Pemilih Muda Diprediksi 75,49 Juta Jiwa Cak Imin Kudu Gaul Sama Kaum Milenial

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin punya modal untuk menggaet suara pemilih muda alias GenZ.

Direktur Eksekutif Lembaga Analis Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik (Lanskap) Indonesia Agung Wasana mengatakan, modal Cak Imin meraih suara pemilih muda karena sebagai ketua umum partai, Imin juga Wakil Ketua DPR Bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

“Konsistensi Cak Imin memperjuangkan pendidikan murah dan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bisa menjadi modal besar mendapatkan dukungan dari GenZ,” ujar Agung di acara Ngobras Ramadan yang digelar Institut Kebangsaan di Jakarta, kemarin.

Selain itu, setahu Agung, Cak Imin juga mempelopori generasi muda karena peranannya sebagai ketua umum parpol pertama yang datang di acara Conferenc of Parties (COP 25) yang digelar di Madrid, Spanyol, dua tahun lalu.

Itu forum tertinggi perubahan iklim dunia. Peranan dan komitmen Cak Imin di isu lingkungan ini, menjadi modal jika ingin maju sebagai Calon Presiden (capres) 2024.

“Inilah posisi unik dan kesempatan yang sangat terbuka untuk Cak Imin,” ujarnya.

Agung menjelaskan, GenZ akan menjadi penentu pemenang, baik itu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

Agung memprediksi pada Pemilu 2024, pemilih muda ini akan berjumlah 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen suara pemilih.

Masalahnya, GenZ belum bisa memilih calon pemimpin karena tidak memiliki parameter capaian kinerja. Nah, seorang pemimpin yang dapat memberikan aspirasi terhadap generasi muda inilah yang bisa mendapatkan dukungan dari GenZ.

Pendapat berbeda diungkapkan Direktur Eksekutif Alvara Research Center Hasanuddin Ali. Dia menganalisa, generasi milenial merupakan populasi terbesar saat Indonesia memasuki usia emas di tahun 2045. Potensi suara mereka yang sangatbesar selalu menarik jika dikaitkan dengan Pilpres 2024.

 

Hitungannya, gabungan generasi milenial dan GenZ menjadi separuh lebih total pemilih di Pemilu 2024. Tentunya, diperlukan cara pendekatan yang unik agar seorang calon pemimpin meraih simpati milenal dan GenZ ini.

“Jadi kalau ditanya ke milenial, figur seperti apa yang akan dipilih, susah dijelaskan. Dibutuhkan cara jitu untuk bisa berhubungan dengan generasi ini,” katanya.

Hasanuddin merincikan, ada beberapa hal yang akan mendapatkan perhatian pemilih muda. Yaitu, isu kualitas pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan, transportasi dan tata kelola pemerintahan.

“Jadi kuncinya, figur-figur yang bisa bicara jelas tentang ini pasti mendapatkan perhatian generasi GenZ,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, ada seni tersendiri bagi calon presiden jika ingin meraih suara mile­nial. Pasalnya, anak muda itu cenderung apatis, walaupun sebenarnya mereka melek politik. Selain itu, suara milenial susah ditebak.

“Berteman dan bergaul dengan milenial adalah kunci. Keputusan memilih akan ditentukan menjelang pencoblosan,” tukasnya.

Selain itu, hal yang cukup menentukan kemenangan di Pilpres nanti harus melek teknologi. Karena itu, menggunakan platform digital adalah pilihan yang harus digunakan seorang capres.

Politisi PKB Idham Arsyad menyambut baik hasil diskusi ini. Baginya, Cak Imin memang melekat dengan anak muda. Bahkan, Cak Imin pernah menjadi Wakil Ketua DPR termuda hasil Pemilu 1999, yakni di usia 32 tahun.

“Tidak hanya berpotensi meraih suara muda, kader PKB juga siap memenangkan beliau,” ujar Ketua Umum Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) ini kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [BSH]

]]> Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin punya modal untuk menggaet suara pemilih muda alias GenZ.

Direktur Eksekutif Lembaga Analis Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik (Lanskap) Indonesia Agung Wasana mengatakan, modal Cak Imin meraih suara pemilih muda karena sebagai ketua umum partai, Imin juga Wakil Ketua DPR Bidang Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

“Konsistensi Cak Imin memperjuangkan pendidikan murah dan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup bisa menjadi modal besar mendapatkan dukungan dari GenZ,” ujar Agung di acara Ngobras Ramadan yang digelar Institut Kebangsaan di Jakarta, kemarin.

Selain itu, setahu Agung, Cak Imin juga mempelopori generasi muda karena peranannya sebagai ketua umum parpol pertama yang datang di acara Conferenc of Parties (COP 25) yang digelar di Madrid, Spanyol, dua tahun lalu.

Itu forum tertinggi perubahan iklim dunia. Peranan dan komitmen Cak Imin di isu lingkungan ini, menjadi modal jika ingin maju sebagai Calon Presiden (capres) 2024.

“Inilah posisi unik dan kesempatan yang sangat terbuka untuk Cak Imin,” ujarnya.

Agung menjelaskan, GenZ akan menjadi penentu pemenang, baik itu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

Agung memprediksi pada Pemilu 2024, pemilih muda ini akan berjumlah 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen suara pemilih.

Masalahnya, GenZ belum bisa memilih calon pemimpin karena tidak memiliki parameter capaian kinerja. Nah, seorang pemimpin yang dapat memberikan aspirasi terhadap generasi muda inilah yang bisa mendapatkan dukungan dari GenZ.

Pendapat berbeda diungkapkan Direktur Eksekutif Alvara Research Center Hasanuddin Ali. Dia menganalisa, generasi milenial merupakan populasi terbesar saat Indonesia memasuki usia emas di tahun 2045. Potensi suara mereka yang sangatbesar selalu menarik jika dikaitkan dengan Pilpres 2024.

 

Hitungannya, gabungan generasi milenial dan GenZ menjadi separuh lebih total pemilih di Pemilu 2024. Tentunya, diperlukan cara pendekatan yang unik agar seorang calon pemimpin meraih simpati milenal dan GenZ ini.

“Jadi kalau ditanya ke milenial, figur seperti apa yang akan dipilih, susah dijelaskan. Dibutuhkan cara jitu untuk bisa berhubungan dengan generasi ini,” katanya.

Hasanuddin merincikan, ada beberapa hal yang akan mendapatkan perhatian pemilih muda. Yaitu, isu kualitas pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan, transportasi dan tata kelola pemerintahan.

“Jadi kuncinya, figur-figur yang bisa bicara jelas tentang ini pasti mendapatkan perhatian generasi GenZ,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, ada seni tersendiri bagi calon presiden jika ingin meraih suara mile­nial. Pasalnya, anak muda itu cenderung apatis, walaupun sebenarnya mereka melek politik. Selain itu, suara milenial susah ditebak.

“Berteman dan bergaul dengan milenial adalah kunci. Keputusan memilih akan ditentukan menjelang pencoblosan,” tukasnya.

Selain itu, hal yang cukup menentukan kemenangan di Pilpres nanti harus melek teknologi. Karena itu, menggunakan platform digital adalah pilihan yang harus digunakan seorang capres.

Politisi PKB Idham Arsyad menyambut baik hasil diskusi ini. Baginya, Cak Imin memang melekat dengan anak muda. Bahkan, Cak Imin pernah menjadi Wakil Ketua DPR termuda hasil Pemilu 1999, yakni di usia 32 tahun.

“Tidak hanya berpotensi meraih suara muda, kader PKB juga siap memenangkan beliau,” ujar Ketua Umum Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) ini kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [BSH]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories