompa berada di RT 01, wilayah yang dekat dengan bendungan dan langsung dibuang ke Kalimalang. Jika wilayah ini surut, otomatis RT lain ikut surut karena di RT 01 inilah muaranya.

Kepala Seksi Operasional Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur, Gatot Sulaiman juga menambahkan, total ada 9 unit mobil pemadam dengan 45 personel diterjunkan ke Cipinang Melayu untuk menyedot air.

Dari catatannya, awal penyedotan dilakukan pada pukul 19.00 WIB. Sekitar pukul 02.00 WIB sudah tidak ada genangan di Cipinang Melayu.

 

Gatot mengatakan, proses penyedotan sempat terkendala akses menuju ke lokasi banjir dengan kondisi lalu lintas yang padat.

Total ada 45 personel yang dikerahkan untuk menyedot banjir akibat luapan Kali Sunter di wilayah Cipinang Melayu tersebut. “Kita kerahkan satu unit light rescue dan delapan unit quick response,” ujar Gatot.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota dan jajarannya telah mengantisipasi datangnya banjir setelah perkiraan cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Petugas gerak cepat menangani banjir dan genangan di berbagai jalan dan wilayah,” kata Riza di Balai Kota.

Menurutnya, Pemprov, Badan Penanggulangan Banjir Daerah (BPBD), semua sudah menyiapkan upaya early warning system, memberitahukan, sosialisasi, menyiapkan semua perangkat pendukung dalam rangka pencegahan, pengurangan, mitigasi dan sebagainya.

Selain itu, Riza menyebut, kontur tanah di sejumlah wilayah Ibu Kota rendah, akhirnya banjir pun tak terhindarkan saat hujan dengan intensitas tinggi. Seperti kontur tanah rendah di Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Salah satu penyebab kontur tanah rendah di Cipinang Melayu karena proyek pengerukan tanah. Wilayah Cipinang Melayu dikeruk untuk pembangunan Gelora Bung Karno (GBK).

“Zaman dulu waktu kita bangun GBK diuruk. Uruknya dari mana, dari tempat-tempat Kalibata dan sebagainya, sehingga menjadi kubangan,” beber Riza.

Kubangan di Cipinang Melayu ini lantas diokupasi warga untuk mendirikan permukiman. Sebab, warga kesulitan mencari lahan hunian di Jakarta.

Banjir lalu rutin menerjang kawasan bekas kubangan yang kini berdiri rumah-rumah warga. “Kalau hujan, ya banjir lah, namanya kubangan,” tegas politisi Partai Gerindra ini.

Riza mengaku telah meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk mencari solusi terbaik di wilayah langganan banjir. Salah satu solusi yang direncanakan adalah membangun rumah susun panggung. Konsep rumah susun ini dibangun bertingkat dengan ruang kosong di sisi terbawah atau basement.

Ruang ini, menurut Riza, bisa menjadi tempat bermain anak atau aktivitas lainnya saat kondisi normal. Namun, fungsinya berubah menjadi tempat penampungan air ketika banjir datang. [FAQ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories