Pemerintah Siapkan Holding BUMN Pertahanan DEFEND ID Ditargetkan Masuk 50 Top Industri

Pemerintah tengah menyiapkan pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan. Rencananya, holding itu akan diberi nama DEFEND ID (Defence Industry Indonesia).

Ada lima perusahaan pelat merah bidang pertahanan yang disebut-sebut bergabung dalam holding itu. Yakni, PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, PT Pindad (Persero), PT PAL Indonesia (Persero), PT Dahana (Persero) dan PT Len Industri (Persero) sebagai holding com­pany (induk perusahaan).

Informasi itu dibenarkan Direktur Bisnis dan Kerjasama Len Industri Wahyu Sofiadi. Diungkapkannya, pihaknya kini tengah bertransformasi menjadi holding BUMN Industri Pertahanan Indonesia. “Lima perusahaan BUMN Pertahanan akan digabung dalam DEFEND ID oleh Kementerian BUMN,” ujarnya, melalui siaran pers, kemarin.

Dia menuturkan, pembentukan holding sebagai langkah untuk masuk ke global supply chain technology partner. Len Industri dan BUMN Industri Pertahanan lainnya memiliki rencana strate­gic partnership dengan industri pertahanan global di tiga matra (darat, laut, udara).

“Tujuannya, untuk meningkatkan penguasaan kompetensi kunci dan memandirikan industri per­tahanan dalam negeri,” kata dia.

Dia menuturkan, melalui langkah ini diharapkan akan berimbas pada peningkatan sustainability dan skala bisnis. Seperti adanya recurring income dari bisnis MRO (Maintenance, Repair & Overhaul), hingga pengurangan ketergantungan impor produk utama.

Bahkan, lanjut Wahyu, DE­FEND ID memiliki target ambisius dalam jangka waktu menengah ke depan. Yakni, menjadi Top 50 perusahaan bidang indus­tri pertahanan di dunia. Selain itu, holding ini juga mencanangkan target skor TRL & MRL (Technology Readiness Levels & Manufacturing Readiness Level) di angka 8-8 dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di atas 50 persen untuk proyek-proyek pertahanan.

Saat ini, untuk melakukan promosi produk-produk industri pertahanan di pasar luar negeri, khususnya di wilayah Uni Emirat Arab (UAE), Len Industri bersama PAL Indonesia, Pindad dan PTDI telah mengi­kuti Pameran IDEX & Navdex 2021 yang digelar pada 21-25 Februari 2021 di Abu Dhabi.

Keikutsertaan BUMN dalam pameran internasional 2 tahunan ini diinisiasi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), dengan mendiri­kan Paviliun Indonesia.

 

Menurut wahyu, kegiatan ini penting sebagai ajang temu dalam membangun jaringan mitra di luar negeri, terutama partner teknologi. Untuk itu, perseroan telah melakukan penandatanganan NDA (Non Disclosure Agreement) dan penjajakan kerja sama dengan Rohde & Schwarz pada Senin (22/2) untuk joint production and development alat komunikasi militer.

“Ini untuk membangun kemampuan network centric warfare TNI melalui sistem C4ISR (Command, Control, Communications, Com­puters, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) yang ter­integrasi,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Manajer Humas dan Kelembagaan Dahana, Juli Jajuli mengaku, pembentukan holding tersebut diharapkan bisa terealisasi tahun ini.

“Dahana sebagai anggota Holding DEFEND ID, akan berfokus pada bahan peledak dan terkait dengan bahan berenergi tinggi seperti propelan dan bom,” akunya kepada Rakyat Merdeka.

Saat ini, seluruh BUMN masih dalam tahap konsolidasi. Namun pada intinya, sambung dia, akan ada sinergitas untuk project yang saling berhubungan

“Sehingga bisa lebih efektif dalam mencapai target dari pemegang saham,” tandasnya.

Menyoal ini, Peneliti Militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, upaya holding pertahanan menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memperkuat sisi keamanan dalam negeri. Salah satunya ter­kait alutsista (alat utama sistem senjata) nasional.

“Kehadiran holding pertahanan bisa menjadi jawaban atas masalah kebutuhan peralatan pertahanan keamanan di Indonesia, yang selama ini harus impor,” tutur Khairul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Salah satunya adalah masalah bahan baku rompi anti peluru, yakni kevlar dan vestran, yang masih impor dari Belanda dan Korea Selatan dengan harga mahal.

“Harapannya, dengan adanya holding maka pengembangan industri pertahanan dalam negeri bukan omong kosong,” tegasnya. [IMA/DWI]

]]> Pemerintah tengah menyiapkan pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan. Rencananya, holding itu akan diberi nama DEFEND ID (Defence Industry Indonesia).

Ada lima perusahaan pelat merah bidang pertahanan yang disebut-sebut bergabung dalam holding itu. Yakni, PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, PT Pindad (Persero), PT PAL Indonesia (Persero), PT Dahana (Persero) dan PT Len Industri (Persero) sebagai holding com­pany (induk perusahaan).

Informasi itu dibenarkan Direktur Bisnis dan Kerjasama Len Industri Wahyu Sofiadi. Diungkapkannya, pihaknya kini tengah bertransformasi menjadi holding BUMN Industri Pertahanan Indonesia. “Lima perusahaan BUMN Pertahanan akan digabung dalam DEFEND ID oleh Kementerian BUMN,” ujarnya, melalui siaran pers, kemarin.

Dia menuturkan, pembentukan holding sebagai langkah untuk masuk ke global supply chain technology partner. Len Industri dan BUMN Industri Pertahanan lainnya memiliki rencana strate­gic partnership dengan industri pertahanan global di tiga matra (darat, laut, udara).

“Tujuannya, untuk meningkatkan penguasaan kompetensi kunci dan memandirikan industri per­tahanan dalam negeri,” kata dia.

Dia menuturkan, melalui langkah ini diharapkan akan berimbas pada peningkatan sustainability dan skala bisnis. Seperti adanya recurring income dari bisnis MRO (Maintenance, Repair & Overhaul), hingga pengurangan ketergantungan impor produk utama.

Bahkan, lanjut Wahyu, DE­FEND ID memiliki target ambisius dalam jangka waktu menengah ke depan. Yakni, menjadi Top 50 perusahaan bidang indus­tri pertahanan di dunia. Selain itu, holding ini juga mencanangkan target skor TRL & MRL (Technology Readiness Levels & Manufacturing Readiness Level) di angka 8-8 dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di atas 50 persen untuk proyek-proyek pertahanan.

Saat ini, untuk melakukan promosi produk-produk industri pertahanan di pasar luar negeri, khususnya di wilayah Uni Emirat Arab (UAE), Len Industri bersama PAL Indonesia, Pindad dan PTDI telah mengi­kuti Pameran IDEX & Navdex 2021 yang digelar pada 21-25 Februari 2021 di Abu Dhabi.

Keikutsertaan BUMN dalam pameran internasional 2 tahunan ini diinisiasi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), dengan mendiri­kan Paviliun Indonesia.

 

Menurut wahyu, kegiatan ini penting sebagai ajang temu dalam membangun jaringan mitra di luar negeri, terutama partner teknologi. Untuk itu, perseroan telah melakukan penandatanganan NDA (Non Disclosure Agreement) dan penjajakan kerja sama dengan Rohde & Schwarz pada Senin (22/2) untuk joint production and development alat komunikasi militer.

“Ini untuk membangun kemampuan network centric warfare TNI melalui sistem C4ISR (Command, Control, Communications, Com­puters, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) yang ter­integrasi,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Manajer Humas dan Kelembagaan Dahana, Juli Jajuli mengaku, pembentukan holding tersebut diharapkan bisa terealisasi tahun ini.

“Dahana sebagai anggota Holding DEFEND ID, akan berfokus pada bahan peledak dan terkait dengan bahan berenergi tinggi seperti propelan dan bom,” akunya kepada Rakyat Merdeka.

Saat ini, seluruh BUMN masih dalam tahap konsolidasi. Namun pada intinya, sambung dia, akan ada sinergitas untuk project yang saling berhubungan

“Sehingga bisa lebih efektif dalam mencapai target dari pemegang saham,” tandasnya.

Menyoal ini, Peneliti Militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, upaya holding pertahanan menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memperkuat sisi keamanan dalam negeri. Salah satunya ter­kait alutsista (alat utama sistem senjata) nasional.

“Kehadiran holding pertahanan bisa menjadi jawaban atas masalah kebutuhan peralatan pertahanan keamanan di Indonesia, yang selama ini harus impor,” tutur Khairul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Salah satunya adalah masalah bahan baku rompi anti peluru, yakni kevlar dan vestran, yang masih impor dari Belanda dan Korea Selatan dengan harga mahal.

“Harapannya, dengan adanya holding maka pengembangan industri pertahanan dalam negeri bukan omong kosong,” tegasnya. [IMA/DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories